Mengapa Kita Membutuhkan Tafsir ?

Isi kandungan al-Qur’an mencakup semua aspek kehidupan manusia, baik jasmani maupun rohani, urusan dunia maupun akhirat, urusan pribadi, keluarga, masyarakat bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, al-Qur’an juga memperhatikan persoalan intelektualitas, emosional dan spiritualitas, pun juga menyangkut persoalan akidah, syariat dan akhlak.

Jadi, tidak ada satu sisi kehidupan pun -besar maupun kecil- kecuali al-Qur’an telah memberikan norma, nilai, tatanan, arahan, dan bimbingan dalam hal tersebut. Hal ini karena, al-Qur’an memang diturunkan oleh Allah untuk menjadi petunjuk bagi semua umat manusia. Adapun untuk menjadikan al-Qur’an sebagai kitab hidayah ataupun petunjuk, kaum muslimin dihimbau untuk berusaha memahami al-Qur’an sehingga dapat menangkap pesan-pesannya dengan baik.

Pesan-pesan global yang ada dibalik redaksi al-Qur’an sebenarnya cukup simpel, bagaimana menjaga keharmonisan antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta.

Namun, al-Qur’an meredaksikannya dengan berbagai ungkapan dalam bahasa arab yang bernilai sastra tinggi.

Akan tetapi, meskipun pesan-pesan al-Quran dapat dipahami dengan mudah, ternyata al-Qur’an masih membutuhkan penafsiran. Hal ini, menurut Imam as-Suyuthi, setidaknya disebabkan karena tiga hal:

1). al-Quran mempunyai kandungan ilmiah yang sangat kuat sehingga mampu memuat banyak makna dalam redaksi yang ringkas. Sedangkan redaksi yang ringkas ini memerlukan penjabaran.

Oleh karena itu, jika -semisal- seorang pengarang menjelaskan sendiri apa yang dia tulis, maka penjelasannya akan lebih diakui lagi.

2). Karena saking jelasnya, al-Qur’an tidak memasuki satu persoalan secara terperinci, atau karena perlu disiplin ilmu lain. Oleh karena itu, maka perlu penjelasan lebih lanjut.

3). al-Qur’an mempunyai nilai sastra yang tinggi. Karena didalamnya terdapat hal-hal metaforis (majaz), lafal yang mempunyai lebih dari satu makna (musytarak), dsb. Hal inilah yang menjadikannya perlu dijabarkan dalam sebuah kajian yang bernama tafsir.

Disamping ketiga hal diatas, al-Qur’an diturunkan dalam situasi dan kondisi tertentu, yaitu pada masa Nabi saw di Jazirah Arab yang tandus, pada saat masyarakat Arab berada pada titik nadir dari kehidupan beragama dan juga dari segi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kita juga perlu memahami realitas dan budaya masyarakat arab pada saat al-Qur’an diturunkan.

Wallahu a’lamu bishshowab


(Dikutip dari: Membumikan Ulumul Quran, karya Dr. Ahsin Sakho Muhammad, hal. 153-155, dengan sedikit perubahan)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *