Manakah yang Lebih Utama, antara Siang dan Malam ?

Bumi diciptakan oleh Allah Swt sebagai tempat yang layak untuk dijadikan tempat tinggal bagi manusia dan makhluk lainnya. Dengan kebesaran-Nya, Allah menciptakan bumi yang berotasi dan berputar setiap waktu yang menyebabkan silih gantinya siang dan malam. Bumi juga memutari matahari dengan rentangan dan jarak tertentu sehingga terciptalah musim-musim dalam kehidupan manusia.

Dalam banyak ayat-Nya, Allah Swt telah memaparkan adanya pergantian dan pengaturan malam dan siang. Dengan regulasi itulah, kondisi kehidupan manusia pun berjalan silih berganti. Allah swt telah menjadikan malam sebagai pakaian dan siang sebagai penghidupan. Demikianlah Sebagaimana bunyi Surat An-Naba’: 10-11;

وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا {١٠} وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا {١١}

“Dan kami jadikan malam sebagai pakaian dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”

Seorang penyair yang mengatakan dalam salah satu bait syairnya,

فَلَمَّا لَبِسْنَ اللَّيْلَ أَوْ حِينَ نَصَّبَتْ … لَهُ مِنْ خَذَا آذَانِهَا وَهْوَ جَانِحُ

“Dan manakala malam mulai menggelarkan kain penutupnya, maka seluruh semesta menjadi gelap.”

Lalu, sebenarnya manakah yang lebih utama, antara siang dan malam?

Pada siang hari, umumnya orang mencari nafkah untuk penghidupannya sehingga lebih sering melakukan komunikasi dengan pihak lain. Sedangkan pada malam hari, mereka beristirahat kemudian beribadah lebih intensif sebagai bentuk komunikasi dengan Allah Swt. Atas dasar logika seperti ini, ada ulama yang berpendapat bahwa malam lebih utama dibanding siang. Sebab, pada malam hari merupakan waktu yang paling baik untuk berkomunikasi dengan Allah (ibadah), sedangkan pada siang hari untuk mencari penghidupan.

الليل طويل ولا تقصّره بمنامك، والنهار مضيء فلا تكدّره بآثامك

“Malam itu amat panjang, jangan kau pendekkan (hanya) untuk tidurmu. Siang hari itu terang benderang, jangan kau redupkan dengan dosa-dosamu. ” (Ta’lim al-Muta’allim: 38)

Syekh Hamami Zadah -dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Yasin– memaparkan salah satu alasan mengapa malam itu lebih baik daripada siang, berikut adalah penjelasannya:

فإن قيل؛ “الليل أفضل أم النهار..؟”. الجواب؛ “اليل أفضل؛ لأنه خلق من الجنة، و النهار من النار”. لأنه ورد في الأثار؛ “أن في الجنة نورا و ظلمة، و جمع اللّهُ ظلمة الجنة، فخلق منها الليل، فلم تبق في الجنة ظلمة. وجمع الله نور جهنم، و خلق منه النهار، فلم يبق في جهنم نور، فكلها ظلمة.

Apabila ditanyakan; “Manakah yang lebih utama, malam atau siang?”. Maka jawabannya adalah, “Malam“. Hal ini karena, malam diciptakan dari surga, sedangkan siang diciptakan dari neraka”

Alasan ini berdasarkan sebuah atsar yang menyatakan bahwasannya pada awalnya, didalam surga itu ada ‘cahaya dan gelap’. Kemudian Allah Swt. mengumpulkan kegelapan tersebut, dan diciptakanlah malam darinya (dari kegelapan surga). Oleh karena itu, hal ini menjadikan tak adanya sedikit pun kegelapan di dalam surga. Kemudian Allah Swt. mengumpulkan ‘cahaya Neraka’ dan diciptakanlah siang darinya (dari cahaya neraka). Oleh karena itu, hal ini menjadikan tak adanya sedikit pun cahaya dalam neraka (adanya hanya gelap)”. (Tafsir Yasin, Syekh Hamami Zadah: 13)

Biarkan bulan menuntunmu.. Biarkan gelap memelukmu..
Lewati lembah malam panjang..
Gelap berganti terang..
Hari baru kau jelang..

Alasan lain yang mendukung alasan diatas adalah bahwa Mikraj (pendakian spiritual untuk berjumpa langsung dengan Allah) para Nabi As. dilakukan pada malam hari:

وَاخْتَلَفُوا فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ؛ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ قَالَ بَعْضُهُمْ: قُدِّمَ اللَّيْلُ عَلَى النَّهَارِ لِأَنَّ اللَّيْلَ لِخِدْمَةِ الْمَوْلَىى وَالنَّهارَ لِخِدْمَةِ الْخَلْقِ وَمَعَارِجَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمِ السَّلَامُ كَانَتْ بِاللَّيْلِ وَلِذَا قَالَ الْاِمَامُ النَّيْسَابُورِيُّ اَللَّيْلُ أَفْضَلُ مِنَ النَّهَارِ

“Para ulama berbeda pendapat mengenai siang dan malam, ‘mana yang lebih utama ?’. Sebagian dari mereka menyatakan, ‘Malam didahulukan atas siang karena malam merupakan waktu berkhidmah kepada Allah, sedangkan siang untuk mahluk-Nya, disamping itu, Mikraj para nabi juga dilakukan pada malam hari. Atas dasar ini, maka menurut Imam An-Naisaburi malam itu lebih utama dari siang.” (Tafsir Ruh al-Bayan, Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, (4): 420).

أليس من الخسران إن لياليا # تمر بلا نفع، و تحسب من عمري ؟

“Bukankah termasuk kerugian, malam-malam kita berlalu tanpa guna, padahal itu juga terhitung jatah umur kita..?”.

Walhasil, dari paparan diatas dapat kita simpulkan bahwasanya malam lebih utama daripada siang berdasarkan alasan yang telah dihidangkan. Terlebih apabila sudah memasuki diujung malam, menuju pagi yang dingin (waktu sahur). Dalam kitab Lathaiful Ma’arif, Ibnu Jauzy mengatakan bahwasanya hembusan angin pada waktu sahur merupakan makanan pokok bagi ruh. Angin yang berhembus menerpa di pagi hari ini akan menjadikan hati kian lembut, mendinginkan panasnya amarah dan menyampaikan risalah cinta. Sehingga, orang yang sering kali bangun di sepertiga malam memiliki perasaan halus ketika melihat suatu keganjilan di sekelilingnya.

Akhir kata,

وإن تجــد عيبـا فسـدّ الخـللا ¤ فــجلّ من لا عيب فيه وعــلا

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *