Nderek Kyai, dari Kepribadian Santri hingga Proses Berguru ala Orang Awam

Proses Islamisasi Nusantara banyak terjadi melalui proses akulturasi, yaitu dengan mengislamkan tradisi atau budaya lokal masyarakat setempat, hingga istilah-istilah yang berlaku dan digunakan. Misalnya, sebagaimana kita ketahui, oleh masyarakat Jawa ulama dikenal dengan istilah kyai, bukan syaikh dsb. Kyai inilah yang menjadi pemimpin dan panutan di daerahnya masing-masing.

Dari masa ke masa Kyai menjadi pemeran dan tonggak utama dalam menyelesaikan berbagai macam masalah, mulai dari permasalahan agama sampai permasalahan sosial serta pribadi-privasi masyarakat di daerahnya masing-masing, baik di pesantren, desa dan perkampungan hingga panggung elit perkotaan. Sebagaimana umara’ (pejabat pemerintah) yang juga memiliki peran menyelesaikan masalah dengan membangun infrastruktur fisik, ekonomi, sosial, dan sebagainya, kyai membangun spiritualitas masyarakat melalui pendidikan dan ke-uswahan (role model) mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Masjid, surau, langgar, hingga pesantren, baik yang di pedesaan ataupun di perkotaan merupakan tempat yang tidak lepas dari peran kyai. Dari tempat-tempat tersebut kiai memanifestasikan dirinya sebagai tokoh yang mampu menciptakan teladan, uswah dalam diri santri dan masyarakatnya saat mengajar dan memberikan pengalaman spiritual yang beragam.

Istilah ‘Nderek Kyai’ mungkin belum banyak diketahui oleh kalangan non-pesantren. Nderek Kyai merupakan gabungan dua kata yang mempunyai makna “Ikut Kyai”.

Dengan kata lain, dalam pesantren seorang santri wajib sam’an wa tha’atan (mendengar dan mengikuti) terhadap gurunya. Hal tersebut merupakan salahsatu cara kyai dalam membentuk kepribadian santri. Maka tidak jarang di pesantren, santri tidak hanya diajarkan ngaji di kelas dengan jadwal tertentu. Namun, banyak kyai pesantren yang mendidik santrinya dengan semisal mencangkul atau bahkan hanya diperintah untuk mengisi kolam wudhu, dan sebagainya. Hal itu semata untuk mendidik keikhlasan santri kepada sang kyai, bukan hanya totalitas saat ngaji.

Begitu juga adab dan perilaku sang kyai akan menjadi barometer untuk mengukur apakah sang santri bisa mencontoh atau setidaknya bisa mengikut sang kyai. Hal tersebut akan menjadi buah usaha untuk membentuk kepribadian santri dari dalam dirinya sendiri, sehingga ia akan mengerahkan jiwa dan raganya untuk menyerupai atau setidaknya mengikuti kyai.

Sebagai contoh proses berguru Sunan Kalijaga ketika diperintah menunggui tongkat gurunya (Sunan Bonang) sampai sang guru kembali ketempat penjagaan tongkat tersebut, hingga Sunan Kalijaga diakui menjadi santrinya. Atau seperti Gus Dur saat beliau menerima perintah untuk maju menjadi presiden dari guru-gurunya. Kedua contoh tersebut memberikan sebuah bukti nyata bahwa kepribadian setiap santri pada hakikatnya akan senantiasa mengikuti sang kyai.

Dalam kitab Ta’limul Muta’alim telah disinggung perihal nderek kyai, dikatakan:

فالحاصل: أنه يطلب رضاه، ويجتنب سخطه، ويمتثل أمره فى غير معصية لله تعالى، فإنه لا طاعة للمخلوق فى معصية الخالق

“Walhasil, seorang santri dalam proses ta’lim, agar mencari ridho guru dan menjauhkan amarahnya, menjunjung tinggi perintahnya selama tidak bertentangan dengan agama. Karena tidak diperbolehkannya ta’at kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Allah swt”.

Lain hal nderek kyai di pesantren, lain hal nderek kyai bagi masyarakat umum. Istilah tersebut merupakan sebagai proses berguru ala masyarakat awam dalam menempuh pendidikan agama. Dalam hal ini kyai diposisikan sebagai panutan hidup beragama dan bermasyarakat.

Kehadiran kyai di tengah-tengah masyarakat merupakan sebuah penawar racun. Berbagai masalah dan tantangan semisal masalah agama, seluk beluk kehidupan, konflik keluarga hingga antar warga, bahkan untuk meminta bacaan do’a atau aji-ajian pun banyak terjadi.

Kepercayaan mereka terhadap kyai adalah bentuk dari tradisi yang telah dibawa oleh leluhurnya, sehingga seorang kyai bisa dikatakan orang yang terdekat dengan Allah. Maka, dengan tanpa ragu mereka mengikutinya agar bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sehingga potret dari nderek kyai seakan telah mendarah daging dalam masyarakat bumi pertiwi kita.

Bagaimana kiai tidak dijadikan panutan? Ambil saja satu contoh, sebagaimana diketahui diberbagai daerah, setiap mengadakan acara -mulai dari acara yang bersifat kekeluargaan hingga yang bersifat nasional- minimal seorang kyai akan memberikan nasihat dan arahan. Maka, dari itu dapat disimpulkan bahwa kyai adalah panutan sekaligus pemimpin agama yang mampu menciptakan pendidikan, pengajaran, percontohan, teladan -baik masalah agama, ataupun dunia- kepada masyarakat. Sehingga masyarakat akan merasakan siapa yang patut diikutinya dalam menjalani kehidupan.

Mengutip dari kitab Rawai’ul Bayan

فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم # إن التشبه بالكرام فلاح

“Tirulah mereka (para ulama, kyai & guru) meskipun tidak akan mampu menyamai. Ketahuilah bahwa meniru seperti orang-orang mulia itu merupakan sebuah keberuntungan.”

Syair tersebut memerintahkan kita sebagai santri ataupun orang awam untuk mengikuti perilaku seorang yang sholeh, walaupun belum bisa menyerupainya seratus persen, namun setidaknya bisa mengambil sedikit, sehingga akan menemukan sebuah kebahagiaan tersendiri dari buah mengikut orang tersebut kepada orang yang sholeh.

Wallahu a’lamu bishshowab

Oleh: Bagus Ahmad Mustafid (Mahasantri Ma’had Aly Al-Iman Bulus Purworejo)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *