Mengenal Ilmu Qur’an, Sejarah dan Perkembangannya

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw. Sebagai risalah yang universal. Dan merupakan sebuah petunjuk bagi semua manusia yang lengkap dan komprehensif. Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah swt. dan ia adalah kitab yang senantiasa dipelihara oleh Allah sampai hari akhir nanti.[1]

Di dalam mempelajari Al Qur’an dengan baik dan benar, kita tidak bisa hanya bermodalkan terjemahannya saja. Untuk memahami kandungan yang tersimpan di dalamnya kita membutuhkan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang secara khusus membahas tentang Al Qur’an. Ilmu khusus yang mempelajari tentang  Al Qur’an adalah Ulumul Qur’an.

Untuk belajar lebih dalam sebelumnya kita harus mempelajari tentang pengertian Ulumul Qur’an, sejarah kemunculan dan perkembangan Ulumul Qur’an dari masa ke masa.

Pengertian Ulumul Qur’an

Kata u`lum jamak dari kata ‘ilmu. ‘ilmu berarti al-fahmu wal idraak (faham dan menguasai). Kemudian arti kata ini berubah menjadi permasalahan yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiah.

Jadi, yang dimaksud dengan ‘uluumul qu`ran ialah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan Al-Quran dari segi asbaabu nuzuul.”sebab-sebab turunnya al-qur`an”, pengumpulan dan penertiban Qur`an, pengetahuan tentang surah-surah Mekah dan Madinah,An-Nasikh wal mansukh, Al-Muhkam wal Mutasyaabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Qur`an.

Terkadang ilmu ini dinamakan juga ushuulu tafsir (dasar-dasar tafsir) karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang Mufassir sebagai sandaran dalam menafsirkan Qur`an.[2]

Asal Usul dan Perkembangan Ulumul Qur’an

Sejarah perkembangan ulumul quran dimulai menjadi beberapa fase, dimana tiap-tiap fase menjadi dasar bagi perkembangan menuju fase selanjutnya, hingga ulumul quran menjadi sebuah ilmu khusus yang dipelajari dan dibahas secara khusus pula. Berikut beberapa fase / tahapan perkembangan ulumul quran.

Masa Rasulullah SAW

Penafsiran sudah dimulai sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Nabi Muhammad SAW. Menafsirkan sebagian ayat kepada para sahabat yang mana mereka adalah orang arab asli, sehingga mereka dengan mudah memahami keistimewaan bahasa arab dengan ituisinya.

Ketika mereka kesulitan dalam memahami suatu ayat mereka menanyakannya kepada Rasulullah SAW. Seperti yang disampaikan oleh Muslim dari ‘Uqbah Bin Amir: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda diatas mimbar “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu sanggupi”. Ingatlah bahwa kekuatan disini adalah memanah.[3]

Di lain pihak Rasulullah SAW. Melarang mereka menulis sesuatu darinya selain al-Qur’an sebagai upaya menjaga kemurnian al-Qur’an. Seperti yang diriwayatkan oleh Muslim Dari Abu Saad Al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda: : “janganlah kamu tulis dari aku, barang siapa menuliskan aku selain Qur’an hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yang dariku dan tiada halangan baginya dan barangsiapa sengaja berdusta atas namaku ia akan menempati tempatnya di api neraka”.[4]

 Masa Khilafah

Pada masa khalifah, tahapan perkembangan awal ulama ‘ulumul Qur’an mulai berkembang pesat, diantaranya dengan kebijakan para khalifah sebagai berikut:

Khalifah Abu Bakar Dan Umar, pada masa kedua khilafah ini al-Qur’an masih diriwayatkan melalui penuturan secara lisan.[5]

Khalifah Usman dengan kebijakan menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf, dan hal itupun terlaksana.[6] Mushaf itu disebut dengan mushaf Usmani. Salinan-salinan mushaf ini juga dikirmkan kebeberapa provinsi. Penulisan mushaf tersebut dinamakan dengan Ar-Rasmul Usmani  yaitu dinisbatkan kepada Usman dan itu dianggap sebagai permulaan dari ilmu Rasmil Qur’an.

Khalifah Ali dengan kebijakan perintahnya kepada Abu Aswad Ad-Duali meletakkan kaidah-kaidah nahwu. Cara pengucapan yang tepat, baku dan memberikan ketentuan harokat pada Al-Qur’an. Ini juga disebut sebagai permulaan ilmu I’robul Qur’an.[7]

 Masa Sahabat dan Tabi’in

Para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna Al-Qur’an dan penafsiran ayat-ayat yang berbeda diantara mereka, sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan lama dan tidaknya mereka hidup bersama rosulullah SAW, hal demikian diteruskan oleh murid-murid mereka yaitu para tabi’in, diantara para mufasir yang termasyhur dari para sahabat adalah

  • Empat orang sahabat ( Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib )

  • Ibnu Mas’ud

  • Ibnu Abbas

  • Ubay Bin Ka’ab

  • Zaid Bin Tsabit

  • Abu Musa Al-Asy’ari

  • Abdillah Bin Zubair[8]

Peranan tabi’in dalam penafsiran Al-Qur’an dan tokoh-tokohnya

Mengenai para tabi’in, diantara mereka ada satu kelompok yang terkenal yang mengambil ilmu ini dari para sahabat disamping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat. Yang terkenal diantara mereka masing-maing sebagai berikut:

Murid Ibnu Abbas di Mekah yang terkenal ialah Said Bin Ubair, Mujahid, Ikrimah hamba sahaya Ibnu Abbas, Tawus Bin Kisan Al Yamani dan ‘Ato Bin Abu Rabah

Murid Ubay Bin Ka’ab di Madinah yang terkenal ialah Zaid Bin Islam, Abu Aliyah dan Muhammad Bin Ka’ab Al Kurazy

Murid Abdillah Bin Mas’ud di Iraq yang terkenal ialah ‘Alqomah Bin Qois, Masruq Al Aswad Bin Yazid, Amir As Sa’bi, Hasan Al Basri dan Qotadah bin Di’amah As Sadusi. Dan yang diriwayatkan mereka semua meliputi ilmu tafsir, ilmu gharibil Qur’an, Ilmu asbabun nuzul, ilmu makki wal madani, ilmu nasikh Mansukh, tetapi semua ini tetap didasarkan pada riwayat dengan cara didektekan

Masa kodifikasi(Tadwin)

Perkembangan selanjutnya dalam ‘ulumul Qur’an adalah masa pembukuan Al-Qur’an yang mana melewati beberapa perkembangan sebabagi berikut:

  • Pembukuan Tafsir Al-Quran Menurut Riwayat dari Hadis, Sahabat, Tabi’in

               Pada abad hijriah tiba masa pembukuan yang dimulai dengan pembukuan hadis dengan segala babnya yang bermacam-macam, dan itu juga menyangkut dengan hal yang berhubungan dengan tafsir. Maka sebagian Ulama membukukan tafsir Al-Qur’an yang diriwayatkan dari Rosulullah SAW dari para sahabat atau para tabi’in. diantara mereka yang terkenal adalah: Yazid Bin Harun As-Sulami ( wafat 197 H ), Sufyan ‘Uyainah ( wafat 198 H ), Su’bah Bin Hajjaj ( wafat 160 H ), Waqi’ Bin Arrah ( wafat 197 H ) dan Abdurrazaq Bin Hammam ( wafat 112 H ). Mereka semua adalah para ahli hadis sedangkan tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bagiannya, namun tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ketangan kita.

  • Pembukuan Tafsir Berdasarkan Susunan Ayat

               Langkah mereka itu diikuti oleh para ulama, mereka menyusun tafsir Al-Qur’an yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat yang terkenal diantara mereka adalah: Ibnu Jarir At-Tabari (wafat 310 H), demikianlah tafsir pada mulanya dinuqil melalui penerimaan dari riwayat kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadis, selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran At-Tafsir Bil Ma’sur (berdasarkan riwayat) lalu diikuti tafsir bir ra’yi (berdasarkan penalaran).

  • Munculnya Pembahasan ‘Ulumul Qur’an selain Tafsir

               Disamping ilmu tafsir lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan qur’an dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufasir diantaranya:

               Ulama abad ke-3 Hijriah; Ali Bin Al-Madani (wafat 234 H) guru dari imam Bukhari menyusun karangannya mengenai asbabun nuzul. Abu Ubaid Al-Qasim Bin Salam (wafat 224 H) menulis tentang nasikh Mansukh dan qira’at Ibnu Qutaibah (wafat 276 H) menyusun tentang problematika qur’an (musykilul qur’an)

               Ulama abad ke-4 Hijriah Muhammad Bin Khalaf Bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun Al Hawi Fi ‘Ulumil Qur’an, Abu Muhammad Bin Qasim Al-Ambari (wafat 751 H) menulis tentang ilmu-ilmu qur’an, Abu Bakar As-Sijtani (wafat 330 H) menyusun kitab Gharibul Qur’an, Muhammad Bin Ali Bin Ad-Dafawi (wafat 388 H) menysusun kitab Al-Istighna’ Fi “Ulumil Qur’an

               Ulama abad ke-5 Hijriah dan setelahnya; Abu Bakar Al-Baqilani (wafat 403 H) menyusun kitab I’jazul Qur’an, Ali Bin Ibrahim Bin Said Al-Hufi (wafat 430 H) menulis mengenai kitab I’rabul Qur’an, Al-Mawardi (wafat 450 H) mengenai tamsil-tamsil dalam Qur’an (Amtsalul Qur’an), Al-‘Izz Bin Abdussalam (wafat 660 H) menysusun tentang majaz dalam qur’an, ‘Ulumuddin As-Sakhowi (wafat 643 H) menulis mengenai ilmu qira’at atau cara membaca Al-Qur’an, Ibnu Qayyim (wafat 751 H) menulis kitab Aqsamul Qur’an

  • Pembukuan ‘Ulumul qur’an dan Cabang-cabangnya

Pada masa sebelumnya, ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan berbagai pembahasan ditulis dengan judul kitab tersendiri, kemudian mulailah masa pengumpulan dan penulisan ilmu-ilmu tersebut dalam pembahasan yang lebih rinci dan focus pada pembahasan-pembahasan ilmu tafsir seperti; Ali Bin Ibrahim Said (wafat 330 H) yang dikenal dengan Al-Hufi yang menuliskan kitab Burhan Fi ‘Ulumil Qur’an beliau adalah orang pertama yang membukukan ‘ulumul qur’an, Ibn jauzi (wafat 597 H) menuliskan kitab Fununul Afnan Fi A’jaibi ‘Ulumil Qur’an, Badarudin Az-Zarkasyi (wafat 794 H) menulis sebuah kitab lengkap yang berjudul Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur’an Jalaludin Al-Baqilani (wafat 824 H) memberikan beberapa tambahan atas Al-Burhan didalam kitabnya Mawaqi’ul ‘Ulum Min mawaqi’ul Nujum, dan Jalaludin As-Suyuti (wafat 911 H) menyusun sebuah kita yang terkenal adalah Al-Itqon Fi ‘Ulumil Qur’an.

 

 

Masa Moderen/Kontemporer

Sebagaimana pada masa sebelumnya perkembanagan ‘ulumul qur’an pada masa kontemporer ini juga berlanjut dengan penulisan yang lebih singkat dan sistematis dari kitab-kitab terdahulu

Kitab yang Membahas secara Khsusus Ilmu Qur’an atau Pembahasan tentang Metode Penafsiran Al-Qur’an, Kitab ‘Ijazul Qur’an yang ditulis oleh Musthofa Shadiq Ar-Rafi’I, Kitab At-Taswirul Fanni Fi Qur’an dan Masyahidul Qiyamah fi Qur’an oleh sayyid Qutb, Tarjamatul Qur’an oleh syaikh Muhammad Musthofa Al-Maraghi yang pembahasannya ditulis oleh Muhibbudin Al-Hatib, Mas’alatul Tarjamatil Qur’an oleh Musthofa Shabri, An-Naba’ul ‘Adzim oleh Dr. Muhammad Abdullah Daraz, Muqaddimah Tafsir Mahasilut Ta’wil oleh Amaluddin Al-Qasimi

Kitab yang membahas Ulumul Qur’an secara Umum, diantaranya:

Syaikh Tahir Al-Jazairi menyusun kitab  At-Tibyan Fi ‘Ulumil Qur’an, Syaikh Muhammad Ali Salamah menyusun kitab Manhajul Furqon Fi ‘Ulumil Qur’an yang berisi tentang pembahasan yang sudah ditentukan untuk fakultas Ushuluddin di Mesir dengan spesialisasi dakwah dan bimbingan, Syaikh Muhammad Abdul ‘Adzim Az-Zarqani menyusun kitab Manahilul ‘Irfan Fi ‘Ulumil Qur’an, Syaikh Ahmad Ali menulis kitab Mudzakirat ‘Ulimil Qur’an yang disampaikan pada mahasiswanya di Universitas Ushuluddin jurusan dakwah dan bimbingan,  Dr. Subkhi As-Shalih menyusun kitab Mabahis Fi ‘Ulumil Qur’an

 

 

Kesimpulan

Dari uraian-uraia di atas, dapat dipahami bahwa ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan al-Qur’an berdasarkan setandar ilmiah. Dengan kata lain ulumul qur’an adalah suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan dengan kajian-kajian al-Qur’an seperti asbabun nuzul,pengumpulan al-Qur’an dan penyusunanya, masalah makiyah dan madaniyah, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasybihat dll.

Adapun sejarah perkembngannya secara umum dibagi menjadi tiga bagian yaitu, perkembangan pada masa Rasulullah SAW., perkembangan pada masa khulafa al-Rasyidin dan pada masa tadwin (pembukuan). Dan masing-masing masa memiliki corak tersendiri sesuai dengan keadaan masanya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

Manna, Khalil al-Qatthan. Mabahits Fi ‘Ulumil Qur’an, Kharamain.

Shihab, M. Quraish. 1999. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

Dimyati, M. Afifudin. 2016. Mawaridul Bayan Fi ‘Ulumil Qur’an. Sidoarjo: Maktabah Lisanul ‘Arab.

 

[1] M. Quraish Shihab, “Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat”, (cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999), hal. 21

[2] Manna Khalil al-Qathan, “Mabahist Fi Ulumil Qur’an”, Kharamain, hal.15

[3] Ibid hal.9

[4] Ibid hal.10

[5] M. ‘Afifudin Dimyati, “Mawaridul Bayan”, Maktabah Lisanul ‘Arab, Sidoarjo,2016, hal.2

[6] Mengenai penjelasan secara detailnya akan dibahas dalam bab yang akan datang

[7] Manna Khalil al-Qathan, “Mabahist Fi Ulumil Qur’an”, Kharamain, hal.10

[8] Ibid hal.11

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw. Sebagai risalah yang universal. Dan merupakan sebuah petunjuk bagi semua manusia yang lengkap dan komprehensif. Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah swt. dan ia adalah kitab yang senantiasa dipelihara oleh Allah sampai hari akhir nanti.[1]

Di dalam mempelajari Al Qur’an dengan baik dan benar, kita tidak bisa hanya bermodalkan terjemahannya saja. Untuk memahami kandungan yang tersimpan di dalamnya kita membutuhkan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang secara khusus membahas tentang Al Qur’an. Ilmu khusus yang mempelajari tentang  Al Qur’an adalah Ulumul Qur’an.

Untuk belajar lebih dalam sebelumnya kita harus mempelajari tentang pengertian Ulumul Qur’an, sejarah kemunculan dan perkembangan Ulumul Qur’an dari masa ke masa.

Pengertian Ulumul Qur’an

Kata u`lum jamak dari kata ‘ilmu. ‘ilmu berarti al-fahmu wal idraak (faham dan menguasai). Kemudian arti kata ini berubah menjadi permasalahan yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiah.

Jadi, yang dimaksud dengan ‘uluumul qu`ran ialah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan Al-Quran dari segi asbaabu nuzuul.”sebab-sebab turunnya al-qur`an”, pengumpulan dan penertiban Qur`an, pengetahuan tentang surah-surah Mekah dan Madinah,An-Nasikh wal mansukh, Al-Muhkam wal Mutasyaabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Qur`an.

Terkadang ilmu ini dinamakan juga ushuulu tafsir (dasar-dasar tafsir) karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang Mufassir sebagai sandaran dalam menafsirkan Qur`an.[2]

Asal Usul dan Perkembangan Ulumul Qur’an

Sejarah perkembangan ulumul quran dimulai menjadi beberapa fase, dimana tiap-tiap fase menjadi dasar bagi perkembangan menuju fase selanjutnya, hingga ulumul quran menjadi sebuah ilmu khusus yang dipelajari dan dibahas secara khusus pula. Berikut beberapa fase / tahapan perkembangan ulumul quran.

Masa Rasulullah SAW

Penafsiran sudah dimulai sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Nabi Muhammad SAW. Menafsirkan sebagian ayat kepada para sahabat yang mana mereka adalah orang arab asli, sehingga mereka dengan mudah memahami keistimewaan bahasa arab dengan ituisinya.

Ketika mereka kesulitan dalam memahami suatu ayat mereka menanyakannya kepada Rasulullah SAW. Seperti yang disampaikan oleh Muslim dari ‘Uqbah Bin Amir: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda diatas mimbar “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu sanggupi”. Ingatlah bahwa kekuatan disini adalah memanah.[3]

Di lain pihak Rasulullah SAW. Melarang mereka menulis sesuatu darinya selain al-Qur’an sebagai upaya menjaga kemurnian al-Qur’an. Seperti yang diriwayatkan oleh Muslim Dari Abu Saad Al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda: : “janganlah kamu tulis dari aku, barang siapa menuliskan aku selain Qur’an hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yang dariku dan tiada halangan baginya dan barangsiapa sengaja berdusta atas namaku ia akan menempati tempatnya di api neraka”.[4]

 Masa Khilafah

Pada masa khalifah, tahapan perkembangan awal ulama ‘ulumul Qur’an mulai berkembang pesat, diantaranya dengan kebijakan para khalifah sebagai berikut:

Khalifah Abu Bakar Dan Umar, pada masa kedua khilafah ini al-Qur’an masih diriwayatkan melalui penuturan secara lisan.[5]

Khalifah Usman dengan kebijakan menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf, dan hal itupun terlaksana.[6] Mushaf itu disebut dengan mushaf Usmani. Salinan-salinan mushaf ini juga dikirmkan kebeberapa provinsi. Penulisan mushaf tersebut dinamakan dengan Ar-Rasmul Usmani  yaitu dinisbatkan kepada Usman dan itu dianggap sebagai permulaan dari ilmu Rasmil Qur’an.

Khalifah Ali dengan kebijakan perintahnya kepada Abu Aswad Ad-Duali meletakkan kaidah-kaidah nahwu. Cara pengucapan yang tepat, baku dan memberikan ketentuan harokat pada Al-Qur’an. Ini juga disebut sebagai permulaan ilmu I’robul Qur’an.[7]

 Masa Sahabat dan Tabi’in

Para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna Al-Qur’an dan penafsiran ayat-ayat yang berbeda diantara mereka, sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan lama dan tidaknya mereka hidup bersama rosulullah SAW, hal demikian diteruskan oleh murid-murid mereka yaitu para tabi’in, diantara para mufasir yang termasyhur dari para sahabat adalah

  • Empat orang sahabat ( Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib )

  • Ibnu Mas’ud

  • Ibnu Abbas

  • Ubay Bin Ka’ab

  • Zaid Bin Tsabit

  • Abu Musa Al-Asy’ari

  • Abdillah Bin Zubair[8]

Peranan tabi’in dalam penafsiran Al-Qur’an dan tokoh-tokohnya

Mengenai para tabi’in, diantara mereka ada satu kelompok yang terkenal yang mengambil ilmu ini dari para sahabat disamping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat. Yang terkenal diantara mereka masing-maing sebagai berikut:

Murid Ibnu Abbas di Mekah yang terkenal ialah Said Bin Ubair, Mujahid, Ikrimah hamba sahaya Ibnu Abbas, Tawus Bin Kisan Al Yamani dan ‘Ato Bin Abu Rabah

Murid Ubay Bin Ka’ab di Madinah yang terkenal ialah Zaid Bin Islam, Abu Aliyah dan Muhammad Bin Ka’ab Al Kurazy

Murid Abdillah Bin Mas’ud di Iraq yang terkenal ialah ‘Alqomah Bin Qois, Masruq Al Aswad Bin Yazid, Amir As Sa’bi, Hasan Al Basri dan Qotadah bin Di’amah As Sadusi. Dan yang diriwayatkan mereka semua meliputi ilmu tafsir, ilmu gharibil Qur’an, Ilmu asbabun nuzul, ilmu makki wal madani, ilmu nasikh Mansukh, tetapi semua ini tetap didasarkan pada riwayat dengan cara didektekan

Masa kodifikasi(Tadwin)

Perkembangan selanjutnya dalam ‘ulumul Qur’an adalah masa pembukuan Al-Qur’an yang mana melewati beberapa perkembangan sebabagi berikut:

  • Pembukuan Tafsir Al-Quran Menurut Riwayat dari Hadis, Sahabat, Tabi’in

               Pada abad hijriah tiba masa pembukuan yang dimulai dengan pembukuan hadis dengan segala babnya yang bermacam-macam, dan itu juga menyangkut dengan hal yang berhubungan dengan tafsir. Maka sebagian Ulama membukukan tafsir Al-Qur’an yang diriwayatkan dari Rosulullah SAW dari para sahabat atau para tabi’in. diantara mereka yang terkenal adalah: Yazid Bin Harun As-Sulami ( wafat 197 H ), Sufyan ‘Uyainah ( wafat 198 H ), Su’bah Bin Hajjaj ( wafat 160 H ), Waqi’ Bin Arrah ( wafat 197 H ) dan Abdurrazaq Bin Hammam ( wafat 112 H ). Mereka semua adalah para ahli hadis sedangkan tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bagiannya, namun tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ketangan kita.

  • Pembukuan Tafsir Berdasarkan Susunan Ayat

               Langkah mereka itu diikuti oleh para ulama, mereka menyusun tafsir Al-Qur’an yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat yang terkenal diantara mereka adalah: Ibnu Jarir At-Tabari (wafat 310 H), demikianlah tafsir pada mulanya dinuqil melalui penerimaan dari riwayat kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadis, selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran At-Tafsir Bil Ma’sur (berdasarkan riwayat) lalu diikuti tafsir bir ra’yi (berdasarkan penalaran).

  • Munculnya Pembahasan ‘Ulumul Qur’an selain Tafsir

               Disamping ilmu tafsir lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan qur’an dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufasir diantaranya:

               Ulama abad ke-3 Hijriah; Ali Bin Al-Madani (wafat 234 H) guru dari imam Bukhari menyusun karangannya mengenai asbabun nuzul. Abu Ubaid Al-Qasim Bin Salam (wafat 224 H) menulis tentang nasikh Mansukh dan qira’at Ibnu Qutaibah (wafat 276 H) menyusun tentang problematika qur’an (musykilul qur’an)

               Ulama abad ke-4 Hijriah Muhammad Bin Khalaf Bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun Al Hawi Fi ‘Ulumil Qur’an, Abu Muhammad Bin Qasim Al-Ambari (wafat 751 H) menulis tentang ilmu-ilmu qur’an, Abu Bakar As-Sijtani (wafat 330 H) menyusun kitab Gharibul Qur’an, Muhammad Bin Ali Bin Ad-Dafawi (wafat 388 H) menysusun kitab Al-Istighna’ Fi “Ulumil Qur’an

               Ulama abad ke-5 Hijriah dan setelahnya; Abu Bakar Al-Baqilani (wafat 403 H) menyusun kitab I’jazul Qur’an, Ali Bin Ibrahim Bin Said Al-Hufi (wafat 430 H) menulis mengenai kitab I’rabul Qur’an, Al-Mawardi (wafat 450 H) mengenai tamsil-tamsil dalam Qur’an (Amtsalul Qur’an), Al-‘Izz Bin Abdussalam (wafat 660 H) menysusun tentang majaz dalam qur’an, ‘Ulumuddin As-Sakhowi (wafat 643 H) menulis mengenai ilmu qira’at atau cara membaca Al-Qur’an, Ibnu Qayyim (wafat 751 H) menulis kitab Aqsamul Qur’an

  • Pembukuan ‘Ulumul qur’an dan Cabang-cabangnya

Pada masa sebelumnya, ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan berbagai pembahasan ditulis dengan judul kitab tersendiri, kemudian mulailah masa pengumpulan dan penulisan ilmu-ilmu tersebut dalam pembahasan yang lebih rinci dan focus pada pembahasan-pembahasan ilmu tafsir seperti; Ali Bin Ibrahim Said (wafat 330 H) yang dikenal dengan Al-Hufi yang menuliskan kitab Burhan Fi ‘Ulumil Qur’an beliau adalah orang pertama yang membukukan ‘ulumul qur’an, Ibn jauzi (wafat 597 H) menuliskan kitab Fununul Afnan Fi A’jaibi ‘Ulumil Qur’an, Badarudin Az-Zarkasyi (wafat 794 H) menulis sebuah kitab lengkap yang berjudul Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur’an Jalaludin Al-Baqilani (wafat 824 H) memberikan beberapa tambahan atas Al-Burhan didalam kitabnya Mawaqi’ul ‘Ulum Min mawaqi’ul Nujum, dan Jalaludin As-Suyuti (wafat 911 H) menyusun sebuah kita yang terkenal adalah Al-Itqon Fi ‘Ulumil Qur’an.

 

 

Masa Moderen/Kontemporer

Sebagaimana pada masa sebelumnya perkembanagan ‘ulumul qur’an pada masa kontemporer ini juga berlanjut dengan penulisan yang lebih singkat dan sistematis dari kitab-kitab terdahulu

Kitab yang Membahas secara Khsusus Ilmu Qur’an atau Pembahasan tentang Metode Penafsiran Al-Qur’an, Kitab ‘Ijazul Qur’an yang ditulis oleh Musthofa Shadiq Ar-Rafi’I, Kitab At-Taswirul Fanni Fi Qur’an dan Masyahidul Qiyamah fi Qur’an oleh sayyid Qutb, Tarjamatul Qur’an oleh syaikh Muhammad Musthofa Al-Maraghi yang pembahasannya ditulis oleh Muhibbudin Al-Hatib, Mas’alatul Tarjamatil Qur’an oleh Musthofa Shabri, An-Naba’ul ‘Adzim oleh Dr. Muhammad Abdullah Daraz, Muqaddimah Tafsir Mahasilut Ta’wil oleh Amaluddin Al-Qasimi

Kitab yang membahas Ulumul Qur’an secara Umum, diantaranya:

Syaikh Tahir Al-Jazairi menyusun kitab  At-Tibyan Fi ‘Ulumil Qur’an, Syaikh Muhammad Ali Salamah menyusun kitab Manhajul Furqon Fi ‘Ulumil Qur’an yang berisi tentang pembahasan yang sudah ditentukan untuk fakultas Ushuluddin di Mesir dengan spesialisasi dakwah dan bimbingan, Syaikh Muhammad Abdul ‘Adzim Az-Zarqani menyusun kitab Manahilul ‘Irfan Fi ‘Ulumil Qur’an, Syaikh Ahmad Ali menulis kitab Mudzakirat ‘Ulimil Qur’an yang disampaikan pada mahasiswanya di Universitas Ushuluddin jurusan dakwah dan bimbingan,  Dr. Subkhi As-Shalih menyusun kitab Mabahis Fi ‘Ulumil Qur’an

 

 

Kesimpulan

Dari uraian-uraia di atas, dapat dipahami bahwa ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan al-Qur’an berdasarkan setandar ilmiah. Dengan kata lain ulumul qur’an adalah suatu ilmu yang mencakup berbagai kajian yang berkaitan dengan kajian-kajian al-Qur’an seperti asbabun nuzul,pengumpulan al-Qur’an dan penyusunanya, masalah makiyah dan madaniyah, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasybihat dll.

Adapun sejarah perkembngannya secara umum dibagi menjadi tiga bagian yaitu, perkembangan pada masa Rasulullah SAW., perkembangan pada masa khulafa al-Rasyidin dan pada masa tadwin (pembukuan). Dan masing-masing masa memiliki corak tersendiri sesuai dengan keadaan masanya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

Manna, Khalil al-Qatthan. Mabahits Fi ‘Ulumil Qur’an, Kharamain.

Shihab, M. Quraish. 1999. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

Dimyati, M. Afifudin. 2016. Mawaridul Bayan Fi ‘Ulumil Qur’an. Sidoarjo: Maktabah Lisanul ‘Arab.

 

[1] M. Quraish Shihab, “Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat”, (cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999), hal. 21

[2] Manna Khalil al-Qathan, “Mabahist Fi Ulumil Qur’an”, Kharamain, hal.15

[3] Ibid hal.9

[4] Ibid hal.10

[5] M. ‘Afifudin Dimyati, “Mawaridul Bayan”, Maktabah Lisanul ‘Arab, Sidoarjo,2016, hal.2

[6] Mengenai penjelasan secara detailnya akan dibahas dalam bab yang akan datang

[7] Manna Khalil al-Qathan, “Mabahist Fi Ulumil Qur’an”, Kharamain, hal.10

[8] Ibid hal.11

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *