Perkembangan Tafsir dari Masa ke Masa (Part 3)

Al-Qur’an diturunkan untuk membimbing manusia kepada tujuan yang terang dan jalan yang lurus, menegakkan suatu kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah Swt dan risalah-Nya. Selain itu, ia juga memberikan pelajaran untuk mereka tentang bagaimana cara menyikapi sejarah masa lalu, kejadian-kejadian kontemporer, dan tentang berita-berita masa depan.

al-Qur’an memberikan pelajaran tentang bagaimana cara menyikapi sejarah masa lalu, kejadian-kejadian kontemporer, dan tentang berita-berita masa depan.

Dalam kajian tafsir “Perkembangan Tafsir dari Masa ke Masa, Part 2” telah dipaparkan sekilas tentang perkembangan tafsir pada masa Tabi’in. Pada kesempatan kajian kali ini, kami -Mahasantri Ma’had Aly Al-Iman Bulus- akan sedikit menghidangkan sekilas tentang perkembangan tafsir pada masa pembukuan (tadwin). Untuk lebih detailnya, kita simak paparan berikut.

Perkembangan Tafsir pada Masa Pembukuan (Tadwin)

Masa pembukuan dimulai pada akhir dinasti Bani Umayyah dan awal dinasti Abbasiyah. Pada periode ini, pembukuan hadits mendapat prioritas utama dengan mencakup berbagai bab. Tafsir hanya merupakan salah satu bab dari sekian banyak bab yang dicakupnya. Pada masa ini tafsir yang hanya memuat tafsir al-Qur’an, surat demi surat dan ayat demi ayat, dari awal al-Qur’an sampai akhir, dan memang belum dipisahkan secara khusus dari bab-bab hadits.

Perhatian segolongan ulama terhadap periwayatan tafsir yang dinisbatkan kepada Nabi, sahabat atau tabi’in sangat besar di samping perhatian terhadap pengumpulan hadits. Tokoh terkemuka di antara mereka dalam bidang ini adalah Yazid bin Harun As-Sulami (wafat. 117 H.), Syu’bab bin Al-Hajjaj (wafat. 160 H), Waki’ bin Jarrah (wafat 197 H.), Sufyan bin Uyainah (wafat. 198 H.), Rauh bin ‘Ubadah Al-Basri (wafat. 205 H.), Abdurrazzaq bin Hammam fat.211 H.), Adam bin Abu Iyas (w.220 H.), dan ‘Abd bin Humaid (wafat. 249 H.). Akan tetapi, tafsir pada periode ini sedikit pun tidak ada yang sampai kepada kita. Yang kita terima hanyalah nukilan-nukilan yang dinisbatkan kepada mereka sebagaimana termuat dalam kitab-kitab tafsir bil-ma’tsur.

Kemudian datang generasi berikutnya yang menulis tafsir secara khusus dan independen serta menjadikannya sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri, terpisah dari hadits. Al-Qur’an mereka tafsirkan secara sistematis sesuai dengan sistematika Mushaf. Mereka adalah Ibnu Majah (wafat.273 H.), Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat. 310 H), Abu Bakar bin Al-Mundzir An-Naisaburi (wafat. 318 H.), Ibn Abi Hatim (wafat. 327H.), Abu asy-Syaikh bin Hibban (wafat, 369H.), Al-Hakim (wafat. 405), dan Abu Bakar bin Mardawaih (wafat. 410 H.)

Tafsir generasi ini memuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah, sahabat, tabi’in dan tabi’in-tabi’in, dan terkadang disertai pen tarjih-an terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan dan melakukan istinbath sejumlah hukum serta penjelasan kedudukan i’rab-nya jika diperlukan, sebagaimana dilakukan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari.

Kemudian muncul sejumlah mufassir yang pada dasarnya tidak lebih dari tafsir bil-ma’tsur. Perbedaannya mereka hanya meringkas sanad-sanad yang berkaitan dengan tafsir dan menghimpun berbagai pendapat tanpa menyebut pemilik dari pendapat tersebut. Oleh karena itu persoalannya menjadi kabur dan riwayat-riwayat yang shahih bercampur dengan yang tidak shahih.

Ilmu ini semakin berkembang pesat, pembukuannya semakin sempurna, cabang-cabangnya bermunculan, perbedaan pun terus meningkat. Permasalahan kalam semakin memanas, fanatisme madzhab pun semakin serius, dan ilmu-ilmu filsafat bercampur aduk dengan ilmu ilmu naqli, serta setiap golongan hanya membela kepentingan madzhabnya masing-masing. Akibatnya disiplin ilmu tafsir khususnya, tercemar polusi tidak sehat.

Para mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an berpegang pada pemahaman pribadi dan mengarah ke berbagai kecenderungan, baik kecenderungan keilmiahan, pandangan madzhab maupun falsafi.

Masing-masing mufassir memenuhi tafsirnya hanya dengan ilmu yang paling dikuasainya tanpa memperhatikan ilmu-ilmu yang lain. Ahli ilmu rasional hanya memperhatikan dalam tafsirnya kata-kata pujangga dan filosof seperti Imam Fakhruddin ar-Razi. Ahli fikih hanya membahas soal-soal fikih, seperti Imam al-Jasshash dan Imam al-Qurthuby. Sejarawan hanya mementingkan kisah dan berita-berita, seperti Imam ats-Tsa’labi dan Imam al-Khazin.

Demikian juga golongan ahli bid’ah berupaya mena’wilkan kalamullah menurut selera madzhabnya yang rusak itu, seperti ar-Rummani, al-Jubba’i, Qadhi Abdul Jabbar dan az-Zamakhsyari dari kaum Mu’tazilah, pun juga Muhsin al-Kasyi dari golongan Syi’ah Imamiyah al-Itsna Asyariyah, dan golongan ahli tasawwuf hanya mengemukakan makna makna isyari (tersirat) seperti Ibn ‘Arabi. Di samping tafsir dengan corak tersebut,  banyak tafsir yang juga menitikberatkan pada pembahasan ilmu nahwu, sharaf dan balaghah.

Demikianlah, kitab-kitab tafsir menjadi kitab-kitab yang di dalamnya bercampur-aduk antara yang berguna dengan yang berbahaya, dan yang baik dengan yang buruk.

Masing-masing golongan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan penafsiran yang tidak dapat diterima oleh ayat itu sendiri demi mendukung kepentingan madzhabnya atau menolak pihak lawan, sehingga tafsir kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana petunjuk, pembimbing dan pengetahuan mengenai hukum-hukum agama.

Penulisan tafsir pada masa selanjutnya masih mengikuti pola di atas, yaitu golongan muta’akhirin tidak kreatif, yang hanya mampu mengambil penafsiran golongan mutaqaddimin, dengan cara meringkasnya di satu sisi dan memberinya komentar di sisi lain. Keadaan demikian terus berlanjut sampai lahirnya pola baru dalam tafsir modern, di mana sebagian mufassir memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kontemporer di samping upaya menyingkap dasar-dasar kehidupan sosial, prinsip-prinsip tasyri’ dan teori teori ilmu pengetahuan dari kandungan al-Qur’an sebagaimana terlihat dalam tafsir al-Jawahir, al-Manar dan Tafsir fi Zhilal al-Qur’an.

Demikianlah, sekilas uraian mengenai perkembangan tafsir pada masa pembukuan (tadwin). Yang sekaligus menjadi penutup dari seri kajian tafsir “Perkembangan Tafsir dari Masa ke Masa”. Nantikan seri kajian-kajian tafsir berikutnya, jangan sampai ketinggalan. Semoga bermanfaat, salam literasi santri!.

(Syekh Manna’ al-Qothon, Mabahits fi Ulum al-Quran [Dar al-Ilmi wa al-Iman, tanpa tahun terbit] Halaman 332-333, dengan sedikit perubahan)

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *