Tafsir Q.S. Al-Insyirah

Mukadimah Q.S. al-Insyirah

Q.S. al-Insyiroh tergolong surat Makiyah, terdiri dari 8 ayat, 26 kalimat, dan 103 huruf (Firdausun Na’im). Namun menurut Ibnu Abbas surah ini adalah Madaniyah (Tafsir Showi).

Ayat

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴿ ١﴾ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ﴿ ٢﴾ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ﴿ ٣﴾ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴿ ٤﴾ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿ ٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿ ٦﴾ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ﴿ ٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿ ٨﴾

Artinya: “1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? 2. dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, 3. yang memberatkan punggungmu, 4. dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. 5. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, 6. sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. 7. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), 8. dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”.

Mengapa dinamakan al-Insyirah?

Awal surah menjelaskan kabar mengenai dilapangkannya dada Nabi SAW, yaitu dengan cahaya petunjuk, iman, dan hikmah (Tafsir Munir Wahbah Zuhayli).

Berbahagialah kalian, karena kemudahan akan mendatangi.

Asbabun Nuzul ayat 6

Ayat ini diturunkan ketika orang-orang musyrik mengejek umat Islam dengan sebutan fakir. Nabi SAW bersabda ketika ayat ini turun: Berbahagialah kalian, karena kemudahan akan mendatangi. Kesulitan ini tak akan bisa mengalahkan (Tafsir Munir lizuhayli).

Munasabah surah al-Insyirah dengan surah sebelumnya (ad-Dhuha)

Sama-sama membahas mengenai nikmat yang telah Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW. Dibarengi dengan anjuran untuk beramal dan bersyukur. Pada ayat 6 surah ad-Dhuha disandarkan dengan ayat 1 surah al-Insyirah, dikarenakan hal ini terdapat beberapa ulama salaf yang menyatakan bahwa surah ad-Dhuha dan surah al-Insyirah adalah satu surah yang sama, serta tidak ada basmalah diantara kedua surah tersebut. Akan tetapi pendapat yang ashah dan mutawatir adalah pendapat yang menyatakan adanya basmalah diantara kedua surah tersebut, walaupun kedua surah tersebut memiliki makna yang saling berhubungan (Tafsir Munir lizuhayli).

ayat ini adalah Allah SWT benar-benar telah melapangkan dada Nabi SAW.

Penafsiran Q.S. al-Insyiroh

ألَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴿١﴾
Istifham pada ayat ini bermakna taqrir dikarenakan dibarengi dengan nafi, sehingga maksud dari ayat ini adalah Allah SWT benar-benar telah melapangkan dada Nabi SAW.
Diriwayatkan bahwasanya malaikat Jibril AS mendatangi nabi ketika nabi masih tinggal bersama Halimah diumur 3/4 tahun. Kemudian Malaikat Jibril membelah dada nabi, mengeluarkan hatinya, membasuh, membersihkan, dan memenuhinya dengan keilmuan dan keimanan. Kemudian dikembalikan lagi dalam dada Nabi Muhammad SAW. Hikmah dari pembelahan dada nabi yang pertama ini adalah agar nabi tumbuh dalam keadaan paling sempurna dan tidak bertingkah sembrono seperti anak kecil pada umumnya.
Pembelahan dada yang kedua dilakukan ketika nabi menginjak usia baligh pada umur yang ke -10. Hikmahnya adalah agar nabi tumbuh dengan seindah, dan sebaik-baiknya akhlak.
Pembelahan dada yang ketiga adalah ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan rasul, dikarenakan nabi akan menanggung al-Quran dan ilmu.
Pembelahan yang keempat terjadi ketika nabi isra’ mi’raj, sebagai bentuk persiapan bertetemu dengan Allah SWT. (حاشية الصاوي)

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ﴿٢﴾
Dalam kitab firdausun Na’im lafal وِزْر diartikan dalam dua versi, yaitu:

I. Berarti dosa yang telah berlalu pada masa jahiliyah, dengan didasarkan pada firman Allah SWT yang telah mengampuni dosa Nabi SAW yang telah berlalu dan yang akan datang, dikatakan pula Allah SWT telah mengampuni dosa umat Nabi dikarenakan totalitasnya hati Nabi SAW dalam memikirkan umatnya. Dalam tafsir munir juga dijelaskan bahwasanya dosa yang dimaksud disini meliputi dosa sebelum kenabian maupun sesuatu yang dilakukan nabi setelah diutus, yang mana kurang sesuai dengan mulianya kekuasaan nabi, tingginya derajat nabi, dan luhurnya perbuatan nabi. Seperti izin kepada beberapa orang munafik yang absen dari jihad pada saat perang tabuk, serta menerima tebusan dari tawanan perang Badar.
II. Berarti beratnya beban yang ditanggung Nabi SAW dalam menyampaikan risalah kenabian.

nabi hingga nabi mendengar suara naqdh; yaitu suara samar yang didengar nabi dikarenakan beratnya beban yang ditanggung Nabi SAW.

الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ﴿٣﴾
Yaitu segala sesuatu yang memberatkan Nabi SAW dan membuat down nabi hingga nabi mendengar suara naqdh; yaitu suara samar yang didengar nabi dikarenakan beratnya beban yang ditanggung Nabi SAW. Hal ini dirasakan Nabi secara terus menerus dan hal tersebut adalah sesuatu yang memberatkan.

Keluhuran Nabi Muhammad SAW dibuktikan dengan disebutkannya nama beliau bebarengan dengan Asma Allah SWT

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴿٤﴾
Allah SWT menjadikan nama Nabi Muhammad SAW sebagai nama yang luhur di dunia dan akhirat dengan kenabian, penyampaian risalah, diturunkannya Al-Qur’an kepada nabi, dan dihapusnya dosa-dosa manusia setelah mengucapkan syahadat yang mana didalamnya disebutkan nama Nabi Muhammad SAW. Allah juga memerintahkan kita untuk bersholawat kepada nabi, serta menyatakan bahwasanya barang siapa taat kepada nabi maka ia taat kepada Allah SWT.
ﻭﺭﻭﻯ اﺑﻦ ﺟﺮﻳﺮ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: «ﺃﺗﺎﻧﻲ ﺟﺒﺮﻳﻞ

، ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻥ ﺭﺑﻲ ﻭﺭﺑﻚ ﻳﻘﻮﻝ: ﻛﻴﻒ ﺭﻓﻌﺖ ﺫﻛﺮﻙ؟ ﻗﺎﻝ: اﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ، ﻗﺎﻝ: ﺇﺫا ﺫﻛﺮﺕ ﺫﻛﺮﺕ ﻣﻌﻲ». (Tafsir Munir lizuhayli)

Keluhuran Nabi Muhammad SAW dibuktikan dengan disebutkannya nama beliau bebarengan dengan Asma Allah SWT dalam adzan, iqomat, syahadat, khutbah, dan lain-lain (Firdausun Na’im).

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٦﴾
Dibalik kesulitan nabi dalam menghadapi keras kepalanya orang musyrik pasti akan ada kemudahan dan ketenangan yang menyertainya. Dengan kejelasan yang Allah berikan kepada Nabi SAW, sehingga mereka taat kepada perkara haq yang dibawa Nabi (Firdausun Na’im).

Ayat ini merupakan pelipur dan kabar gembira untuk Nabi bahwasanya Allah SWT akan mengganti keadaan nabi, dari fakir menjadi kaya, dari lemah menjadi luhur dan kuat, dan dari dibenci kaum menjadi dicintai kaumnya (Tafsir Munir lizuhayli).

Pengulangan ayat ini bertujuan untuk menguatkan janji dan mengagungkan berharap kepada Allah SWT. Diriwayatkan dari al-Hasan, pada saat ayat ini turun Nabi Muhammad SAW bersabda:
“ابشروا فقد جاءكم اليسر لن يغلب عسر يسرين” (Firdausun Na’im).

Karena sesungguhnya kesibukan waktu adalah sesuatu yang dituntut syariat.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ﴿٧﴾
Ketika Nabi telah selesai dengan urusan menyampaikan dakwah kepada umat, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah kepada Allah SWT (Firdausun Na’im).

Dalam Tafsir Munir lizuhayli juga dijelaskan bahwa setelah nabi menyampaikan dakwah ataupun dari jihad, serta kesibukan-kesibukan dunia dan hal-hal yang berhubungan dengannya agar menyibukkan diri dalam beribadah, meminta hajat kepada Allah, dan memurnikan niat dan cinta kepada Allah SWT. Hal ini merupakan dalil untuk terus menerus melakukan kebaikan dan perbuatan sholih serta tekun dalam ketaatan. Karena sesungguhnya kesibukan waktu adalah sesuatu yang dituntut syariat. Dan Allah SWT tidak menyukai hamba yang menganggur (Tafsir Munir lizuhayli).

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿ ٨ ﴾
Jadikanlah rasa cintamu hanya kepada Allah SWT dalam segala aspek kehidupan, dan jangan Jadikan rasa cintamu kepada seseorang/sesuatu selain Allah SWT (Firdausun Na’im).

Janganlah mencari pahala/imbalan dari perbuatanmu kecuali kepada Allah SWT. karena mengharap pahala/imbalan kepada Allah adalah kelayakan/kecocokan dengan menghadap dan tawakal kepada Allah SWT (Tafsir Munir lizuhayli).

Kandungan Q.S. al-Insyiroh

  1. Menyebutkan 3 nikmat yang telah Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu: kelapangan hati dengan hikmah, dan iman; penyucian dari dosa dan beban; pengangkatan derajat.
  2. Janji Allah SWT kepada orang yang kesulitan dengan mendatangkan kemudahan, membuka kesulitan, menghilangkan musibah, dan memberikan kabar gembira akan telah dekatnya pertolongan untuk melawan musuh-musuh.
  3. Perintah untuk melanggengkan ibadah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan.
  4. Perintah setelah melakukan segala hal, agar bertawakal kepada Allah SWT dengan rasa cinta terhadap sesuatu yang berada disisi-Nya.

Amalan dengan Q.S. al-Insyiroh

  1. Menulis dalam wadah dari kaca, kemudian melebur dengan air mawar dan meminumnya.
    Faidah: Hilang rasa susah, sedih, dan keruwetan hati.
  2. Melanggengkan membaca surah al-Insyirah sebanyak 10 kali setiap sholat lima waktu.
  3. Faidah: Dimudahkan dalam rizki, pertolongan dalam ibadah, dan tercapainya sesuatu yang penting bagi hamba tersebut.
  4. Sholat dua rakaat, duduk menghadap kiblat dalam keadaan suci, kemudian membaca al insyirah sebanyak jumlah huruf, yaitu 103 kali, dan berdoa.
    Faidah: Atas izin Allah, doanya akan diijabahi.
  5. Menulis dalam wadah apapun, kemudian melebur dan meminumnya.
    Faidah: Untuk meningkatkan hafalan dan pemahaman. (Kyai Khudlori, guru sepuh Yayasan Al-Iman Bulus).

Referensi:

  1. Firdausun Na’im karya Syaikh Thaifur Ali Wafa, ulama asal Madura.
  2. Tafsir Munir Lizuhayli Karya Dr. Wahbah Az-Zuhaili
  3. Tafsir Showi karya Syaikh Ahmad bin Muhammad as-Showi.

Wallahu a’lam bishowab.

Oleh: Umniya Zulfa & Rizka Labibah (mahasantri angkatan II)

1 komentar untuk “Tafsir Q.S. Al-Insyirah”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *