Mengapa Iqra’ ?

Iqra‘ terambil dari akar kata yang berarti ‘menghimpun’, sehingga tidak selalu harus diartikan membaca teks tertulis dengan aksara tertentu. Dari akar kata yang berarti ‘menghimpun’, lahir aneka ragam makna, seperti, menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca -baik teks tertulis maupun tidak-.

Begitulah -kiranya- salahsatu alasan mengapa iqra‘ merupakan perintah pertama yang ditujukan kepada Nabi, padahal beliau seorang ummy (yang tidak pandai membaca dan menulis).

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ {١} خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ {٢} ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ {٣} ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ {٤} عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ {٥}

“Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhan mu yang menciptakan, Dia telah menciptakan Manusia dari ‘Alaq. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang paling Pemurah, Yang Mengajar Manusia dengan pena. Dia Mengajarkan kepada Manusia apa yang belum diketahuinya” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Iqra’ (Bacalah), tetapi apa yang harus dibaca? “Ma aqra‘?” tanya Nabi Saw –dalam suatu riwayat- setelah beliau kepayahan dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s. Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah Swt menghendaki agar beliau Saw dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut ‘bismi rabbik’, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Iqra‘ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis. Walhasil, objek dari perintah iqra‘ itu mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.

Demikian terpadu dalam perintah ini segala macam cara yang dapat ditempuh manusia untuk meningkatkan kemampuannya. Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-ulangi bacaan, atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa, mengulang-ulangi bacaan ‘bismi robbika’ (Demi karena Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca itu-itu juga.

Mengulang-ulang membaca ayat al-Qur’an menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang ‘membaca’ alam raya, membuka tabir rahasianya dan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir.

Ayat al-Qur’an yang kita baca dewasa ini tak sedikit pun berbeda dengan ayat al-Qur’an yang dibaca Rasul dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian. Namun, pemahaman, penemuan rahasianya, serta limpahan kesejahteraan-Nya terus berkembang, dan itulah pesan yang dikandung dalam Iqra’ wa Rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu-lah yang paling Pemurah). Atas kemurahan-Nya lah kesejahteraan demi kesejahteraan tercapai.

Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. Membaca, dalam aneka ragam maknanya adalah syarat pertama dan utama dalam pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama dalam membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan).

Membaca, dalam aneka ragam maknanya adalah syarat pertama dan utama dalam pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama dalam membangun peradaban.

Peradaban Yunani di mulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur’an. Astaghfirullah menunjuk masa akhirnya, karena kita yakin bahwa ia tidak akan lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan, selama umatnya ikut bersama Allah memeliharanya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَٰفِظُونَ {٩}

“Sesungguhnya Kami (Allah bersama Jibril yang diperintah-Nya) menurunkan al-Qur’an, dan Kami (yakni Allah dengan keterlibatan manusia) yang memeliharanya” (QS Al-Hijr [15]: 9).

Pengetahuan dan peradaban yang dirancang oleh al-Qur’an adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya.


(Dikutip dari: Wawasan al-Quran, karya Prof. Dr. Quraish Shihab, hal. 6-8, dengan sedikit perubahan)

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *