Metodologi Penafsiran Mufassir (1): Tafsir bil Ma’tsur (Part 1)

Perjalanan panjang tafsir yang telah dilalui menggambarkan -bagi pembacanya- sejauh mana para ulama dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Selain itu, rekaman sejarah tersebut juga memperlihatkan kecenderungan langkah yang digunakan para ahli tafsir dalam mengejawentahkan makna-makna yang berada dibalik al-Qur’an.

Berjilid-jilid kitab yang dihasilkan oleh para ahli tafsir diproduksi melalui cara dan bentuk yang beragam. Mulai dari Imam ath-Thabari yang banyak memanfaatkan sumber riwayat, sampai era kontemporer yang banyak menggunakan pendekatan melalui ilmu-ilmu pengetahuan umum, kemanusiaan, dan social kemasyarakatan seperti yang dilakukan oleh Rasyid Ridha dan Tanthawi Jauhari.

Usaha-usaha yang dilakukan para mufassir dalam mendekati al-Qur’an melahirkan beragam metode dan jalan yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan masing-masing tak lepas dari keistimewaan dan juga kelebihan.

Perjalanan panjang tafsir yang telah dilalui menggambarkan sejauh mana para ulama dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.


Dalam seri kajian tafsir “Tingkatan (Thabaqah) Para Mufassir”, telah dipaparkan sekilas tentang tingkatan para mufassir dari masa sahabat, sampai terakhir era kontemporer. Pada kesempatan kajian kali ini, kami -Mahasantri Ma’had Aly Al-Iman Bulus- ingin sedikit menghidangkan sekilas tentang metodologi penafsiran para mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an. Pembahasan tersebut –insya allah– akan diuraikan dalam beberapa edisi. Untuk lebih detailnya, mari kita simak paparan berikut.

1). Tafsir bil Ma’tsur

Penafsiran yang bersumber dari riwayat atau yang sering disebut dengan tafsir bil ma’tsur adalah suatu penafsiran yang paling tua dan yang pertama kali muncul dalam khazanah intelektual tafsir al-Qur’an. Tafsir ini sekarang masih tetap dipakai dan dapat dijumpai dalam kitab-kitab tafsir, seperti kitab Tafsir ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Athiyyah, dsb.

Dalam studi tafsir klasik, riwayat merupakan komponen yang sangat penting dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.

Secara global, tafsir ini hanya mengandalkan riwayat sebagai pedoman dan landasan dalam penafsiran terhadap ayat al-Qur’an.

Mengenai tafsir menggunakan metodologi ini, terdapat suatu kesenjangan dan perbedaan pandangan dari beberapa pengkaji tafsir, baik dalam mendefinisikan tafsir bil ma’tsur ataupun ketika mencontohkan beberapa kitab tafsir yang masuk dalam klasifikasi tafsir bil ma’tsur.

Pengertian
Menurut Syekh Manna’ al-Qothon dalam kitabnya yang berjudul Mabahits fi Ulum al-Qur’an, tafsir bil ma’tsur adalah tafsir yang berdasarkan pada Al-Qur’an, Hadits, perkataan sahabat, atau berdasarkan pada pendapat dari tokoh-tokoh besar Tabi’in. Beliau memandang bahwa penafsiran atau riwayat yang berasal dari Tabi’in layak masuk dalam kategori dari sumber tafsir bil ma’tsur karena mayoritas mereka bertemu dan berguru langsung (talaqqi) pada sahabat.


Mufassir yang mengambil metodologi seperti ini -masih menurut beliau- hendaknya menelusuri terlebih dahulu atsar-atsar atau riwayat yang ada tentang makna ayat, kemudian atsar tersebut dikemukakan sebagai ayat yang bersangkutan. Dalam hal ini, ia tidak boleh melakukan ijtihad untuk menjelaskan sesuatu makna tanpa adanya dasar, juga hendaknya ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna untuk diketahui selama ada riwayat yang shahih mengenainya.

(Syekh Manna’ al-Qothon, Mabahits fi Ulum al-Quran [Dar al-Ilmi wa al-Iman, tanpa tahun terbit] Halaman 337-338, dengan sedikit perubahan).

Demikianlah, sekilas uraian mengenai metodologi penafsiran para mufassir (1): tafsir bil ma’tsur (part 1). Tunggu edisi selanjutnya, jangan sampai ketinggalan! Semoga bermanfaat, salam literasi santri!

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *