Kekuatan Ilmu Pengetahuan mampu untuk Mengeksplor Isi Alam Semesta

Alam semesta yang sangat luas ini merupakan bukti keagungan Allah Swt yang termanefestasi secara fisik, serta bukti sifat Rahman Rahim-Nya, bukti Hayyu Qayyum-Nya. Manusia sebagai salah satu makhluk-Nya yang diberi anugerah hati dan akal bertanya-tanya, mampukah ia mengeksplor semua isi alam semesta ini, atau minimal mengeksplor sebagian banyak ciptaan-Nya yang berada di luar sana, di luar planet Bumi?

Surat Ar-Rahman: 33 memberi rambu-rambu akan potensi mengeksplor alam semesta ini. Allah swt berfirman:


يمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطارِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطانٍ

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS. ar-Rahman: 33)


Kelompok mainstrem para mufassir, seperti Imam Qurthubiy (671 H), Imam Baidlowiy (685 H), Ibnu Jauziy (597 H) bahkan para mufassir kontemporer seperti Syekh Wahbah az-Zuhailiy (1436 H), Syekh Mutawalli Sya’rowi (1418 H) dalam menafsiri ayat ini memiliki banyak kesamaan, yang intinya ada beberapa poin:

Pertama: kelompok manusia dan jin tidak ada yang mampu untuk lari dari takdir qada-qadar Allah Swt;

Kedua: tidak ada yang mampu mengetahui informasi yang ada di langit;

Ketiga: tidak ada yang mampu menembus lapisan-lapisan langit dan bumi;

Keempat: tidak ada yang bisa lari dari kematian;

Kelima: -ini merupakan poin terpenting dari beberapa pendapat di atas- tujuan ayat ini adalah sebagai ta’jiz (menunjukkan bahwa manusia dan jin lemah) sehingga tidak mampu melakukan semua hal tadi. Beberapa interpretasi ini biasa kita temukan di tafsir-tafsir para ulama.

Tujuan ayat ini adalah sebagai ta’jiz (menunjukan bahwa manusia dan jin adalah makhluk yang lemah) sehingga tidak mampu melakukan semua hal tersebut.


Yang menarik justru ada mufassir lain yang memiliki interpretasi berbeda dengan kelompok mainstrem, benar-benar anti mainstrem, beliau adalah Syekh Abdul Karim Yunus (1390 H). Beliau dalam kitab tafsirnya Tafsir al-Qur’aniy li al-Qur’an, menyampaikan tafsiran ayat tersebut sebagai berikut:


ففى الآية الكريمة إغراء وتحريض لعالمى الإنس والجن، على التسابق فى ارتياد هذا الكون، والنفوذ من أقطار السموات والأرض، والغوص فى أعماقهما، ولكن ذلك لا يكون إلا لمن ملك بين يديه القوة التي تمكن له من اخترق أطباق الأرض، وأجواء السماء، وتلك القوة هى التي أشارت إليها الآية الكريمة بكلمة «سلطان» .. والسلطان الذي يمنح الإنسان تلك القوة، هو العلم.

Artinya: “Didalam ayat yang mulia ini terdapat sebuah motivasi bagi manusia dan jin yang berilmu, untuk berlomba-lomba dalam mencari informasi mengenai alam semesta ini, dan menembus lapisan langit dan bumi serta masuk ke dalamnya. Akan tetapi, semua itu tidak akan terwujud kecuali bagi orang yang memiliki kekuatan yang mampu untuk menembus lapisan-lapisan langit dan bumi. Kekuatan tersebut disampaikan secara tersirat pada ayat tersebut di lafadz ‘sulthon’, Adapun ‘sulthon‘ yang memberi manusia kekuatan adalah ilmu pengetahuan.”

(Syekh Abdul Karim Yunus, Tafsir al-Qur’aniy li al-Qur’an, [Maktabah Syamilah] juz 7, hlm. 226)

Jadi, meskipun mayoritas ulama memiliki variasi interpretasi yang secara garis besar sama, namun beliau Syekh Yunus memiliki pandangan yang berbeda.

Interpretasi ayat tersebut menurut beliau adalah bahwa alam semesta ini bisa dieksplor secara maksimal, bahkan sampai ke dalam lapisan-lapisan bumi yang terdalam, dan benda langit yang sangat banyak di luar angkasa, hanya dengan ilmu pengetahuan (sains).

Ilmu pengetahuan yang dimaksud di sini tentunya ilmu pengetahuan (sains) yang membahas tentang alam semesta seperti ilmu geofisika, geologi, meteorologi, astronomi dsb.

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *