Mengapa Ritual Ibadah yang Dilakukan di Makkah Disebut sebagai Ibadah Haji ?

Dzulhijjah merupakan bulan kedua belas dalam kalender Hijriah, dan merupakan salah satu dari bulan-bulan yang dimuliakan (al-asyhur al-hurum). Dzulhijjah bisa bermakna ‘bulan untuk haji’, karena mayoritas amalan ibadah haji dikerjakan pada bulan ini. misalnya, wuquf di ‘Arafah, mabit di Muzdalifah maupun Mina, melempar Jumrah, dsb.

Adapun ibadah haji sendiri adalah menuju baitullah dengan bertujuan untuk melakukan ritual ibadah (manasik) yang meliputi ihram, thawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah. (Syekh Ibrahim al-Bajury, Hasyiah al-Bajury [Dar al-Hadits, 2013 M] Juz. 1, Hal. 674).

Jadi, seakan-akan orang yang melaksanakan ibadah haji tersebut berkata: “Wahai Tuhanku, aku datang kepadamu dengan membawa dosaku agar Engkau berkenan mengampuninya dengan sebab sifat bijaksanamu”.

Lalu, mengapa ritual ibadah atau manasik yang dilakukan di Makkah tersebut disebut sebagai ibadah haji ?

Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairomy, dalam kitabnya yang berjudul Hasyiah al-Bujairomy ‘ala al-Khotib, mengutip pendapat dari Ibn al-Imad dalam kitab Kasy al-Asrar, memaparkan jawaban dari pertanyaan diatas, sebagai berikut:

قال ابن العماد في كشف الأسرار: “وَحِكْمَةُ تَرَكُّبِ الحَجِ مِنَ الحَاءِ والجِيْمِ إِشَارَةٌ إِلىَ أنّ الحَاءَ مِنَ الحِلْمِ وَالجِيْمَ مِنَ الجرْمِ. فَكَأَنّ العَبْدَ يَقُوْلُ: يَا رَبّ جِئْتُكَ بِجرْمِيْ أيْ ذَنْبِيْ لِتَغْفِرَهُ بِحِلْمِكَ اه.

Hikmah ritual ibadah atau manasik yang dilakukan di Makkah disebut sebagai ibadah haji (yang tersusun dari rangkaian huruf ha’ dan jim) adalah karena sebagai isyarat bahwa ha’ merupakan kepanjangan dari lafal al-hilm (bijak) dan jim merupakan kepanjangan dari lafal al-jurm (kesalahan). Jadi, seakan-akan orang yang melaksanakan ibadah haji tersebut berkata: “Wahai Tuhanku, aku datang kepadamu dengan membawa dosaku agar Engkau berkenan mengampuninya dengan sebab sifat bijaksanamu”.

(Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairomy, Hasyiah al-Bujairomy ala al-Khotib [Dar al-Hadits, 1437 H] Juz 3, Halaman 188).

Demikianlah, salahsatu hikmah mengapa ritual ibadah atau manasik yang dilakukan di Makkah disebut sebagai ibadah haji. Tentunya masih banyak hikmah lainnya yang tidak bisa dihidangkan pada kesempatan kali ini.

Akhir kata,

وإن تجــد عيبـا فسـدّ الخـللا ¤ فــجلّ من لا عيب فيه وعــلا

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *