Rahasia dibalik Produktivitas Imam ath-Thabari

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid bin Katsir Abu Ja’far ath-Thabari. Beliau berasal dari daerah Amil. Dilahirkan pada 224 H dan wafat pada 310 H di Baghdad.

Beliau adalah seorang Ulama yang sulit dicari bandingannya, banyak meriwayatkan hadits, luas pengetahuannya dalam bidang penukilan, penarjihan riwayat-riwayat, sejarah tokoh dan umat masa lalu. (Syekh Manna’ al-Qothon, Mabahits fi Ulum al-Quran [Dar al-Ilmi wa al-Iman, tanpa tahun terbit] Halaman 373)

Karya Tulis

Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa beliau Imam ath-Thabari dilahirkan tahun 224 H, dan wafat pada tahun 310 H. Beliau hidup selama 86 tahun. Kalau kita kurangi usia beliau sebelum baligh, dan taruhlah sekitar 14 tahun, berarti yang tersisa dari usia beliau adalah 72 tahun, dengan setiap hari menyusun 14 lembar tulisan.

Kalau ditotal jumlah hari selama 72 tahun, dan kita hitung setiap hari beliau menyelesaikan 14 lembar, maka total jumlah karya tulis beliau adalah sekitar 358.000 lembar.

Para Ulama menghitung masing-masing dari kitab tarikh dan tafsir beliau sejumlah 3.000 lembar. Kedua kitab itu totalnya berjumlah 7.000 hingga 8.000 lembar. Dalam kondisi tercetak, kitab tafsir beliau hadir dalam 8.000 lembar. Sementara kitab tafsirnya tercetak dalam 30 jilid besar. Masing-masing dari satu jilid kitab tersebut sebenarnya betasal dari beberapa jilid yang dirangkum menjadi satu. (Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Qimah az-Zaman ‘indal Ulama [Dar as-Salam, 1440 H] Halaman 78)

Imam ath-Thabari menulis kitab cukup banyak, antara lain:

1). Jami’al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Tafsir ath-Thabari)
2). Tarikh al-Umam wa al-Muluk wa Akhbaruhum
3). Al-Adab al-Hamidah wa Akhlak an-Nafisah
4). Tarikh ar-Rijal
5). Ikhtilaf al-Fuqaha
6). Tadzhib al-Atsar
7). Kitab Basith fi al-Fiqh
8). al-Jami’ fi al-Qira’at
9). Tabshir fi Ushul

Tentang Kitab Tafsirnya

Kitab beliau tentang tafsir, Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, merupakan tafsir paling besar dan utama, yang menjadi rujukan penting bagi mufassir bil ma’tsur. Beliau memaparkan tafsir dengan menyandarkannya kepada sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Selain itu, beliau juga mengemukakan berbagai pendapat dan mentarjihkan sebagiannya atas yang lain.

Para Ulama sependapat bahwa belum pernah sebuah kitab tafsir pun yang ditulis sepertinya. Imam an-Nawawi dalam kitab Tadzhib-nya mengemukakan nada yang sama dalam menilai kitab tafsir ini.

Imam ath-Thabari mempunyai keistimewaan tersendiri berupa istinbath hukum yang hebat, pemberian isyarat terhadap kata-kata yang samar i’rob-nya. Oleh karena itu lah, kitab tafsir tersebut berada diatas kitab-kitab¬† tafsir yang lainnya, sehingga Imam Ibnu Katsir pun banyak menukil darinya.

(Syekh Manna’ al-Qothon, Mabahits fi Ulum al-Quran [Dar al-Ilmi wa al-Iman, tanpa tahun terbit] Halaman 373)

Manajemen Waktu dan Aktivitas Imam ath-Thabari

Didepan telah disebutkan bahwasanya beliau merupakan salahsatu Ulama yang sangat produktif dalam menulis, yang terbukti dengan banyaknya hasil karya yang telah beliau bukukan.

Semua itu, tak mungkin beliau lakukan jikalau beliau tidak mampu memanajemen waktunya, dan tidak mengetahui bagaimana cara mengisi waktu-waktu dalam hidupnya dengan berbagai pelajaran yang dituangkan dalam penyusunan karya ilmiah.

Al-Qadhi Abu Bakar bin Kamil Ahmad bin Kamil asy-Syajari, murid sekaligus sahabat Imam ath-Thabari, pernah menggambarkan bagaimana beliau memanajemen waktu dan aktivitasnya. Ia menceritakan,

“Bila makan siang telah selesai, Imam ath-Thabari tidur dengan mengenakan khaisy (sejenis pakaian yang bahannya tipis, jahitannya kasar, dibuat dari sisa-sisa bahan katun). Kemudian beliau bangun dan menunaikan shalat dzuhur. Setelah itu, beliau menyusun tulisan hingga waktu ashar. Lalu, beliau baru keluar untuk menunaikan shalat ashar. Kemudian setelah itu, beliau memberikan pelajaran kepada kaum muslimin, membacakan hadits, atau menyimak murid-muridnya menyetor hadits hingga waktu maghrib. Usai shalat, beliau memberikan pelajaran fiqh dan pelajaran lain hingga waktu isya di waktu ta’khir (sepertiga malam pertama). Baru setelah itu, beliau pulang kerumahnya. Beliau telah membagi-bagi waktunya untuk kemaslahatan beliau pribadi, agama dan manusia, sesuai petunjuk yang diberikan oleh Allah kepadanya.”

(Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Qimah az-Zaman ‘indal Ulama [Dar as-Salam, 1440 H] Halaman 79)

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *