Pesan Tersirat dibalik Pensyari’atan Zakat

Zakat -seperti yang telah kita ketahui bersama- merupakan salahsatu bagian dari beberapa rukun Islam. Allah Swt telah mewajibkannya pada tahun kedua hijriyah. Secara umum, zakat terbagi menjadi dua bagian, yaitu zakat harta (mal) dan zakat jiwa (nafs), berupa zakat fitrah. Zakat harta memiliki beberapa ketentuan, melihat pada jumlah dan jenis harta yang dimiliki. Sedangkan zakat fitrah wajib dikeluarkan dalam setiap tahun, ketika bulan Ramadhan tiba bagi setiap jiwa, dengan syarat beragama Islam, menemui (hidup pada saat terbenamnya matahari) akhir Ramadhan, dan memiliki kelebihan rezeki atau kebutuhan pokok untuk malam dan Hari Raya Idul Fitri. Besarannya adalah beras atau makanan pokok seberat 2,5 kg per jiwa (ada yang berpendapat 2,7 kg).

قل التي بلغ النصابَ جمالُها ¤ إنّ الزكاة عن الجمال تبسّم
أدي إليّ زكاة حسنك واعلمي ¤ أن الأداء إلى سوايّ محرم

Sampaikan padanya, bahwa ia telah mencapai nishab kecantikannya. Zakatnya adalah dengan senyum indahnya. Tunaikan zakat keindahan itu padaku. Dan ketahuilah, jika ia serahkan pada selainku, maka ia telah berdosa.

Zakat fitrah merupakan penutup ibadah puasa Ramadhan yang dapat menutupi kekurangan-kekurangan mereka yang berpuasa dalam menjalankan ibadah selama sebulan penuh.

زَكَاةُ الْفِطْرِ لِشَهْرِ رَمَضَانَ كَسَجْدَتِي السَّهْوِ لِلصَّلَاةِ تَجْبُرُ نُقْصَانَ الصَّوْمِ كَمَا يَجْبُرُ السُّجُودُ نُقْصَانَ الصَّلَاةِ (المجموع شرح المهذب 6/140)

Kedudukan zakat fitrah di bulan ramadhan layaknya sujud sahwi dalam shalat, menambal kekurangan puasa sebagaimana sujud sahwi menambal kekurangan pada shalat (Imam Waki’ bin Jarrah)

Zakat fitrah memiliki dimensi sosial sehingga ibadah zakat juga memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu memiliki hubungan horizontal. Tidak diragukan lagi betapa besar hikmah di balik kewajiban zakat. Hikmahnya begitu tampak jelas bagi siapa pun yang mau merenungkannya.

Syekh Ali Ahmad al-Jurjawy, dalam kitabnya yang berjudul Hikmah at-Tasyri wa Falsafatuhu, mencoba menguak makna tersirat dibalik pensyariatan zakat fitrah tersebut. Menurut beliau, pesan tersirat dari zakat fitrah adalah:

1). Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dapat menuntun pelakunya pada kebaikan-kebaikan dalam menunaikan kewajiban tersebut. Dengan berpuasa, jiwanya benar-benar suci sebab menjauhi hal-hal yang diharamkan. Adapun cara menyucikan diri yang paling sempurna adalah dengan diwajibkannya zakat fitrah untuk meraih pahala yang lebih besar dan lebih bermanfaat.

2). Hikmah yang lain adalah bahwa orang yang berpuasa dengan mencegah makan di siang hari di bulan Ramadhan itu hendaknya mengetahui ukuran panas dan lapar. Sehingga dia memberikan makanan kepada orang fakir, menderita, dan miskin di hari yang diberkahi ini (hari raya) karena bersyukur kepada Allah Swt atas nikmat kekayaan yang dimiliki.

Nah, oleh karena di hari besar ini (hari raya idul fitri) seluruh umat Islam harus berada dalam keadaan riang gembira, maka memberikan zakat fitrah kepada orang fakir dan miskin itu merupakan sebuah cara yang dapat menghilangkan kesusahan lapar dan meringankan pengaruh yang berada pada diri orang fakir.

Hal tersebut karena orang fakir -di hari tersebut- melihat orang lainnya dalam hiasan pakaian dan kenyang makanan. (Syekh Ali Ahmad al-Jurjawy, Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, Dar al-Fikr, cet. kedua, 2003 M, Juz. 1, hal. 128)

Sedangkan dalam kitab Syarh Yaqut an-Nafis fi Madhab Idris, Habib Muhammad bin Ahmad Bin Umar asy-Syathiri menjelaskan sebagian dari hikmah di balik kewajiban zakat,

أما حكمة الزكاة فمعروفة وظاهرة وتبدو في هذا العصر أكثر، فمن شأنها التعاطف والتراحم، ولو أخرجت الزكاة ووزعت على وجهها الصحيح الشرعي لما بقي على وجه الأرض فقير أبدا. لأن ربنا جعل في أموال الأغنياء ما يكفي الفقراء

“Adapun hikmah zakat, maka sudah diketahui dan tampak jelas. Dan semakin tampak di masa sekarang. Termasuk dampak positif dari zakat adalah akan terjalin kasih sayang dan saling mengasihi. Seandainya zakat dibayarkan dan dibagikan sesuai dengan cara yang benar secara syar’i, niscaya selamanya di muka bumi tidak akan ada orang yang miskin. Karena sesungguhnya didalam harta para orang kaya, Allah Swt telah menetapkan sebagian hak yang bisa mencukupi para faqir.”

(Habib Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri, Syarh Yaqut an-Nafis, Beirut, Dar al-Minhaj, cet. ketiga, 2011 M, hal, 259)

Lebih jauh, Prof. Dr. Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul “Lentera Hati” berpendapat bahwasanya harta benda yang dikeluarkan benar-benar menjadi zakat dalam arti ‘menyucikan’ dan ‘mengembangkan’ jiwa dan harta benda pelaku kewajiban ini.

Kesucian jiwa melahirkan ketenangan batin, bukan hanya bagi penerima zakat tetapi juga bagi pemberinya. Karena kedengkian dan iri hati dapat tumbuh pada saat seseorang yang tak berpunya melihat seseorang yang berkecukupan namun enggan mengulurkan bantuan. Kedengkian ini melahirkan keresahan bagi kedua belak pihak.

Pengembangan harta akibat zakat, bukan hanya ditinjau dari aspek spiritual keagamaan berdasarkan ayat Allah “memusnahkan riba dan mengembangkan sedekah/zakat” (QS 2: 276). Namun, zakat juga harus ditinjau secara ekonomis-psikologis, yakni dengan adanya ketenangan batin dari pemberi zakat, ia akan dapat lebih mengkonsentrasikan usaha dan pemikirannya guna pengembangan hartanya. Di samping itu, pemberian zakat mendorong terciptanya daya beli baru dan daya produksi dan para penerima tersebut.

Demikianlah beberapa dari berbagai pesan tersirat dalam pensyariatan zakat fitrah, tentunya masih banyak pesan tersirat yang tidak dapat dihidangkan pada kesempatan kali ini.

Akhir kata,

وإن تجــد عيبـا فسـدّ الخـللا ¤ فــجلّ من لا عيب فيه وعــلا

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *