Malu Bertanya, Sesat di Jalan

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ‘bertanya’ berarti meminta keterangan (penjelasan). Bertanya merupakan metode untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Bertanya adalah salahsatu warisan dalam literatur agama Islam yang perlu dijaga dan dilestarikan eksistensinya. Dahulu, para sahabat selalu bertanya kepada Rasulullah terhadap sesuatu yang belum diketahui mereka. Bertanya juga berperan besar dalam mengembangkan arus pemikiran santri. Bertanya dapat menghapus kebodohan serta memperbaiki pemahaman dari hal yang belum diketahui.

من لم يكن يعلم ذا فليسأل

“Barang siapa yang belum tau, hendaknya bertanya”

Dari nadzom tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwasannya jika kita belum paham atau belum mengetahui akan sesuatu, maka kita dituntut untuk bertanya. Bahkan, bertanya hukumnya menjadi wajib ketika dalam urusan agama.

Lalu, kepada siapakah kita seharusnya bertanya ?

Bertanyalah kepada seseorang yang menguasai ilmu ( اهل العلم ) dalam bidang yang dibutuhkan. Sebagaimana Allah swt. berfirman dalam Surah an-Nahl: 43

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43)

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”

Imam Fakhrurodin ar-Razy -pakar tafsir- dalam kitab tafsirnya menafsirkan lafal الذكر pada ayat tersebut dengan اي العلم yang berarti ‘ilmu’.

Selain ayat diatas, dalil yang menunjukkan tuntutan untuk bertanya adalah hadits Rasulullah SAW yang memerintahkan para sahabat untuk bertanya kepada beliau terhadap suatu hal yang belum mereka ketahui atau belum dapat dipaham.

540ثُمَّ قَالَ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَسْأَلَ عَنْ شَيْءٍ فَلْيَسْأَلْ، فَلاَ تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَخْبَرْتُكُمْ، مَا دُمْتُ فِي مَقَامِي هَذَا»
[البخاري، صحيح البخاري، ١١٣/١]

Kemudian beliau bersabda: ”Barangsiapa yang senang untuk bertanya, maka bertanyalah. Tidaklah kalian bertanya kepadaku, melainkan akan aku jelaskan jawabannya kepada kalian, selama aku masih menyanggupinya”. (Shohih Bukhori, no 540 )

Lalu, bagaimana ketika kita tidak dapat menjumpai orang yang alim ?

Berkelana mencari ilmu, itu adalah solusi terbaik. Untuk zaman sekarang solusinya banyak, seperti sekolah, mondok di pesantren, privat dsb.

Syekh Ibn Ruslan dalam nadzom az-Zubad, mengatakan,

من لم يجد معلما فليرحل

“Barang siapa yang tidak menemukan guru, maka berkelanalah dalam mencarinya”.

Dalam dunia pengembaraan ilmu, kita dapat mengambil contoh sebagaimana Nabiyullah Musa As berkelana menuju Nabiyullah Khidzir untuk mendapatkan ilmu hikmah darinya. Pun juga sepertihalnya para ahli hadits yang rela berkelana hanya untuk mencari keshohihan satu hadits, sebagaimana Jabir Ibn Abdullah melakukan perjalanan selama satu bulan untuk menemui sang guru Abdullah Ibn Anas Ra.

Dalam dunia pendidikan pesantren, tanya-jawab merupakan sebuah hal yang sangat vital dan metode paling efektif dalam interaksi antara murid dengan guru.

Dimana seorang guru memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk berani mengajukan sebuah pertanyaan. Disinilah manfaat pertanyaan tersebut, guru dapat mengukur tingkat pemahaman murid-muridnya dan sang murid pun akan mendapat pengetahuan dari jawaban atas pertanyaan tersebut dari guru.

(Ghoyah al-Bayan Syarh Zubad Ibn Ruslan, hal. 12, dengan sedikit tambahan)

Bertanya adalah kuncinya ilmu

Kuncinya ilmu adalah bertanya. Orang yang sering bertanya tentang ilmu, maka ia akan lebih banyak mendapatkan ilmu dibandingkan dengan orang yang jarang bertanya, atau bahkan tidak mau bertanya sama sekali. Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad berkata :

والسؤال مفتاح يتوصل به إلى ما في الصدور من معاني العلوم وأسرار الغيوب

“Bertanya adalah sebuah kunci yang bisa menyampaikan terhadap apa yang ada di dalam hati dari makna ilmu dan rahasia yang tersimpan”.

Seorang yang berilmu, akan menyampaikan ilmu-ilmu yang tersimpan di dalam hatinya ketika ada orang yang menanyakan tentang perkara yang berkaitan dengan ilmu tersebut. Sehingga apabila tidak ada orang yang bertanya kepadanya, maka rahasia ilmu dan intisari ilmu tersebut tidak akan keluar dari sarangnya, yaitu hatinya para Ulama’.

Seseorang tidak akan bisa sampai kedalam rumah dan mengetahui isi rumah tersebut, terkecuali apabila ia membuka pintu rumah tersebut dan kemudian memasukinya.

Begitu juga seseorang tidak bisa mengetahui ilmu yang berada di hatinya para Ulama’ terkecuali apabila ia membukanya dan masuk kedalamnya, dan cara membukanya adalah dengan bertanya kepada mereka.

Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad berkata :

إعلم : أن السؤال في موضع الحاجة وفي مواطن إشكال، ولطلب المزيد من العلم والإستبصار، مما جرت عليه عادة الأخيار

“Ketahuilah, sesungguhnya bertanya dalam keadaan butuh, di waktu bingung, dan karena tujuan menambah pengetahuan dan pencerahan, adalah kebiasaan orang-orang yang baik”.

(Ithaf as-Sa’il, hal. 11)

Wallahu a’lamu bishshowab

Oleh: Bagus Ahmad Mustafid (Mahasantri Ma’had Aly Al-Iman Bulus Purworejo)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *