Keunggulan Belajar kepada Guru Daripada Hanya Lewat Buku

Dalam me-Muthola’ahi pelajaran, terkadang seorang santri mendapati sebuah kesulitan dalam memahami pengertian suatu lafal, makna dan beberapa kendala yang ia temui dalam proses pe-muthola’ah-an tersebut. Hal tersebut karena, dalam proses belajar dibutuhkan adanya seorang guru yang membantu ia dalam memahami pelajaran.

Ngaji Romadhon 1441 H bersama Ustadz Hasan Agil Ba’abud

Di dalam kitab “Sirâjut Thâlibîn” karangan seorang ulama besar Nusantara asal Jampes, Kediri (Jawa Timur), Syekh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî al-Jâwî (lebih dikenal dengan nama Syekh Ihsan Jampes, w. 1952 M), yang merupakan komentar dan penjelasan (syarh) atas kitab tasawuf “Minhâjul ‘Âbidîn” karangan Hujjah al-Islâm al-Imâm al-Ghazzâlî (w. 1111 M), juz 1 halaman 44 disebutkan bahwa Ulama telah sepakat atas keutamaan belajar dengan mendengar keterangan dari para Maha Guru daripada belajar secara otodidak dengan perantara kitab, meskipun ada ulama yang berpendapat lain.

Keutamaan tersebut ditinjau dari beberapa faktor, antara lain;

1). Datangnya pemahaman ilmu dari guru yang mempunyai nasab jelas. Berbeda dengan murid yang tidak punya garis nasab. Sebab, guru yang mempunyai garis nasab, keterangannya akan lebih mudah di pahami. Sedangkan murid yang tidak mempunyai jalur nasab senantiasa bersama dengan benda tak bernyawa, berupa kitab yang tak bisa diajak bercakap-cakap.

Baca Juga : Kenapa Kemaksiatan Di Bulan Ramadhan Tetap Merajalela?

2). Ketika pelajar kesulitan memahami pengertian suatu lafal, maka akan diarahkan oleh guru kepada lafal lain yang lebih mudah dipahami.

Kelebihan ini tidak bisa didapatkan dengan membaca sendiri. Dengan demikian, telah jelas bahwa seorang guru lebih efektif dalam penyampaian ilmu.

3). Kendala-kendala berupa kesalahan dan pemutarbalikan pemahaman -baik berupa kemiripan huruf, kurangnya ketelitian, kekurangan naskah, kesimpulan pengertian yang tak semestinya, kerancauan penerimaan pemahaman bagi para pemula, ataupun penyebutan istilah-istilah yang belum dikenal dalam suatu fan ilmu- semua itu dapat dihindari dengan penjelasan seorang guru.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, ngaji dihadapan Ulama (baik dengan model sorogan maupun bandongan) itu lebih utama daripada hanya sekedar membaca sendiri dari kitab ataupun buku. (Apalagi kalau hanya dari Internet)

“Dalane suargo iku ILMU, isane entuk ilmu iku NGAJI, Ngaji seng coro Ulama’ utowo Kyai. Modern yo modern, tapi ojo lali NGAJIsenajan seminggu pisan

-K.H Maemun Zubair-

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *