ijazah kitab

Ijazah Kitab Waraqat bersama Syeikh Muhammad Su’ud Al-Yamani

Jum’at siang (07/02), Dewan Eksekutif Mahasantri (DEMA) Ma’had Aly Al-Iman menyelenggarakan acara Daurah Ilmiyah & Ijazah Kitab Waraqat , atas inisiatif salah satu dosen Ma’had Aly yakni KH. Rosyadi Yusuf.

ijazah kitab

Tidak seperti biasanya, pemateri yang didatangkan kali ini adalah salah satu ulama dari Yaman, yakni Syeikh Muhammad Su’ud Al-Jidhi Al-Mahri Al-Yamani. Acara yang juga dihadiri dewan asatidz pesantren & dosen Ma’had Aly ini diawali dengan pembukan ummul kitab oleh pembawa acara dan sambutan-sambutan. Sambutan pertama oleh Mujahid Faisal Amri, ketua DEMA Ma’had Aly. Lalu disambung sambutan kedua oleh pengasuh Pondok Pesantren Al Iman, yang kali ini diwakili oleh Habib M. Faqih Muqaddam Ba’abud.

Dalam sambutannya, Habib Faqih menyampaikan bahwa peserta yang hadir kali ini dikatakan cukup beruntung karena bisa  langsung menimba ilmu dan ber-tabarukan ijazah kitab Waraqat kepada ulama yang kapasitas keilmuan sekaligus transmisi keilmuan (sanad) nya tak perlu lagi diragukan. Beliau pun kemudian dawuh, “kita ini jadi seperti ini bukan semata karena ilmu, tapi unsur barokah mendominasi. Nek ra barokah ra iso!”.

Seusai sambutan-sambutan tersebut, pembawa acara kemudian memberikan kendali acara sepenuhnya kepada Ustadz Jalaluddin Suyuthi selaku moderator. Ustadz Jalal yang juga merupakan alumnus Yaman, pada kesempatan itu juga bertugas sebagai pengalih bahasa. Beliau mengawali dauroh & ijazah tersebut dengan membacakan profil Syaikh Su’ud. Dikatakan bahwa saat menuntut ilmu, Syaikh Su’ud merupakan santri yang begitu zuhud dan selalu menyibukkan diri bermuthala’ah, membaca kitab-kitab dan kegiatan keilmuan lainnya. Selama lebih dari 10 tahun beliau menimba ilmu di Ribath, kemudian pindah ke kota Singkit selama 8 tahun untuk memperdalam keilmuan di bidang Ushul Fiqh.

Baca Juga : Ngopi Sebagai Metode mencerdaskan

Kapasitas dan kaliber keilmuan beliau begitu terlihat saat mulai menyampaikan materi sebelum ijazah tabarukiah kitab Waraqat. Beliau begitu lancar & lugas menyampaikan kutipan-kutipan pendapat ulama yang ada pada turats klasik. Dalam dauroh tersebut, Syeikh Su’ud terlebih dahulu menyampaikan betapa istimewanya ilmu. Sehingga menurut beliau, ilmu dapat dikatakan sebagai أنفع الإنفاك و أفضل الإنفاك yakni hal paling bermanfaat dan paling utama ketika didermakan. Kemuliaan tentang ilmu ini beliau dasarkan (diantaranya) pada sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah,

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالاَهُ أَوْ عَالِمًا وَمُتَعَلِّمًا

“Dunia dan seisinya dilaknat, kecuali dzikir kepada Allah Swt., orang ‘alim, dan pencari ilmu.”

Maka menurut beliau santri sebagai طالب العلم sudah berada pada track atau jalur yang tepat dalam naungan rahmat sekaligus dijauhkan dari laknat. Syaikh Su’ud juga dawuh bahwa العلم لا ينال بالكسل, ilmu tidak akan diperoleh dengan kemalasan. Sebab ilmu begitu luas tanpa ujung. Maka santri diharapkan menimba ilmu pada fan-fan terbaiknya, seperti ilmu Nahwu, Sharaf, Tafsir, Fiqh, Hadist dst. Termasuk diantaranya Ilmu Ushul Fiqh. Kendati demikian ilmu ushul itu justru أصعب العلوم karena untuk dapat menguasainya, paling tidak, dibutuhkan perangkat berupa 12 fan ilmu pendukung.

Selepas pemaparan mengenai keutamaan ilmu dan pemahaman orientasi pentingnya ilmu ushul fiqh, acara kemudian dilanjutkan dengan ijazah tabarukiah kitab Waraqat dan diakhiri dengan do’a oleh beliau.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *