Syekh Wahbah az-Zuhaily, Pakar Fiqh yang Mufassir

Nama lengkapnya adalah Wahbah Mustafa az-Zuhaily. Beliau dilahirkan didesa Dir Athiyah, daerah Qalmun, Damaskus Syiria pada 6 Maret 1932 M/1351 H. Julukan az-Zuhaily adalah nisbat dari kota Zahlah salah satu nama daerah tempat leluhurnya tinggal di Lebanon. Ayahnya bernama Musthafa az-Zuhaily yang merupakan seseorang yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaannya. Ibunya bernama Fathimah bin Musthafa Sa’dah, dikenal dengan sosok yang kuat berpegang teguh pada ajaran agama.

Karya Intelektual Syekh Wahbah

Syekh Wahbah az-Zuhaily berpandangan bahwasanya seorang alim seyogyanya tidak berhenti pada aktivitas mengajar dan berdakwah dari mimbar ke mimbar saja, tapi juga harus menulis buku.

Sebab, dengan menulis, pemikiran-pemikirannya dapat terpelihara, dapat diakses khalayak luas, dan menjadi warisan yang tidak lekang oleh waktu.

Demikian tradisi Ulama klasik mengabadikan pemikirannya melalui budaya literasi yang bisa dinikmati sampai sekarang. Beranjak dari pandangan itulah, Syekh Wahbah telah menulis lebih dari seratus buah kitab.

Syekh Dr. Badi’ As-Sayyid Al-Lahham dalam biografi  Syekh Wahbah yang ditulisnya yang berjudul Wahbah Az-Zuhaily al-‘Alim wa al-Faqih wa al-Mufasir menyebutkan, ada 199 karya Syekh Wahbah selain jurnal. Demikian produktifnya Syekh Wahbah dalam menulis, sehingga Dr. Badi’ mengumpamakannya seperti Imam as-Suyuthy (w. 1505 M), yang menulis 300 judul buku di masa lampau. Di samping itu masih ada karya-karyanya berupa makalah-makalah ilmiah yang mencapai lebih dari 500 buah. Suatu usaha yang jarang dapat di lakukan oleh ulama masa kini, sehingga patutlah beliau disebut sebagai Imam As-Suyuthi yang Kedua (As-Suyuthi ats-Tsani) pada zamannya ini. Di antara kitab-kitab nya adalah sebagai berikut:

1). Atsar al-Harb fi al-Fikih al-Islami, Dirasat Muqaranah, Dar al-Fikr, Damaskus, 1963.
2). Al-Wasit fi  Usul al-Fikih, Universitas Damaskus, 1966.
3). Al-Fikih al-Islami fi  Uslub al-Jadid, Maktabah al-Hadithah, Damaskus, 1967.
4). Nazariat ad-Darurat asy-Syar’iyyah, Maktabah al-Farabi, Damaskus, 1969.
5). Nazariat ad-Daman, Dar al-Fikr, Damaskus, 1970.
6). Al-Usul al-Ammah li Wahdah ad-Din al-Haq, Maktabah al-Abassiyah, Damaskus, 1972.
7). Al-Alaqat ad-Dawliah fi  al-Islam, Muassasah al-Risalah, Beirut, 1981.
8). Al-Fikih al-Islami wa Adilatuh, (8 jilid), Dar al-Fikr, Damaskus, 1984.
9). Usul al-Fikih al-Islami  (dua Jilid), Dar al-Fikr al-Fikr, Damaskus, 1986.
10). Juhud Taqnin al-Fikih al-Islami Muassasah al-Risalah, Beirut, 1987.
11). Fikih al-Mawaris fi  asy-Syari’at al-Islamiah, Dar al-Fikr, Damaskus, 1987.
12). Al-Wasaya wa al-Waqf fi  al-Fikih al-Islami, Dar al-Fikr, Damaskus, 1987.
13). Al-Islam Din al-Jihad La al-Udwan, Persatuan Dakwah Islam Antara bangsa, Tripoli, Libya, 1990.
14). At-Tafsir al-Munīr fi  al-Aqidah wa asy-Syari’at wa al-Manhaj, (16 jilid), Dar al-Fikr, Damaskus, 1991.
15). Al-Qisah Al-Qur’aniyyah Hidayah wa Bayan, Dar Khair, Damaskus, 1992. Dan masih banyak lagi.

Pakar Fiqh yang Mufassir

Menilik sejumlah karya beliau diatas, bisa dikatakan, bahwa Syekh Wahbah az-Zuhaily adalah seorang pakar fikih dan cendekiawan terkemuka di era kontemporer. Kebanyakan pemikirannya di bidang fikih dan syariah tereksplorasi dalam kitab-kitab fikih karyanya.

Syekh Wahbah az-Zuhaily sangatlah produktif dalam menulis. Mulai dari diktat perkuliahan, artikel untuk majalah dan koran, makalah ilmiah, sampai kitab-kitab besar yang terdiri atas enam belas jilid, seperti kitab Tafsir al-Munir.

Ini menyebabkan Syekh Wahbah juga layak disebut sebagai ahli tafsir. Bahkan, ia juga menulis ihwal akidah, sejarah, pembaruan pemikiran Islam, ekonomi, lingkungan hidup, dan bidang lainnya, yang menunjukkan kapasitas ketinggian keilmuan beliau.

Salah satu karya terbesar yang bisa dibilang sebagai magnum opus-nya adalah kitab yang berjudul al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Karya tersebut telah membawa popularitas kealiman Syekh Wahbah di dunia Islam Internasional. Selain kitab fikih yang menjadi karya andalan, beliau juga menulis karya yang tidak kalah fenomenalnya, yaitu di bidang tafsir yang diberi nama Tafsir Al-Munir.

Model penafsiran seorang mufasir lazimnya dilatarbelakangi keilmuan yang dikuasainya, walaupun ada sebagian mufasir yang menulis tafsir dari latar belakang yang berbeda dari basic keilmuan yang dimilikinya.

Syekh Wahbah az-Zuhaily merupakan seorang tokoh ulama fikih di abad modern ini. Sebagai mufassir, namanya disejajarkan dengan tokoh mufassir yang telah berjasa dalam dunia keilmuan Islam abad ke-20, seperti Thahir ‘Ashur yang mengarang tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Said Hawwa dalam Asas fi  al-Tafsir, Sayyid Qutb dalam Fi Dzilal al-Quran. Sementara dari sisi kapasitasnya sebagai fuqaha, namanya sebaris dengan Muhammad Abu Zahrah, Mahmud Shaltut, Ali Muhammad  al-Khafif, Abdul Ghani, Abdul Khaliq dan Muhammad Salam Madkur.

Adalah at-Tafsir al-Munir fi al-`Aqidah wa asy-Syari`ah wa al-Manhaj, nama lengkap karya tafsir fenomenal itu. Tafsir ini terdiri atas 16 jilid besar, tidak kurang dari 10.000 halaman. Untuk pertama kali, kitab ini diterbitkan pada  tahun 1991 oleh Dar al-Fikr Damaskus.

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *