Resep agar dapat Menghafal Sekaligus Memahami Pelajaran

Dalam menghafal dan memahami teks suatu bacaan, ada sebagian orang yang berbeda-beda dalam tingkat kemampuannya. Terkadang ada sebagian orang yang pandai dalam memahami teks suatu bacaan, namun kurang cakap dalam hafalannya, pun juga sebaliknya terkadang ada sebagian orang yang tingkat hafalannya cukup mumpuni, namun kurang cakap dalam memahami suatu teks bacaan.

Dalam kitab Majmu’ah Sab’ah Kutub al-Mufidah, disebutkan bahwasanya Imam ar-Roziy menjelaskan sebagai berikut:

قال الرازي: الحكماء يقولون: “لا يجتمع الحفظ و الفهم على سبيل الكمال؛ لأن الفهم يستدعي مزيد رطوبة في الدماغ، و الحفظ يستدعي مزيد يبوسة، و الجمع بينهما على سبيل التساوي ممتنع عادة. اه – و من اقوى أسباب الحفظ و الفهم؛ تقوى الله تعالى، و ترك المعاصي، و تكميل الفرائض، و كثرة الصلاة على النبي -صلى الله عليه و سلم-، و التحرز عن أسباب الهم كالدين و نحوه. اه

Imam ar-Rozy berkata: para ahli hikmah berkata:

“Kekuatan menghafal dan kekuatan memahami tidak akan berkumpul secara sempurna pada seseorang, karena sesungguhnya daya ‘memahami’ mengharuskan adanya keadaan basah didalam otak. Sedangkan daya ‘menghafal’ mengharuskan adanya keadaan kering didalam otak. Sedangkan mengumpulkan keduanya secara seimbang adalah suatu hal yang teramat sulit menurut adat (kebiasaan)”.

Adapun sebagian dari beberapa sebab yang dapat memperkuat daya menghafal dan daya memahami adalah:

  1. Bertakwa kepada Allah swt
  2. Meninggalkan semua bentuk kemaksiatan
  3. Melakukan sholat fardhu secara sempurna
  4. Memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw
  5. Meninggalkan sebab-sebab yang dapat menyebabkan kesusahan, seperti hutang dan sebagainya.
    (Majmu’ah Sab’ah Kutub al-Mufidah, hal. 13, cet. al-Haramain)

Hal pertama yang tidak perlu diragukan lagi dibalik kehebatan hafalan para ulama, termasuk dibalik kesungguhan dan kerja keras mereka dalam menuntut ilmu adalah adanya niat yang tulus karena Allah Swt. Syekh Badruddin Ibnu Jama’ah al-Kinani, dalam kitab Tadzkirah as-Saami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Mutakallim mengatakan: “Berniat yang baik dalam menuntut ilmu adalah dengan bertujuan untuk mencari ridha Allah Swt, untuk mengamalkannya, menghidupkan syari’at, menyinari hati, membersihkan batin, memperoleh kedekatan dengan Allah Swt di hari kiamat, dan untuk mendapatkan apapapun yang dipersiapkan oleh Allah Swt bagi sang pemilik ilmu berupa keridhaan dan keagungan karunia-Nya”.

Lebih jauh, Ibnu Abbas ra -yang dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar nya- pernah berkata, “Sesungguhnya seseorang itu mampu menghafal tergantung pada niatnya”. Jadi, niat itu sendiri pun sebenarnya sangat menentukan pada berhasil atau tidaknya seseorang dalam menghafal.

Setelah memperbaiki niat, hal yang perlu dilakukan agar seseorang dapat memperkuat daya menghafal dan daya memahami adalah meninggalkan semua bentuk kemaksiatan. Salahsatu alasan mengapa maksiat merupakan salahsatu penghambat seseorang dalam menuntut ilmu, dan termasuk yang menjadikan seseorang sulit menghafal bahkan sulit menjaga sesuatu yang sudah dihafal adalah bahwasanya biasanya perbuatan maksiat itu menjadikan hati seseorang tidak tenang dan tidak fokus, yang apabila terus menerus menyerang penghafal, tentu akan menjadikannya juga tidak fokus terhadap hafalannya. Darisitulah, kemudian ia akan cepat lupa pada hafalannya.

Biasanya perbuatan maksiat itu menjadikan hati seseorang tidak tenang dan tidak fokus, yang apabila terus menerus menyerang penghafal, tentu akan menjadikannya juga tidak fokus terhadap hafalannya. Darisitulah, kemudian ia akan cepat lupa pada hafalannya.

Meninggalkan maksiat sebenarnya menjadi syarat mutlak bagi siapapun yang ingin dibukakan hatinya (futuh) oleh Allah Swt. Imam Syafi’i -yang dikutip dalam kitab al-Majmu’ Syarh Muhadzab- pernah berkata,

وَقَالَ (الشافعي) مَنْ أَحَبَّ أَنْ يقتح اللَّهُ قَلْبَهُ أَوْ يُنَوِّرَهُ فَعَلَيْهِ بِتَرْكِ الْكَلَامِ فيما لا يعنيه واجتناب الْمَعَاصِي وَيَكُونُ لَهُ خَبِيئَةٌ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عَمَلٍ: وَفِي رِوَايَةٍ فَعَلَيْهِ بِالْخَلْوَةِ وَقِلَّةِ الْأَكْلِ وَتَرْكِ مُخَالَطَةِ السُّفَهَاءِ وَبُغْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ الَّذِينَ لَيْسَ مَعَهُمْ إنْصَافٌ وَلَا أَدَبٌ. (المجموع، [١]: ١٣)

“Barangsiapa yang menginginkan agar Allah Swt membukakan atau menerangi hatinya (futuh), maka wajib baginya meninggalkan ucapan yang tidak bermanfaat, meninggalkan perbuatan dosa, menjauhi maksiat, serta merahasiakan amalan yang seharusnya hanya ia dan Allah Swt saja yang mengetahuinya. Maka, sungguh jika ia mampu melakukan hal tersebut, niscaya Allah Swt akan membukakan hatinya (futuh) untuk menerima ilmu”. Dalam riwayat lain, “hendaknya ia ber-kholwah, menyedikitkan makanan, tidak berbaur dengan orang-orang bodoh, tidak suka dengan ahli ilmu yang tak punya sifat inshāf (adil) dan tidak beradab”.

Selain itu, beliau juga pernah mengungkapkan sebuah syair dalam kitab Diwan asy-Syafi’i,

شكوتُ إلى وكيع سوء حفظي # فأرشدني إلى ترك المعاصى
وأخــبـرني بأنّ العــلـم نــور # ونــور الله لا يـهـدى لعــاصى

“Aku mengeluh kepada Imam Waki’ tentang buruknya hafalanku. Kemudian beliau pun memberiku petunjuk agar aku meninggalkan maksiat. Beliau mengatakan kepadaku bahwa sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah Swt tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat”.

Walhasil, demikianlah beberapa resep agar dapat memadukan hafalan dan pemahaman yang bisa kami hidangkan pada kesempatan kali ini. Tentunya -karena keterbatasan kami- masih banyak resep lainnya yang belum dapat dihidangkan pada kesempatan kali ini.

Akhir kata,

وإن تجــد عيبـا فسـدّ الخـللا ¤ فــجلّ من لا عيب فيه وعــلا

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *