“Metodologi Tafsir Muqarin”

Kuliah Umum “Metodologi Tafsir Muqarin”

(31/1) Ma’had Aly Al-Iman Bulus Menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema “Metodologi Tafsir Muqarin” oleh KH. Jalaludin Suyuthi.

“Metodologi Tafsir Muqarin”


Acara ini dilaksanakan di ruang Auditorium Ma’had Aly Al-Iman Bulus lt.2 yang dihadiri oleh semua mahasantri dari semester 2-4 yang dimoderatori oleh Saudara M. Faqih.

Secara umum para mufassir meyuguhkan tafsir dengan 4 metode penyajian; pertama, dengan metode tafsir Tahliliy (analisi). Kedua, dengan metode tafsir Ijmaliy (global). Ketiga, dengan metode tafsir Muqarin (komparatif). Dan yang terakhir dengan metode Maudu’iy (tematik). Dalam kesempatan kuliah umum kali ini beliau menyapaikan bahwa secara umum Metodologi Tafsir Muqorin mencakup tiga aspek; pertama, membandingkan teks (nash) ayat-ayat al-Qur’an dengan ayat lain yang mempunyai perbedaan atau persamaan dan kemiripan redaksi. Kedua, membandingkan ayat al-Qur’an dengan Hadits Nabi SAW. dan yang terakhir membandingkan penafsiran mufassir dengan mufasir yang lain.

Baca Juga : Ijazah Kitab Waraqat bersama Syeikh Muhammad Su’ud Al-Yamani


Adapun langkah yang harus ditempuh dengan metode ini sekurang-kurangnya berupa; pertama, mengidentifikasi dan menginventarisasi ayat-ayat yang memiliki kemiripan. Kedua, mengomparasikan ayat-ayat tersebut dengan menelusuri makna dan maksud ayat dari sumber yang terpercaya. Ketiga, menganalisi perbedaan ayat yang terkandung dalam berbagai redaksi berbeda. Keempat, membandingkan antara berbagai pendapat mufassir tentang ayat yang dijadikan objek kajian.

Adapun tujuan pokok dari metodologi ini ialah mengetahui I’jazul Qur’an, menghilangkan benturan antara ayat dengan ayat yang lain atau bahkan ayat dengan hadits, karena sagatlah mustahail antara satu ayat dengan ayat yang lain dan antara ayat dengan hadits terdapat benturan dan yang terakhir dapat mengetahui berbagai corak penafsiran para Mufassir.

Terakhir beliau menghibau pada semua mahasantri untuh lebih giat dalam mempraktekkan metodologi tafsir ini agar ketika kita dihadapkan suatu ayat yang secara lahiriyah bertentangan dengan ayat yang lain bisa memiliki gambaran sumbernya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *