Sejarah Puasa Ramadhan

Syekh Muhammad Hasan al-Hitou menjelaskan dalam kitabnya Fiqh ash-Shiam bahwasanya pada masa awal Islam, Nabi Muhammad Saw berpuasa pada hari Asyuro’ dan tiga hari dalam setiap bulan. Saat Nabi tiba di Madinah -tepatnya pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah- Allah Swt menurunkan perintah kewajiban puasa Ramadhan dalam Surah al-Baqarah: 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Pada fase ini, ibadah puasa belum bersifat wajib, melainkan masih opsional yang dibuktikan dengan ayat berikutnya yakni Surat al-Baqarah ayat 184:

وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ

“Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin”. (al-Baqarah [2]:184)

Ayat ini secara jelas menunjukan bahwa pada saat itu puasa masih bersifat opsional, yakni bagi yang hendak melaksanakan boleh-boleh saja, sedangkan yang tidak melaksanakan menggantinya dengan membayar fidyah, yakni memberi makan seorang miskin.

Kemudian Allah Swt menurunkan Ayat berikutnya, Surat al-Baqarah: 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah”. (al-Baqarah [2]:185)

Ayat ini merupakan ayat pamungkas yang menjelaskan kewajiban puasa ramadhan sekaligus menasikh (menghapus) ayat sebelumnya. Allah mewajibkan puasa bagi orang yang sehat dan orang yang sedang tidak dalam bepergian dan menetapkan aturan membayar fidyah sebagai ganti dari puasa yang ditinggalkan bagi orang yang sudah tua renta dan tidak mampu untuk berpuasa. (Muhammad Ali ash-Shobuny, Rowai’ al-Bayan, [Beirut, Maktabah al-Ghozali:1400H/1980M] juz 1, halaman 190).

Pada awal-awal disyariatkannya puasa, beberapa ketentuannya tidaklah sama sepertihalnya puasa yang kita kenal pada saat ini. Kesamannya hanya dalam waktu berpuasa yaitu mulai dari terbitnya fajar sampai tengelamnya matahari.

Sedangkan ketidaksamaan yang dimaksud disini adalah diharamkanya bagi orang yang berpuasa untuk makan, minum, berhubungan suami istri dan segala yang dapat membatalkan puasa dimulai sejak tidur atau setelah shalat isya.

Oleh karena itu, kapan saja ditemukan dari keduanya baik tidur ataupun shalat isya, maka telah diharamkan baginya segala yang dilarang bagi orang yang berpuasa.

Kemudian Allah Swt menurunkan al-Qur’an surah al-Baqarah: 187 sebagai pe-nasikh (penghapus) hukum sebelumnya,

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ

“Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar”.

Banyak riwayat yang menceritakan tentang sebab turunnya ayat ini, antara lain riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dari Ka’ab Bin Malik:

Pada awal diwajibkan ibadah puasa, para sahabat Nabi Saw diperbolehkan makan, minum, dan bersetubuh sampai shalat Isya atau tidur. Apabila mereka telah shalat Isya atau tidur, kemudian bangun maka haramlah bagi mereka semua perkara tersebut.

Pada suatu waktu, ‘Umar bin al-Khaṭṭāb bersetubuh dengan istrinya sesudah menunaikan shalat Isya, kemudian beliau sangat menyesal atas perbuatan tersebut dan menyampaikannya kepada Rasulullah Saw. Maka turunlah ayat ini sebagai penjelasan atas hukum Allah yang lebih ringan daripada yang telah mereka ketahui dan mereka amalkan. Bahwa sejak terbenamnya matahari (magrib) sampai sebelum terbit fajar (subuh), dihalalkan semua apa yang tidak diperbolehkan pada siang hari pada bulan Ramadhan. (Syekh Muhammad Hasan al-Hitou, Fiqh ash-Shiam, [Beirut, Dar-Basyair al-Islamiyah: 1408H/1988M] halaman 13).

Wallahu ‘alamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *