Tafsir Muqorin, Metode dan Aplikasinya

Oleh: KH. Jalaluddin Suyuthy (Dosen Ma’had Aly Al-Iman Bulus Purworejo)

Secara etimologis, kata ‘muqarin’ merupakan bentuk isim al-fa’il dari kata qarana, yang bermakna membandingkan antara dua hal. Jadi tafsir muqarin adalah tafsir perbandingan (komparatif). Sedangkan secara terminologis adalah menafsirkan ayat Al-Qur’an atau surat tertentu dengan cara membandingkan dengan ayat yg lain, atau antara ayat dengan hadits, atau antara pendapat mufassir dengan memfokuskan pada perbedaan tertentu dari obyek yang dibandingkan.

Jadi, metode tafsir muqarin adalah suatu metode yang ditempuh para mufassir dengan cara membandingkan ayat Al-Qur’an dengan yang lainnya, yaitu ayat-ayat yang terdapat kemiripan redaksi dalam dua atau beberapa peristiwa yang berbeda atau redaksi yang berbeda pada masalah yang sama atau membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadis-hadis Nabi yang tampak bertentangan serta membandingkan pendapat-pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran Al-Qur’an kemudian mengemukakan penafsiran para ulama tafsir terhadap ayat-ayat itu dan mengungkapkan pendapat mereka serta membandingkan berbagai segi serta kecendrungan mereka. Dengan demikian akan dimengerti biasanya penafsiran mereka dipengaruhi oleh perbedaan madzhab yg dianutnya, juga diantara penafsiran mereka ditujukan untuk mendukung aliran tertentu.

Kajian dalam makalah ini diorientasikan untuk memahami dasar-dasar metode penafsiran al-Quran secara komparatif (tafsir muqarin). Selanjutnya, kajian ini juga bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang cara menafsirkan ayat dengan ayat sehingga pembaca yang berkepentingan bisa mengambil manfaat dari pembahasan ini. Beberapa contoh dalam makalah ini akan memberikan deskripsi yang lebih jelas tentang aplikasi metode tafsir ini.

A. Metode Tafsir Muqarin
Metode tafsir muqarin mencakup tiga kelompok yaitu:

  1. Membandingkan Teks (Nash) Ayat-ayat al-Qur’an dengan Ayat Lain yang Mempunyai Perbedaan ataupun Persamaan dan Kemiripan Redaksi

Jika ingin membandingkan ayat yg memiliki kemiripan redaksi, maka langkah yg harus dilakukan adalah:

a. Mengidentifikasi dan mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an yang memiliki kemiripan
b. Membandingkan antara ayat-ayat yang bermiripan, dengan menelusuri makna dan maksud ayat dari berbagai sumber yg terpercaya
c. Menganalisis perbedaan yang terkandung di dalam berbagai redaksi yang berbeda dalam menggunakan kata dan susunan dalam ayat.
d. Membandingkan antara berbagai pendapat para mufasir tentang ayat yang dijadikan objek bahasan

Berikut adalah beberapa contohnya:
• Contoh membandingkan ayat al-Qur’an yang berbeda tapi maksudnya sama. Firman Allah swt:

ولا تقتلوا اولادكم من املاق نحن نرزقكم واياهم

Artinya: “Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin, kami yang akan memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka”  (Al-An’am:151)

ولا تقتلوا اولادكم خشية املاق نحن نرزقهم وايا كم

Artinya: “Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin, kami yang akan memberi rezeki kepada mereka dan kepada kamu”. (Al-Isra’:31).

Kedua ayat di atas menggunakan redaksi yang berbeda padahal maksudnya sama yakni sama-sama mengharamkan pembunuhan anak. Hanya saja, sasarannya berbeda. Ayat yang pertama, (al-An’am: 151) khitab (objek) nya ditujukan kepada orang miskin atau fuqara; sedangkan ayat yang kedua (al-Isra’: 31), arah pembicaraannya lebih ditujukan kepada orang-orang kaya.

Dengan mendahulukan ‘dhamir mukhatab’ (نرزقكم) dari ‘dhamir ghaib’ (اياهم) memberikan pemahaman tentang ‘khitab’ atau sasarannya adalah orang miskin, sedangkan mendahulukan ‘dhamir ghaib’ (نرزقهم) dari ‘dhamir mukhatab’ (اياكم) memberikan penafsiran bahwa sasarannya adalah orang kaya. 

• Contoh membandingkan ayat yang mirip tapi maksud yang berbeda. Contohnya dalam surah al-Qasas dan surah Yasin:

وجاء رجل من اقصى المدينة يسعى قال يا موسى ان الملأ يأتمرون بك ليقتلوك فاخرج انى لك من الناصحين

Artinya: “Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) karena sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu”. (Q.S. Al-Qasas: 20)

وجاء من اقصى المدينة رجل يسعى قال يا قوم اتبعوا المرسلين

Artinya: dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. (Q.S. Yasin: 20)

Bila diamati dengan seksama, kedua ayat di atas tampak mirip redaksinya meskipun maksudnya berlainan. Pada ayat pertama, (al-Qasas:20) mengisahkan peristiwa yang dialami Nabi Musa as dan kejadiannya di Mesir; sedangkan ayat yang kedua, (Yasin: 20) berkenaan dengan kisah yang dialami penduduk sebuah kampung (ashab al-qaryah) di Inthaqiyah (Antochie), sebuah kota yang terletak disebelah utara Siria dan peristiwanya bukan pada masa nabi Musa as.

2. Membandingkan Ayat al-Qur’an dengan Hadits Nabi Muhammad Saw

Perbandingan penafsiran dalam aspek ini yang paling diutamakan adalah terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang tampak pada lahirnya bertentangan dengan hadits-hadits Nabi yang diyakini Shahih. Sedangkan hadits-hadits yang dinyatakan dhoif tidak perlu dibandingkan dengan Al Qur’an, karena level dan kondisi keduanya tidak seimbang. Hanya hadits yang shahih saja yang akan dikaji dalam aspek ini apabila ingin dibandingkan dengan ayat-ayat Al Qur’an.

Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Menghimpun ayat-ayat yang pada lahirnya tampak bertentangan dengan hadits-hadits Nabi, baik ayat-ayat tersebut mempunyai kemiripan redaksi dengan ayat-ayat lain ataupun tidak.
b. Membandingkan dan menganalisis pertentangan yang dijumpai di dalam kedua teks ayat dan hadits
c. Membandingkan antara berbagai pendapat para Ulama tafsir dalam menafsirkan ayat dan hadits.

Contoh penafsiran dengan cara membandingkan ayat al-Qur’an dengan Hadis yang terkesan bertentangan padahal tidak sebagaimana terdapat dalam surah an-Nahl: 32 dengan Hadis riwayat Tirmidzi;

ادخلوا الجنة بما كنتم تعملون

Artinya: “Masuklah kamu kedalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (Q.S an-Nahl: 32).

لن يدخل احدكم الجنة بعمله (رواه الترميذى)

Artinya: “Tidak akan masuk seseorangpun diantara kamu ke dalam surga disebabkan perbuatannya.” (H.R. Tirmizi)

Jika dilihat, antara ayat dengan hadits diatas terkesan ada pertentangan. Untuk menghilangkan pertentangan itu, al-Zarkasyi mengajukan dua cara;

Pertama, dengan menganut pengertian harfiah Hadis, yaitu bahwa orang-orang tidak masuk surga karena amal perbuatannya, akan tetapi karena rahmat dan ampunan tuhan. Akan tetapi, ayat di atas tidak disalahkan, karena menurutnya, amal perbuatan manusia menentukan peringkat surga yang akan dimasukinya. Dengan kata lain posisi seseorang dalam surga ditentukan perbuatannya .

Kedua, dengan menyatakan bahwa huruf ba’ pada ayat di atas berbeda konotasinya dengan yang ada pada hadits tersebut. Pada ayat berarti imbalan sedangkan pada hadits berarti sebab.

3. Membandingkan Penafsiran Mufassir dengan Mufassir Lain

Apabila yang dijadikan objek pembahasan perbandingan adalah pendapat para Ulama tafsir dalam menafsirkan suatu ayat, maka metodenya adalah:
a. Menghimpun sejumlah ayat-ayat yang hendak dijadikan objek studi tanpa menoleh terhadap redaksinya itu mempunyai kemiripan atau tidak.
b. Melacak berbagai pendapat Ulama tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.
c. Membandingkan pendapat-pendapat mereka untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan identitas dan pola berpikir dari masing-masing mufasir serta kecenderungan-kecenderungan dan aliran-aliran yang mereka anut.

B. Kitab-kitab Tafsir Muqarin
Kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode tafsir ‘muqarin’ sangatlah langka, tidak seperti kitab-kitab lainnya, diantaranya adalah:

  1. Durrat at-Tanzil wa Qurrat at-Ta’wil (mutiara at-Tanzil dan Kesejukan at-Ta’wil), karya al-Khatib al-Iskafi (w. 420 H / 1029 M)
  2. Al-Burhan fi Taujih Mutasyabih al-Quran (Bukti Kebenaran dalam Pengarahan Ayat-ayat Mutasyabih al-Quran), karya Taj al-Qarra’ al-Kirmani (w. 505 H / 1111 M)
  3. Al-Jami’ li Ahkam al-Quran (Himpunan Hukum-hukum al-Quran), karya al-Qurtubi (w. 671 H)

Wallahu a’lamu bishowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *