Studi Banding Ma’had Aly Al-Iman Bulus Purworejo

Pesantren Tebuireng, Jombang – Mengawali awal tahun 2022, bertepatan hari Kamis, (13/01) Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Gebang, Purworejo, Jawa Tengah, alhamdulilah telah melangsungkan ‘Studi Banding’ ke Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur dengan lancar dan semestinya. Adapun pesertanya ialah mahasantri semester 8 (angkatan pertama), perwakilan anggota Dema (Dewan Eksekutif Mahasantri), dan dewan dosen beserta staf Ma’had Aly Al-Iman Bulus.

Secara umum, studi banding merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk menambah wawasan, ilmu, serta pengetahuan yang mana bisa diterapkan di perjalanan kedepannya sehingga menjadi lebih baik.

Peserta Studi Banding

Penetapan lokasi studi banding ini tentu bukan asal-asalan, menurut penuturan Mudir Ma’had Aly Al-Iman Bulus, K. Nasrudin, S.Pd.I, M.S.I., alasan pertama ialah mudir daripada Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (KH. Nur Hannan, Lc., M.HI.) merupakan ketua Amali (Asosiasi Ma’had Aly Indonesia), sehingga menjadi ajang untuk silaturahmi, belajar, dan bertukar pikiran tersendiri bagi mudir Ma’had Aly Al-Iman yang mana belum pernah bertatap muka secara langsung dengan beliau.

Kenapa ke Ma’had Aly Hasyim Asy’ari?

Alasan kedua telah diketahui, bahwa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari telah diakreditasi dengan predikat A, tentu darinya bisa menjadi rujukan belajar para dosen serta staf, sehingga bisa menyiapkan segala yang diperlukan saat akreditasi tiba.

Yang ketiga yaitu agar mahasantri angkatan pertama bisa belajar tentang penyusunan risalah secara lebih rinci, karena Ma’had Aly Hasyim Asy’ari telah meluluskan banyak wisudawan yang tentunya bukan kaleng-kaleng alias tak sekedar kuantitas, namun juga berkualitas.

Yang keempat dikarenakan pada 22-24 Februari mendatang Ma’had Aly Al-Iman Bulus akan menjadi tuan rumah Kongres Dema Amali ke-3, tentu perwakilan dari Dema bisa belajar darinya, karena Ma’had Aly Hasyim Asy’ari telah terbukti sukses menjadi tuan rumah Kongres Dema Amali perdana.

Ziarah Makam Gus Dur

Ziarah

Sebelum masuk ke sesi acara inti, peserta studi banding terlebih dahulu ziarah ke makam Bapak Pluralisme, KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dengan panggilan Gus Dur, kemudian pendiri Ponpes Tebuireng serta ormas Islam terbesar di dunia (NU), Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, dan sekitarnya. Terakhir KH. Abdul Aziz Manshur (Paculgowang/adik KH. Anwar Manshur Lirboyo) pun tak lupa untuk diziarahi. Baru disiang hari, sekitar pukul 14.00 WIB acara studi banding dilaksanakan. Yaitu di perpustakaan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari yang berada di lantai satu.

Sambutan Habib Faqih Ba’abud

Acara Inti

Setelah disambut dengan begitu hangat acara pembukaan dipimpin oleh Dr. Anang Firdaus (dosen Ma’had Aly Hasyim Asy’ari). Baru kemudian Habib Faqih Muqoddam Ba’abud memberikan sambutan, dalam sambutannya beliau mengungkapkan tujuan dari kedatangan rombongan, yang tak lain tak bukan ialah belajar, ngangsu kaweruh studi banding. Sebab umur dari Ma’had Aly Al-Iman Bulus, yang masih relatif muda, yaitu berjalan 4 tahun.

Sambutan Kiai Hanan

Sambutan Kiai Hanan

Tak ketinggalan, Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari KH. Nur Hannan, Lc., M.H.I. juga memberikan sambutan. Beliau menyampaikan bahwa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sudah berdiri sejak 2006. Yang mana saat itu ijazah formal belum diakui. Pengajuan-pengajuan pun diajukan melalui proses yang panjang. Pada tahun 2012 akhirnya sudah diakui oleh negara sabagai perguruan tinggi yang terdapat dalam Undang-undang. Namun baru 2016 menteri agama memberikan SK, yang mana bersamaan dengan itu Ma’had Aly Hasyim Asy’ari mengadakan wisuda ke-4. Pada 2019, terdapat regulasi Ma’had Aly dalam UU pesantren, disebutkan di dalamnya, yang mana mengharuskan akreditasi Ma’had Aly. Kemudian oleh Dirjen Kemenag dibentuklah panitia yang berjumlah 9 untuk mengatur proses akreditasi Ma’had Aly. Dan Kiai Hanan juga termasuk dalam panitia tersebut. Setelah melalui berbagai tahap, 21 Ma’had Aly telah melakukan akreditasi di tahap awal, termasuk Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, yang memperoleh mumtaz A. Panitia yang bertugas mengurus akreditasi, yang disitu ada evaluasi dan penilaian, saat ini disebut Majlis Masyayikh yang berjumlah 9 yang mana angat mengetahui seluk beluk pesantren. Sementara mengenai risalah, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sudah menerbitkan buku pedoman risalah berbahasa Arab. Pemaparan risalah lebih rinci diterangkan oleh Dr. Anang Firdaus. Tidak berhenti disitu, Kiai Hanan memaparkan bahwa Dema di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sangat membantu kegiatan-kegiatan kemahasantrian, yang mana biaya diambil dari iuaran mahasantri, sebab di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari tidak menarik uang gedung dan sejenisnya, biaya perkuliahan mahasantri ditanggung penuh oleh Yayasan Hasyim Asy’ari.

Penjelasan Risalah Oleh Kiai Firdaus

Pertemuan Dema

Lepas daripada itu, Dema Ma’had Aly Al-Iman Bulus juga bersilaturahmi dengan Dema Ma’had Aly Hasyim Asy’ari di kantor Dema di lantai dua. Adapun isi pembicaraanya ialah saling bertukar cerita mengenai berbagai pengalaman dan juga problematika, keaktifan organisasi, dan terakhir mengukuhkan rencana Kongres Dema Amali ke-3. Begitu banyak antusias dari para anggota Dema & Sema Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, itulah kesimpulan dari obrolan yang diselangi gelak tawa, menandakan begitu mudah akrabnya para aktivis Ma’had Aly tersebut. Dema ialah organisasi yang menjalankan berbagai progam, sedangkan Sema ialah pengawas jalannya progam sekaligus perancang undang-undang untuk kemaslahatan mahasantri. “Jadi posisi Sema dibawah staff kemahasantrian, naib mudir, dan mudir.” Ungkap Fahmi, Presma (Presiden Dema) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. “Ma’had Aly Hasyim Asy’ari berdiri 2006, sedangkan Dema sendiri baru ada pada tahun 2009. Sedangkan Ma’had Aly Al-Iman sudah ada sejak tahun-tahun awal, itu merupakan sebuah prestasi.” Terang Rizal, salah satu Dema yang juga aktif di Dema Amali. Dema/Bem ialah organisasi mahasantri di setiap Ma’had Aly, sedangkan Dema Amali ialah organisasi mahasantri tingkat nasional. Adapun berbagai kegiatan baik harian, mingguan, bulanan, atau tahunan, dana turun dari kampus (iuran mahasantri yang ditagih oleh kampus dan progam peduli Dema Ma’had Aly oleh para alumni), terkadang juga dari Pondok Pesantren Tebuireng sendiri. Selain memang benar-benar terfasilitasi, semangat berorganisasi Ma’had Aly Hasyim Asy’ari memanglah tinggi, terlihat dari banyaknya program yang telah berjalan, seperti kegiatan menulis, desaign, qiro’ah, beladiri, dakwah, dll. Terkadang pula para mahasantri malah menawarkan diri untuk bergabung dalam kegiatan organisasi tersebut. “Jadi, kita sebar tuh, ketika mau ada acara, siapa yang mau ikut jadi panitia, nggak harus Dema, yah, lumayanlah, banyak yang menawarkan diri. Nah kalo bergabung di keanggotaan Dema, maka dia harus berkomitmen dan fokus, artinya nggak banyak yang menjadi tanggung jawabnya selain di organisasi Dema ini.” Terang Fahmi lagi yang begitu antusias menjelaskan.

Perwakilan Dema Ma’ha Aly Al-Iman & Hasyim Asy’ari

Pertemuan Staf

Bersamaan dengan dua pertemuan diatas, beberapa dosen dan juga staf Ma’had Aly Al-Iman juga melaksanakan pertemuan dengan Mudir beserta stafnya di ruang TU (Tata Usaha) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari guna mempelajari lebih detail mengenai syarat dan ketentuan akreditasi.

Staf Ma’had Aly Al-Iman & Hayim Asy’ari

Acara yang harus berakhir dikarenakan hari yang mulai gelap yang mana waktu juga terbatas, ditutup dengan penyerahan cendramata dan foto bersama. Harapannya, dengan adanya acara studi banding ini, semoga Ma’had Aly Al-Iman Bulus Purworejo bisa benar-benar menyerap dan menerapkan ilmu dan pengetahuan yang didapatkan, sehingga bisa menjadi tonggak untuk kemaslahatan baik agama, sosial, maupun negara. Aamin.

Penyerahan Cenderamata
Lihat juga: Dokumentasi Kegiatan studi banding Ma’had Aly Al-Iman Bulus Purworejo

Oleh: Muhammad Istikmal (MS angkatan 2)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *