Klaim ‘Liberal’

Liberal? Apa sebenarnya makna ‘Liberal’? Dan siapa orang yang bisa dikatakan sebagai ‘orang Liberal’? Liberal secara etimology mempunyai tiga arti; ‘1. tolerant of the beliefs or behavior of others,2. giving or given generously, 3.(of education) giving a wide general knowledge’[1] (‘toleransi terhadap kepercayaan atau perilaku orang lain’/‘memberi dengan sepenuh hati’/ ‘(dalam pendidikan) memberikan pengetahuan umum yang luas’).

Sedangkan secara terminology, yaitu suatu filsafat politis yang muncul dalam lingkup kapitalisme yang didasarkan pada pemikiran ‘Locke’, yang intinya suatu gerakan pada abad ke 17-18 di Perancis yang menuntut adanya persaingan bebas, pasar bebas, dan mewujudkan system kerakyatan. Ada juga yang mendefinisikan sebagai ‘teori yang mempunyai prinsip kebebasan adalah dasar kemajuan’. Oleh karena itu sangat menentang kediktatoran, dalam masalah keduniaan maupun masalah keagamaan [2].

Baca juga: Aku Bukan Mujtahid

Terlepas dari definisi yang mbulet-mbulet di atas, intinya Liberal adalah pemikiran yang berpijak pada prinsip kebebasan. Sedangkan orangnya dinamakan Liberalis. Lantas, ketika kita melihat atau mendengar ada orang yang seakan punya pemikiran bebas terutama dalam masalah keagamaan, apakah boleh kita langsung mengklaim dia sebagai seorang Liberalis?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, coba kita mengamati dahulu pernyataan Prof. Dr. Rifa’at Al-Said yang pernah menulis tentang daftar nama beserta pemikiran orang-orang cendekiawam muslim liberal di Mesir, dalam muqodimah kitabnya, ‘Amaim Libraliyyah fi Sahahil ‘Aqli wal Hurriyah, ketika diterjemahkan kurang lebih berikut, ‘Masalah ini tidaklah mudah, justru malah jauh lebih rumit dari seluruh aliran-aliran yang ada. Lebiralisme adalah sikap, oleh karena itu sebagai contoh Anda ketika mengarah kepada para tokoh agama, Anda akan menemukan pada diri mereka sejumlah hal beragam. Boleh jadi Anda menemukan pada salah satu tokoh di antara mereka sikap liberalis dan menemukan hal yang berbeda pada tokoh yang lainnya. Supaya Anda tidak mengklaim salah terhadap seseorang, maka Anda harus membaca semaksimal mungkin supaya Anda tidak lupa, mengabaikan atau mengenyampingkan.’[3]

Dalam muqodimah kitab ini, beliau memberi warning agar membaca dengan penuh penghayatan supaya benar-benar paham dan tidak mudah mengklaim orang lain sebagai orang liberal. Beliau berarti secara tidak langsung menyampaikan kekhawatirannya jangan sampai kitab yang dikarangnya akan menjadi senjata untuk mengklaim orang lain sebagai Liberalis. Beliau yang sudah menguasai tentang hal ini saja sangat hati-hati dalam mengklaim seseorang dalam kategori liberal, apalagi yang hanya mendengar dari orang lain atau menerima informasi dari internet belaka yang menyampaikan ‘si A, si B,atau si C adalah Liberalis.’ Apakah lantas kita akan percaya begitu saja? Mungkin ada yang berargumen dalam mengklaim ‘si A adalah liberalis’ karena masuk organisasi liberal. Sekali lagi, apakah kita akan percaya begitu saja?

Coba kita renungkan, jika ada orang masuk partai Islam, apakah secara otomatis ia menjadi Islam, atau jika ada orang yang masuk organisasi Yahudi, lantas apakah otomatis menjadi Yahudi? Tentu ‘tidak’ kan. Orang yang diklaim sebagai muslim tentu kan yang jelas membaca kalimat sahadat, bukan berdasarkan organisasi atau partainya. Begitu juga Liberalis, kalau ingin tahu dengan objektif harus mengenal orangnya secara langsung, tingkah lakunya, akhlaknya, gaya hidupnya, serta memahami tulisan-tulisannya. Jangan hanya berdasarkan ‘katanya’ atau hanya informasi dari internet/medsos.

Baca juga: Imsak Mengajarkan Kesunahan

Seorang cendekiawan muslim bahkan seorang Kiyai yang pernah diklaim sebagai Liberalis adalah KH Abdurrohman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur. Tidak jelas alasan kenapa beliau diklaim sebagai Liberalis, apakah karena pendapatnya yang terkadang kontroversial? Kalau ini yang jadi alasannya, coba sejenak kita membuka kembali riwayat ulama klasik seperti Imam Malik yang mempunyai pendapat bahwa anjing suci[4], atau Imam Hanafiy yang berpendapat nikah tidak perlu ada wali [5], jika kedua pendapat tersebut disampaikan di Indonesia yang mayoritas Islam madzhab Syafi’i, lantas apakah kedua Imam tadi boleh diklaim liberalis? Tentu ‘tidak’ kan. Atau mungkin Gus Dur dicap liberalis karena merujuk pada tulisan Greg Barton berjudul Liberalisme : Dasar-Dasar pemikiran Abdurrahman Wahid, yang menyebutkan bahwa dasar pemikiran Gus Dur adalah liberalisme? .

Buku ini dikritisi oleh Nur Kholik Ridlwan, pandangan bahwa ‘dasar pemikiran Gus Dur ialah Liberalisme’ merupakan kesalahan fatal. Alasannya, pertama yang diamati Greg Barton ialah tulisan-tulisan Gus Dur di era tahun 1970-an saja, tanpa mampertimbangkan tulisan-tulisan setelah tahun itu. Kedua, Greg Barton hanya melihat dari kaca mata liberalisme tanpa mengonfirmasi pandangan-pandangan Gus Dur tentang liberalisme dalam tulisannya yang lain. Ketiga, Gus Dur lahir dan besar dari lingkungan pesantren yang sangat teguh memegang ajaran Islam ahlis sunnah wal jama’ah, serta masih menjalankan rutinitas pesantren seperti ziarah, sowan kiyai dll[6]. Oleh sebab itu mengklaim Gus Dur sebagai islam liberal adalah kesalahan fatal.

Kita harus hati-hati dalam mengklaim orang lain dengan lebel Liberalis,apalagi terhadap seorang muslim bahkan mungkin kiyai, khawatirnya masuk dalam الشَّتْمُ بِالْمُسْلِم (mencaci maki orang muslim). Di kitab Syarah Sulam Taufiq الشَّتْمُ بِالْمُسْلِم didefinisikan sebagai وَصْفُ الْغَيْرِ بِمَا فِيْهِ نَقْصٌ وَاِزْدِرَاءٌ[7] ‘menyifati orang lain dengan sesuatu yang ada unsur merendahkan dan meremehkan’. Dan jelas termasuk kategori ma’siyat lisan.

Wallohu a’lamu bishowab


[1] Oxford Learner’s Pocket Dictionary, Univercity Press, hlm. 254

[2] Prof. Dr. Rifa’at al-Said,’Amaim Libraliyyah fi Sahahil ‘Aqli wal Hurriyyah, terj. muqodimah

[3] Ibid.

[4] Syekh Wahbah Az-Zuhaliy, Al-Fiqhu Al-Islamiy, Maktabah syamilah, juz hlm. 288

[5] Ibid. juz 9 hlm. 76

[6] Nur Kholik Ridlwan, Negara Bukan-Bukan (Yogyakarta: IRCiSoD , 2018) hlm. 147 – 159

[7] Syekh Nawawi Al-Bantani, Syarah Sulam Taufiq hlm. 69

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *