Kenapa Kemaksiatan di Bulan Ramadhan tetap Merajalela ?

Ramadhan adalah bulan istimewa bagi umat Islam. Terdapat banyak keberkahan dan ampunan di dalamnya. Dalam bulan ini para syaitan akan di belenggu satu bulan penuh, oleh karenanya umat islam menjadikan bulan ini menjadi suatu momen untuk beribadah, mendekatkan diri pada Allah swt. dan menggapai pahala yang terbuka lebar bagi siapapun. Kesempatan baik ini tidak ditemukan di bulan lainnya. Namun, kenapa dibulan yang suci ini kemaksiatan tetap saja ada.

Bahkan dalam Ramadhan kali ini 2020, terlihat semakin parah. Mungkin efek pembebasan napi karena alasan untuk menekan penyebaran COVID-19 yang menurut penulis alasan ini kurang logis serta banyaknya penganguran karena di PHK juga efek dari Wabah COVID-19 ini, akhirnya pemasukan tidak ada, sedangakan pengeluaran tetap ada, akhirnya hal ini dijadikan alasan untuk terpaksa melakukan kejahatan demi memenuhi kebutuhana hidup dirinya dan keluaraganya, sudah banyak kabar tentang hal ini.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami tulisakan jawaban Imam al-Qurtubi yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya [1], berikut ini adalah jawaban beliau:

“Setelah aku mentarjih kemungkinan (hamlu) Hadist atas dhahirnya hadits. Bila ditanyakan bagaimana pendapat tentang masih banyaknya maksiat yang terjadi dibulan ramadhan, padahal ketika syaitan diikat, maka seharusnya tidak akan ada maksiat yang terjadi dibulan ramadhan. Jawabannya adalah:

Pertama, bahawasanya dibulan ramadhan kemaksiatan terminimalisir dilakukan oleh orang yang berpuasa yang benar-benar berpuasa, artinya puasanya orang yang menjaga syarat dan adabnya puasa.

Kedua, yang diikat hanya sebagian syaitan yang membangkang saja, bukan seluruh syaitan.

Ketiga, yang dimaksud yaitu semakin sedikitnya maksiat yang terjadi dibulan ramadhan, bila pun terjadi, itu jumlahnya akan lebih sedikit dibandingkan kejahatan yang terjadi diselain bulan ramadhan.

Dengan demikian ditalinya syaitan bukan berarti tidak adanya kemaksiatan sama sekali, karena kejahatan selain disebabkan oleh selain syaitan, kemaksiatan juga dapat disebabkan oleh hal lain, semisal disebabkan nafsu yang jelek, kebiasan yang tidak baik dan syaitan berbentuk/bermuka manusia (sayatin Insiyah).”

Ulama lain juga berpendapat bahwa ‘ditalinya syaitan’ merupakan bentuk isyarat bahwa tidak adanya alasan bagi mukalaf.

Sehingga seakan-akan dikatakan kepadanya “syaitan sudah dicegah untuk menggodamu, jangan lagi syaitan dijadikan alasan untuk kamu tidak ta’at dan melakukan maksiat”.

Jadi kesimpulannya adalah bukan hanya syaitan yang menjadi alasan kenapa kemaksiatan terjadi, sebenarnya kitalah yang lebih berperan dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, perlu kita tingkatkan lagi ketaqwaan kita, dengan menahan hawa nafsu kita dan berserah diri pada Allah swt.

[1] Fathul Bari, juz:4, hal. 114, Maktabah Android.

Wallahu a’lamu bishshowab

2 komentar untuk “Kenapa Kemaksiatan di Bulan Ramadhan tetap Merajalela ?”

  1. Avatar

    Tulisannya nanggung. Masih banyak yg perlu diperbaiki dari sisi penulisan dan kepaduan antarparagraf. Uraikan saja jawaban dari Imam Qurtuby agar sekalian layak disebut artikel.
    Selain itu, referensi tidak perlu ditulis terlalu panjang agar terlihat lebih formal dan ilmiah. 😁

    Wis, itu saja masukannya 😉

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *