Perkembangan Tafsir dari Masa ke Masa (Part 2)

Al-Qur’an adalah mukjizat Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah Swt menurunkannya kepada Nabi Muhammad Saw, demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya Ilahi, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah menyampaikannya kepada para sahabatnya -sebagai penduduk asli Arab- yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat yang mereka terima, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah.

Al-Qur’an adalah mukjizat Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya.

Dalam kajian tafsir “Perkembangan Tafsir dari Masa ke Masa, Part 1” telah dipaparkan sekilas tentang perkembangan tafsir pada masa Nabi Saw dan Sahabat. Pada kesempatan kajian kali ini, kami -Mahasantri Ma’had Aly Al-Iman Bulus- akan sedikit menghidangkan sekilas tentang perkembangan tafsir pada masa Tabi’in. Untuk lebih detailnya, kita simak paparan berikut.

Perkembangan Tafsir pada Masa Tabi’in

Kalau di kalangan sahabat banyak yang dikenal pakar dalam bidang tafsir, di kalangan tabi’in yang notabenenya menjadi murid mereka pun banyak pakar di bidang tafsir. Dalam menafsirkan, para tabi’in berpegang pada sumber-sumber yang ada pada masa para pendahulunya disamping ijtihad dan pertimbangan nalar mereka sendiri.

Menurut Syekh Husain adz-Dzahabi, dalam memahami Kitabullah, para mufassir dari kalangan tabi’in berpegang pada:

1). al-Qur’an;
2). Keterangan yang mereka riwayatkan dari para sahabat yang berasal dari Rasulullah;
3). Penafsiran para sahabat;
4). Ada juga yang mengambil dari ahli kitab yang bersumber dari isi kitab mereka;
5). Disamping itu, mereka juga berijtihad atau menggunakan pertimbangan nalar sebagaimana yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka.

Perlu diketahui, bahwasanya tafsir yang dinukil dari Rasulullah dan para sahabat tidaklah mencakup semua ayat al-Qur’an. Mereka hanya menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami bagi orang-orang yang semasa dengan mereka. Kemudian kesulitan ini semakin meningkat secara bertahap di saat manusia bertambah jauh dari masa Nabi dan sahabat.

Oleh karena itu, para tabi’in yang menekuni bidang tafsir merasa perlu untuk menyempurnakan sebagian kekurangan ini. Karenanya mereka pun menambahkan ke dalam tafsir beberapa keterangan yang dapat menghilangkan kekurangan tersebut.

Setelah itu munculah generasi sesudah tabi’in, generasi ini pun berusaha menyempurnakan tafsir al-Qur’an secara terus-menerus dengan berlandaskan pada pengetahuan mereka mengenai bahasa Arab dan cara bertutur kata, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnnya al-Qur’an yang mereka pandang valid dan pada alat-alat pemahaman serta sarana pengkajian lainnya.

Ketika penaklukan Islam semakin luas, beberapa tokoh sahabat terdorong untuk berpindah ke berbagai daerah taklukan. Mereka membawa ilmunya masing-masing. Dari tangan mereka inilah, tabi’in -murid mereka- belajar dan menimba ilmu, sehingga selanjutnya tumbuhlah berbagai madzhab dan perguruan tafsir.

Di Makkah -misalnya- berdiri perguruan Ibnu Abbas. Di antara muridnya yang terkenal adalah Sa’id bin Jubair, Mujahid. Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan Al-Yamani dan Atha’ bin Abi Rabah. Di Madinah, Ubay bin Ka’ab lebih terkenal di bidang tafsir daripada yang lain. Pendapat-pendapatnya tentang tafsir banyak dinukil generasi sesudahnya. Di antara muridnya dari kalangan tabi’in, ialah Zaid bin Aslam, Abu ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi. Di Irak berdiri perguruan Ibnu Mas’ud yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal bakal madzhab ahli ra’yi. Dan banyak pula tabi’in di Irak dikenal dalam bidang tafsir. Yang masyhur diantaranya adalah ‘Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, Murrah al-Hazani, Amir asy-Sya’bi, Hasan al-Basri dan Qatadah bin Diamah as-Sadusi.

Itulah para mufassir yang terkenal dari kalangan tabi’in yang ada diberbagai wilayah Islam, dan dari mereka pulalah generasi setelah tabi’in belajar. Mereka telah mewariskan warisan ilmiah yang abadi kepada kita.

Pada masa tabi’in ini, tafsir tetap konsisten dengan metode talaqqi wa talqin (penerimaan dan periwayatan). Akan tetapi setelah banyak ahli kitab masuk Islam, para tabi’in banyak menukil dari mereka cerita-cerita Isra’iliyat yang kemudian dimasukkan ke dalam tafsir. Misalnya, yang diriwayatkan dari Abdullah bin Salam, Ka’ab Al-Ahbar, Wahab bin Munabbih dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij.

Di samping itu, pada masa ini, mulai timbul silang pendapat mengenai status tafsir yang diriwayatkan dari mereka karena banyaknya pendapat-pendapat yang bersumber dari mereka.

Namun, meskipun demikian, berbagai pendapat tersebut sebenarnya hanya bersifat keberagaman pendapat, yang mana berdekatan antara satu pendapat dengan yang lainnya. Pun juga perbedaan tersebut hanya dari segi redaksional saja, bukan perbedaan yang bersifat kontradiktif.

Demikianlah, sekilas uraian mengenai perkembangan tafsir pada masa Tabi’in. Edisi selanjutnya –insyaallah– akan menghidangkan sekilas tentang perkembangan tafsir pada masa pembukuan (tadwin). Jangan sampai ketinggalan! Semoga bermanfaat, salam literasi santri!.

(Syekh Manna’ al-Qothon, Mabahits fi Ulum al-Quran [Dar al-Ilmi wa al-Iman, tanpa tahun terbit] Halaman 329-331, dengan sedikit perubahan)

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *