Tingkatan Para Mufassir (Part 1)

Al-Qur’an adalah sumber pertama bagi umatnya Nabi Muhammad Saw. Kebahagiaan mereka bergantung pada kemampuan memahami maknanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan pengamalan apa yang terkandung didalamnya. Kemampuan setiap orang dalam memahami al-Qur’an tentu berbeda, padahal penjelasan ayat-ayatnya sedemikian gamblang, jelas dan rinci.

Perbedaan daya nalar diantara mereka ini adalah suatu hal yang tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam hanya dapat memahami makna-makna dzahirnya dan yang bersifat global. Sedangkan kalangan cendekiawan dan terpelajar akan dapat memahami dan menyingkap makna-maknanya secara menarik. Dari kedua kalangan tersebut pun masih terdapat aneka ragam dalam tingkat pemahamannya.

Dalam seri kajian tafsir “Perkembangan Tafsir dari Masa ke Masa”, telah dipaparkan sekilas tentang perkembangan tafsir, baik dari masa Nabi Saw dan sahabat, kemudian masa tabi’in, dan berakhir pada masa pembukuan. Pada kesempatan kajian kali ini, kami -Mahasantri Ma’had Aly Al-Iman Bulus- ingin sedikit menghidangkan sekilas tentang tingkatan (thabaqah) para mufassir. Pembahasan tersebut –insya allah– akan diuraikan dalam dua edisi. Untuk lebih detailnya, mari kita simak paparan berikut.

Tingkatan (Thabaqah) Para Mufassir (Part 1)

Berdasarkan uraian perkembangan tafsir dari masa ke masa, kita dapat mengelompokkan mufasir sebagai berikut:

1). Mufassir dari kalangan sahabat.

Di antara mereka yang paling terkenal adalah empat khalifah (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib), Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Ays’ari, Abdullah bin Az-Zubair. Anas bin Malik, Abu Hurairah, Jabir dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.

Diantara empat khalifah yang banyak diriwayatkan tafsirnya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sedangkan periwayatan dari tiga khalifah lainnya jarang sekali. Hal tersebut karena mereka meninggal lebih dahulu, sebagaimana terjadi pada Abu Bakar. Ma’mar meriwayatkan dari Wahb bin Abdullah, dari Abu Thufail, ia berkata, “Saya pernah menyaksikan Ali berkhutbah, mengatakan,

“Bertanyalah kepadaku karena, demi Allah, kamu tidak menanyakan sesuatu kepadaku melainkan aku akan menjawabnya. Bertanyalah kepadaku tentang Kitabullah karena, demi Allah, tidak satu ayat pun yang tidak aku ketahui apakah ia diturunkan pada waktu malam ataukah pada waktu siang, di lembah ataukah di gunung.”

Sementara itu, Ibnu Mas’ud lebih banyak diriwayatkan tafsirnya daripada Ali. Ibnu Jarir dan yang lain meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Demi Allah, tiada tuhan selain Dia, tidaklah diturunkan satu ayat pun dari Kitabullah kecuali aku tahu berkenaan dengan siapa dan dimanakah ia diturunkan. Andaikata aku mengetahui tempat sesorang yang lebih tahu dari aku tentang Kitabullah ia dapat dicapai kendaraan, aku pasti datangi.”

2). Dari kalangan tabi’in

Ibnu Taimiyah menjelaskan, orang yang paling mengetahui tentang tafsir itu adalah penduduk Mekkah, yaitu murid-murid Ibnu Abbas, seperti Mujahid, ‘Atha’ bin Abi Rabah, ‘Ikrimah seorang maula (sahaya yang dimerdekakan oleh Ibnu Abbas), Sa’id bin Jubair, Thawus dan lain-lain. Di Kufah ada murid-murid Ibnu Mas’ud sedang di Madinah ada Zaid bin Aslam yang tafsirnya diriwayatkan oleh putranya sendiri Abdurrahman bin Zaid, dan Malik bin Anas.

Di antara murid Ibnu Mas’ud adalah ‘Alqamah, Al-Aswad bin Yazid, Ibrahim An-Nakha’i dan Asy-Sya’bi. Termasuk mufassir kelompok ini adalah Al-Hasan Al-Basri, ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasani, Muhammad bin Ka’ab Al-Qarazi, Abul ‘Aliyah Rafi’ bin Mahran Ar Rayahi, Dahhak bin Muzahim, ‘Athiyah bin Sa’ad Al ‘Aufi, Qatadah bin Di’amah As-Sadusi, Ar-Rabi’ bin Anas dan As-Suddi.

Mereka adalah para mufassir senior dari kalangan tabi’in, dan pada umumnya pendapat mereka diterima dari para sahabat.

3). Kelompok berikutnya adalah mereka yang menyusun kitab-kitab tafsir dengan metode koleksi pendapat-pendapat para sahabat dan tabi’in, seperti Sufyan bin Uyainah, Waki’ bin Al Jarrah, Syu’bah bin Al Hajjaj. Yazid bin Harun, Abdurrazzaq, Adam bin Abu Iyas, Ishaq bin Rahawaih. ‘Abd bin Humaid, Rauh bin Ubadah, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan lain-lain.

4). Kemudian disusul oleh generasi Ali bin Abi Talhah, Ibnu Jarir Ath-Thabari, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Mardawaih, Abu Asy Syaikh bin Hibban, Ibnu Al Mundzir dan lain lain. Tafsir tafsir mereka memuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepada para sahabat, tabi’in dan tabiit tabi’in. semuanya sama, kecuali yang disusun oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, di mana ia mengemukakan berbagai pendapat dan mentarjihkan salah satu atas yang lain, serta menerangkan i’rab dan istinbath hukum. Karena itu tafsir ini lebih unggul dari lainnya.

5). Kemudian kelompok mufassir yang memberi perhatian terhadap penafsiran Al-Qur’an yang menggunakan pendekatan kebahasaan, membahas probelematika qira’at, seperti Abu Ishaq Az-Zajjaj, Abi Ali Al-Farisi, Abi Bakar An-Nuqasy, dan Abu Ja’far An-Nahhas.

Demikianlah, sekilas uraian mengenai tingkatan para mufassir (part 1). Tunggu edisi selanjutnya, jangan sampai ketinggalan! Semoga bermanfaat, salam literasi santri!

(Syekh Manna’ al-Qothon, Mabahits fi Ulum al-Quran [Dar al-Ilmi wa al-Iman, tanpa tahun terbit] Halaman 334-335, dengan sedikit perubahan).

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *