Dalil Pancasila (Part 1)

Para founding father melihat bangsa ini yang majemuk, akhirnya menyusun sesuatu yang mampu mewadahi sekian perbedaan, baik suku, ideologi, budaya, dan bahasa, agar bisa saling bahu-membahu hidup berdampingan dengan rukun dan nyaman

Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, tidak diragukan lagi falsafah yang ada di dalamnya. Isinya adalah nilai-nilai luhur yang digali, dan dipilih dari sekian banyak nilai luhur yang berada dalam ragam kebudayaan Indonesia yang disepakati oleh seluruh komponen masyarakat ketika Negara ini didirikan.

Para founding father melihat bangsa ini yang majemuk, akhirnya menyusun sesuatu yang mampu mewadahi sekian perbedaan, baik suku, ideologi, budaya, dan bahasa, agar bisa saling bahu-membahu hidup berdampingan dengan rukun dan nyaman.

KH Ahmad Siddiq membuat statement yang cukup tegas:

“Bentuk Negara kesatuan Republik Indonesia yang sekarang ini adalah bentuk final dari seluruh usaha penduduk Nusantara, termasuk umat Islam. Umat Islam Indonesia adalah golongan mayoritas, karena 90 persennya beragama Islam. Karena itu, semua persoalan rakyat Indonesia adalah identik dengan persoalan umat Islam Indonesia. Dalam pada itu, Pancasila sebagai ideologi Negara dibenarkan oleh Islam”. (Tinta, SIMBIOSIS NEGARA DAN AGAMA, [Purna Siswa Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo : 2007, Kediri] hlm. 137)

Apakah para founding father bangsa ini tidak mempunyai dasar dalam menyusun pancasila? Tentu tidak. Beliau-beliau pasti mempunyai dasar yang kuat, dasar agama maupun budaya.

Jikalau kita amati, kondisi Indonesia mirip dengan kondisi saat Nabi Muhammad SAW berada di Madinah, yang mana masyarakatnya majemuk. Nabi Saw di Madinah berhasil menyatukan masyakat Madinah dengan membuat kesepakatan bersama, perjanjian bersama, guna hidup berdampingan dengan damai. Kesepakatan ini dituangkan dalam sebuah kontrak sosial yang kemudian disebut sebagai Piagam Madinah. Ada 47 point kesepakatan dalam piagam tersebut, namun Prof. Dr. Nourouzaman Shiddiqi, M.A. membuat garis besar dari kesepakatan tersebut.

Pertama, masyarakat pendukung piagam ini adalah masyarakat yang majemuk, baik ditinjau dari asal keturunan, budaya, maupun agama. Dan tali pengikat persatuannya adalah politik dalam rangka mencapai cita-cita bersama.

Kedua, masyarakat yang semula terpecah-pecah dikelompokkan dalam dua kategori: muslim dan non muslim. Tali pengikat sesama muslim adalah persaudaraan seagama.

Ketiga, Negara mengakui dan melindungi kebebasan menjalankan ibadah keagamaan bagi orang-orang nonmuslim.

Keempat, semua orang memiliki kedudukan yang sama sebagai anggota masyarakat, wajib saling membantu dan tidak boleh seorang pun diperlakukan secara buruk.

Kelima, semua warga Negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap Negara.

Keenam, setiap warga Negara mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum.

Ketujuh, hukum adat dengan berpedoman pada keadilan dan kebenaran tetap diberlakukan.

Kedelapan, hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Kesembilan, perdamaian adalah tujuan utama.

Kesepuluh, hak semua orang harus dihormati.

Kesebelas, pengakuan atas hak individu.

(Tinta, SIMBIOSIS NEGARA DAN AGAMA, [Purna Siswa Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo : 2007, Kediri] hlm. 92)

Piagam Madinah ini juga merupakan dasar yang menjadi rujukan para ulama dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana sering dijelaskan oleh para Kyai-kyai dari kalangan NU.

Selain dasar yang diambil dari Piagam Madinah, berikut juga ada beberapa dalil yang secara substansial terkandung dalam pancasila.

Sila Pertama “Ketuhanan yang Maha Esa“
Fitrah manusia sejak lahir meyakini adanya kekuatan trasedental yang mengatur dirinya lahir dan hidup di dunia ini, yang mengatur alam ini. Karena manusia tidak bisa menentukan kapan ia harus lahir, di mana ia lahir, dari latar belakang orang tua seperti apa, lahir sebagai laki-laki atau perempuan. Manusia sama sekali tidak bisa menentukan semua itu. Ini adalah bukti secara rasional bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan olah Dzat yang Maha Kuasa yang disebut Tuhan.

Tuhan pasti Esa, karena jika Tuhan terbilang (lebih dari satu) yang terjadi adalah kerusakan. Sebab kemungkinan kehendak Tuhan akan berbeda beda dan saling ingin menentukan bentuk alam, tentu ini tidak mungkin. Maka sudah jelas secara rasional bahwa Tuhan itu esa. Mengenai dalil yang menjelaskan ke-esa-an Tuhan adalah ayat berikut.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (الإخلاص: 1)

Artinya : ‘Katakanlah (Muhamad SAW), “Dialah Alloh, yang Maha Esa”.

Redaksi ayat ini menggunakan kata أحد , menurut Imam Fakhruroziy, guna menunjukkan bahwa Tuhan esa dalam sifat maupun dzat. Suatu kesatuan yang tidak terbentuk dari beberapa elemen. Penggunaan kata أحد sebagai sebuah sifat pun khusus hanya untuk Alloh Swt.

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan latar belakang turunnya ayat tersebut. Salah satunya, Riwayat yang dikutip Imam Roziy menukil dari Ad-Dhohak, bahwa orang-orang musyrik memerintahkan Amir bin Tufail untuk menemui Nabi SAW. Mereka berkata ‘kamu memecah berhala kami, mengatai Tuhan kami, meninggalkan agama leluhur kami. Jika kamu fakir, akan kami beri kekayaan, jika gila akan kami obati, jika kepingin perempuan akan kami nikahkan’. Nabi menjawab : ‘Aku bukan orang yang fakir, gila, dan juga tidak kepingin wanita. Aku adalah utusan Alloh yang mengajak kalian semua, dari menyembah berhala ke menyembah-Nya’. Mereka mengutus Tufail kedua kalinya, dan berkata: “Katakanlah, jelaskan jenis Tuhan sesembahanmu, apakah dari emas atau dari perak?”. Setelah ini turunlah surat al-ikhlas.

Selain surat al-Ikhlas, ayat yang menjelaskan ke-esa-an Allah Swt adalah:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (البقرة: 163- 164)

Artinya: ‘Dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, yang Maha pengasih, Maha Penyayang. Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Alloh dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkanNya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angina dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang mengerti’. (QS. A-Baqarah : 163 – 164)

Imam Baghowiy menjelaskan bahwa ayat ini masih ada korelasi dengan surat al-ikhlas.

Dalam ayat ini -masih menurut beliau-menjelaskan keesaan Tuhan sekaligus buktinya, berupa penciptaan langit, bumi, adanya kondisi siang malam, adanya hujan, angin. Semua itu berjalan secara teratur, tentu karena ada yang menciptakan, siapa lagi kalau bukan Allah Swt.

Selanjutnya, menguatkan hujjah tentang ke-esa-an-Nya, Allah Swt membuat analogi yang logis di dalam ayat:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (الأنبياء: 22)

Artinya: “Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan selain Alloh, tentu keduanya telah binasa. Maha Suci Alloh yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan’. (QS. Al-Anbiya’ : 22)

Secara eksplisit, ayat ini menyampaikan seandainya di langit dan bumi ada dua Tuhan, niscaya langit dan bumi akan hancur, karena hak untuk mengatur diperebutkan. Hal ini jelas imposibel, sebab kenyataannya langit dan bumi ini bisa berjalan dengan teratur. Seperti hal ini Imam Qurtubiy menafsiri ayat tersebut.

Sila pertama didasarkan pada ke-esa-an Allah Swt yang menjadi pondasi utama sila-sila yang lain adalah bukti bahwa para founding father sangat mengedepankan nilai religious dalam membangun negara ini agar menjadi baldatun thoyibatun wa robbun ghofur.

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *