Perkembangan Tafsir dari Masa ke Masa (Part 1)

Telah menjadi sunnatulloh bahwa Dia mengutus setiap Rasul dengan menggunakan bahasa kaumnya. Hal tersebut agar komunikasi diantara mereka berjalan dengan sempurna. Allah swt berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.

Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw juga dengan menggunakan bahasa kaumnya, yaitu dengan menggunakan bahasa Arab. Jadi jelas, bahwa lafadz-lafadz al-Qur’an itu berbahasa Arab, makna-makna yang terkandung didalamnya pun sesuai dengan makana-makna yang dikenal di kalangan bangsa Arab.

Al-Qur’an adalah sumber pertama bagi umatnya Nabi Muhammad Saw. Kebahagiaan mereka bergantung pada kemampuan memahami maknanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan pengamalan apa yang terkandung didalamnya. Kemampuan setiap orang dalam memahami al-Qur’an tentu berbeda, padahal penjelasan ayat-ayatnya sedemikian gamblang, jelas dan rinci.

Perbedaan daya nalar diantara mereka ini adalah suatu hal yang tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam hanya dapat memahami makna-makna dzahirnya dan yang bersifat global. Sedangkan kalangan cendekiawan dan terpelajar akan dapat memahami dan menyingkap makna-maknanya secara menarik. Dari kedua kalangan tersebut pun masih terdapat aneka ragam dalam tingkat pemahamannya.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jikalau al-Qur’an mendapatkan perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata yang gharib atau dalam menakwilkan suatu redaksi kalimat.

Pada kesempatan kajian kali ini, kami -Mahasantri Ma’had Aly Al-Iman Bulus- ingin sedikit menghidangkan sekilas tentang perkembangan tafsir dari masa ke masa. Pembahasan tersebut –insya allah– akan diawali dari masa Nabi Saw dan sahabat, kemudian masa tabi’in, dan berakhir pada masa pembukuan, yang akan diuraikan dalam beberapa edisi. Untuk lebih detailnya, mari kita simak paparan berikut.

Perkembangan Tafsir pada Masa Nabi dan Sahabat

Allah swt telah memberikan jaminan kepada Rasul-Nya bahwa Dialah yang akan ‘bertanggung jawab’ melindungi al-Qur’an dan yang akan menjelaskannya. Nabi muhammad Saw memahami al-Qur’an dengan sempurna baik secara global dan terperinci. Dan adalah tugasnya menerangkannya kepada para sahabat.

Para sahabat juga dapat memahami al-Qur’an, karena al-Qur’an diturunkan menggunakan bahasa mereka, sekalipun mereka tidak memahami detail-detailnya. Ibnu Khaldun dalam kitab ‘muqaddimah’-nya berkata,

“al-Qur’an diturunkan menggunakan bahasa Arab sesuai dengan tata bahasa mereka. Oleh karena itu, semua orang Arab dapat memahaminya dan mengetahui makna-maknanya baik dalam kosa kata maupun dalam struktur kalimatnya”.

Namun, meskipun demikian, mereka tentu berbeda-beda dalam tingkat pemahamannya, sehingga apa yang tidak diketahui oleh seseorang diantara mereka boleh jadi diketahui oleh yang lain.

Pada masa ini, yang menjadi landasan para sahabat dalam menafsirkan al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1). Al-Qur’an
Al-Qur’an menjadi sumber penafsiran utama karena kadang apa yang dikemukakan secara global disuatu tempat dijelaskan secara terperinci ditempat yang lain. Terkadang pula sebuah ayat datang dalam bentuk mutlak atau umum, namun kemudian disusul oleh ayat lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Penafsiran inilah yang sering dinamai dengan “Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an”.

2). Nabi Muhammad Saw
Ketika para sahabat mendapatkan kesulitan dalam memahami suatu ayat, maka mereka merujuk kepada Nabi Saw. Karena beliaulah pemberi penjelasan (mufassir) al-Qur’an paling otoritatif. Biasanya, dalam kitab-kitab hadits terdapat bab khusus yang memuat tentang tafsir bil ma’tsur yang bersumber dari Rasulullah Saw.

Diantara kandungan al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat diketahui takwilnya kecuali melalui penjelasan Rasulullah Saw. misalnya rincian tentang perintah dan larangan-Nya, ketentuan mengenai hukum-hukum yang di fardhukan-Nya.

3). Pemahaman dan Ijtihad
Apabila para sahabat tidak mendapatkan penafsiran dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw, mereka melakukan ijtihad. Hal ini tentu mengingat mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat menguasai bahasa Arab, memahaminya dengan baik dan mengetahui aspek-aspek ke-balaghah-an yang ada didalamnya.

Sedangkan diantara para sahabat yang banyak menafsirkan al-Qur’an adalah keempat khalifah (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali), Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash dan Aisyah.

Dalam periode ini, tidak ada satu pun tafsir yang dibukukan, sebab pembukuan baru dilakukan pada abad kedua. Disamping itu, tafsir -di masa ini- hanya merupakan cabang dari hadits dan belum mempunyai bentuk yang teratur. Ia masih diriwayatkan secara bertebaran mengikuti ayat-ayat yang masih berserakan, tidak tertib atau berurutan sesuai sistematika ayat-ayat al-Qur’an dan surat-suratnya, pun juga tidak mencakup keseluruhannya.

Demikianlah, sekilas uraian mengenai perkembangan tafsir pada masa Nabi Saw dan Sahabat. Edisi selanjutnya –insyaallah– akan menghidangkan sekilas tentang perkembangan tafsir pada masa tabi’in. Jangan sampai ketinggalan! Semoga bermanfaat, salam literasi santri!

(Syekh Manna’ al-Qothon, Mabahits fi Ulum al-Quran [Dar al-Ilmi wa al-Iman, tanpa tahun terbit] Halaman 325-329, dengan sedikit perubahan)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *