Mengambil Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf As

Kita ketahui bahwa kisah di dalam al-Qur’an yang diuraikan secara lengkap dan urut adalah kisah Nabi Yusuf As. Mulai kisah masa kecil, remaja, hingga dewasa. Termasuk menarik jika kita memahami, mempelajari kisah di masa kecil beliau, ketika beliau bermimpi ada sebelas bintang, matahari dan bulan sujud penghormatan kepada beliau. Ta’wil mimpi ini, menurut Imam Fakhrudin Ar-Rozi, adalah sebelas saudara, serta ayat ibu beliau akan ada dibawah pemerintahan beliau. Menariknya, ayah beliau yaitu Nabi Ya’qub As memerintahkan:

قَالَ يَابُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ (يوسف : 5 )

Artinya: “Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

(QS. Yusuf: 5)

Salah satu mufassir pensyarah Tafsir Jalalain, Syekh Ahmad bin Muhamad as-Showiy menafsiri ayat tersebut sebaagai berikut:


إنما نهاه أبوه عن ذالك لأنه فهم من رؤياه أن الله تعالى يصطفيه لرسالته ويفوق إخوانه فخاف عليه حسدهم , فيؤخذ من ذلك أن الإنسان إذا رأى خيرا في منامه فلا يخبر إلا حيبيا أو لبيبا غير حسود

Artinya: “Ayahnya melarang hal tersebut (menceritakan mimpi) tidak lain karena beliau paham maksud mimpi tersebut bahwa Allah Swt memilih anaknya sebagai rasulNya, dan mengungguli saudaranya, maka beliau takut mereka akan iri.

Maka dapat diambil inti dari kisah tersebut, bahwa seseorang jika mimpi baik jangan memberitahukannya kecuali orang dekat yang tidak mudah iri.”

(Syekh As-Showi, Hasyiyah Showi ‘ala Tafsir Talalain, [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah,2014] juz 2, hal. 161)

Mufassir kontemporer, Syekh Wahbah az-Zuhailiy, selain memiliki kesamaan dengan Syekh as-Showy dalam mengambil inti sari ayat ini, juga menjelaskan point lain, yaitu :


يطلب كتمان النعمة أمام من تخشى غائلته حسدا وكيدا، حتى توجد وتظهر

Artinya: “Dituntut untuk tidak menampakkan nikmat di hadapan orang yang dikhawatirkan kejatahatannya, sebab iri dengki dan licik, sampai tampak kejahatannya.”

(Syekh Wahbah Az-Zuhailiy, Tafsir Munir, [Beirut : dar Al-Fikr, 2018] juz 6, hal. 538)

Dari penjelasan para mufassir di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa,

jika kita mimpi yang baik, jangan menceritakan kecuali kepada orang terdekat yang kemungkinan dia tidak iri dan dengki. Serta, jika kita mendapatkan kenikmatan, apapun itu, jangan menampakannya, jangan memamerkannya, apabila bisa menimbulkan iri dengki, bahkan kejatahan.

Wallohu a’lamu bishowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *