Ramadhan: Satu Nama, Beragam Asal Usulnya

Bulan Ramadhan yang disebutkan satu kali di dalam al-Qur’an, sudah ada sebelum Islam datang atau masa Jahiliyah, karena penamaan bulan-bulan hijriah mengadopsi dari tradisi penanggalan bangsa Arab pra-Islam.

Bulan Ramadhan pada masa Jahiliyah merupakan bulan mulia bagi masyarakat Jazirah Arab.

Syekh Kholil Abdul Karim (1930-2002 M) dalam kitabnya al-Judzur at-Tarikhiyah li Syari’ah al-Islamiyah mengatakan bahwa kakek Rasulullah dan paman Umar bin Khattab, yaitu Abdul Muththalib dan Zaid bin Amr bin Nufail selalu ber-tahannus (ibadah) di gua Hira pada setiap bulan Ramadhan, bersedekah, dan berderma makanan. Tradisi tahannuts Abdul Muththalib ini kemudian ditiru oleh cucunya sampai datangnya wahyu pertama kali, yang juga turun pada saat bulan Ramadhan. 

Lalu, bagaimanakah sebenarnya asal-usul penamaan bulan suci ini ?

Imam an-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, yang mengutip dari Imam al-Wahidi, menyebutkan beberapa pendapat ahli bahasa, terkait asal penamaan ramadhan, berikut adalah penjelasannya:

Pertama, kata ramadhan diambil dari kata “ar-Ramd” (الرمض) yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan Ramadhan karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik. Pendapat ini disampaikan oleh al-Ashma’i (ulama ahli bahasa dan syair arab) (w. 216 H), dari Abu Amr.

Kedua, diambil dari kata “ar-Ramidh” (الرميض), yang artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-Ramidh karena melunturkan pengaruh panasnya matahari. Sehingga bulan ini disebut Ramadhan, karena ia membersihkan badan dari berbagai dosa. Ini merupakan pendapat al-Kholil bin Ahmad al-Farahidi (ulama tabiin ahli bahasa, peletak ilmu arudh) (w. 170 H).

Ketiga, nama ini diambil dari pernyataan orang arab, (رمضت النصل) yang artinya mengasah tombak dengan dua batu sehingga menjadi tajam. Bulan ini dinamakan dengan ‘Ramadhan’ karena masyarakat Arab di masa silam mengasah senjata mereka di bulan ini, sebagai persiapan perang di bulan Syawal, sebelum masuknya bulan haram. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Azhari (ulama ahli bahasa, penulis Tahdzib al-Lughah) (w. 370 H).

Kemudian Imam an-Nawawi menyebutkan keterangan al-Wahidi,

قال الواحدي: فعلى قول الأزهري: الاسم جاهلي، وعلى القولين الأولين يكون الاسم إسلاميًا

Imam al-Wahidi mengatakan, berdasarkan keterangan al-Azhari, berarti ramadhan adalah nama yang sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Sementara berdasarkan dua pendapat pertama, berarti nama ramadhan adalah nama islami.

(Imam an-Nawawi, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat [Dar al-Kutub al-Ilmiyyah] 3/126).

Syekh Ahmad Arif Hijazi Abdul Alim (1959–sekarang) dalam kitabnya Asma’ asy-Syuhur al-’Arabiyah berpendapat bahwa penamaan bulan-bulan hijriyah ada yang berlatar belakang religi (Muharam dan Dzul Hijjah), sosial (Safar, Sya’ban, Syawwal, Dzul Qa’dah), sosial-religi (Rajab), sosial-ekologis (Rabiul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Tsaniyah). 

Sementara itu, latar belakang penamaan bulan Ramadhan bersifat ekologis-geografis, sesuai dengan kondisi cuaca musim panas di kawasan Arab waktu itu yang dikenal dengan istilah ramdha, satu akar kata dengan Ramadhan.

Jadi, bulan Ramadhan lekat dengan arti ‘panas’ karena memang penamaan bulan-bulan Arab pra-Islam didasarkan pada realitas sosial dan cuaca geografisnya. Sekitar dua abad sebelum Islam, Kilab bin Murroh, salah satu leluhur Nabi Muhammad mengusulkan penamaan bulan-bulan dalam sistem penanggalan bangsa Arab. Salah satu dari nama bulan tersebut adalah Ramadhan.

Lebih jauh, Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya “Lentera Hati”, berpendapat bahwasanya Ramadhan terambil dari akar kata yang berarti “membakar” atau “mengasah”.

Ia dinamai demikian karena pada bulan tersebut dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar, akibat kesadaran dan amal salehnya. Atau disebut demikian karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk ‘mengasah’ dan ‘mengasuh’ jiwa manusia.

Bulan Ramadhan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan. Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya. Bagi yang lalai, tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *