Tingkatan Para Mufassir (Part 2)

Al-Qur’an memberikan pelajaran tentang bagaimana cara menyikapi sejarah masa lalu, kejadian-kejadian kontemporer, dan tentang berita-berita masa depan.

Dalam kajian tafsir “Tingkatan Para Mufassir, Part 1” telah dipaparkan sekilas tentang tingkatan para mufassir (sampai tingkatan kelima). Pada kesempatan kajian kali ini, kami -Mahasantri Ma’had Aly Al-Iman Bulus- akan sedikit menghidangkan sekilas tentang tingkatan para mufassir berikutnya. Untuk lebih detilnya, kita simak paparan berikut.

Al-Qur’an memberikan pelajaran tentang bagaimana cara menyikapi sejarah masa lalu, kejadian-kejadian kontemporer, dan tentang berita-berita masa depan.

6). Selanjutnya golongan muta’akhirin menulis pula kitab-kitab tafsir. Mereka meringkas sanad-sanad riwayat dan mengutip pendapat-pendapat secara terputus. Karenanya masuklah ke dalam tafsir sesuatu yang asing dan riwayat yang shahih bercampur baur dengan yang tidak shahih.

7). Kemudian, setiap mufasir memasukkan begitu saja ke dalam tafsirnya pendapat yang diterima dan apa saja yang terlintas dalam pikiran yang dipercayainya.

Kemudian generasi sesudahnya mengutip apa adanya semua yang tercantum di sana dengan asumsi semua yang dikutip tersebut asli, tanpa meneliti lagi tulisan yang datang dari ulama salaf yang menjadi panutan.

Sampai-sampai As-Suyuthi mengatakan, bahwa penafsiran firman Allah “Ghairil maghdhabi alaihim wa la adh-dhallin” ada sepuluh pendapat. Padahal penafsiran yang berasal dari nabi, para sahabat dan tabi’in hanya satu, yaitu orang Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di antara para mufassir mengenai hal itu.”

8). Sesudah itu, banyak mufasir yang mempunyai keahlian dalam berbagai disiplin ilmu mulai menulis tafsir. Mereka memenuhi kitabnya dengan cabang ilmu tertentu dan hanya membatasi pada bidang yang dikuasainya, hingga seakan-akan Al-Qur’an hanya diturunkan untuk ilmu tersebut, bukan untuk yang lain, padahal Al-Qur’an memuat penjelasan mengenai segala sesuatu.

Misalnya, kita lihat ahli Nahwu. Ia tidak mempunyai perhatian lain kecuali hanya membeberkan panjang lebar persoalan i’rab dan sisi-sisi yang dimungkinkannya, sekalipun telah menyimpang terlalu jauh. Oleh karena itu, ia kemukakan kaidah-kaidah Nahwu, masalah-masalahnya, cabang-cabangnya dan bermacam pendapat mengenainya, seperti yang dilakukan Abu Hayyan dalam kitabnya al-Bahr Al-Muhith.

Mufassir yang sejarawan hanya memikirkan kisah-kisah yang dibeberkannya secara tuntas serta menyuguhkan sejumlah riwayat yang diterima dari orang dulu, shahih maupun bathil, seperti Imam ats-Tsa’labi.

Sedangkan ahli fikih menumpahkan semua permasalahan fiqh dalam tafsirnya, dan bahkan terkadang ia mengemukakan dalil-dalil fiqh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ayat, serta menolak dalil-dalil pihak lawan, seperti yang dilakukan oleh Imam al-Qurthuby.

Yang rasionalis (‘aqliyun), terutama Imam Fakhruddin ar-Razi, dalam tafsirnya banyak sekali menukil kata-kata ahli hikmah dan filosof. Pembahasannya melebar luas, sehingga orang yang membacanya bertanya tanya tentang relevansinya dengan ayat yang ditafsirkan.

9). Kemudian masa kebangkitan modern. Pada masa ini para mufassir menempuh langkah dan pola baru dengan memperhatikan keindahan uslub (redaksi), kehalusan ungkapan, dan menitikberatkan pada aspek-aspek sosial, pemikiran kontemporer dan aliran-aliran modern, sehingga lahirlah tafsir ‘sastra-sosial’. Diantara mufassir kelompok ini ialah Syekh Muhammad Abduh, Sayyid Muhammad Rasyid Rida, Muhammad Mustafa Al-Maraghi, Sayyid Quthub dan Muhammad Izzah Darwazah.

Demikianlah, sekilas uraian mengenai tingkatan para mufassir (part 2), yang sekaligus menjadi penutup dari seri kajian tafsir “Tingkatan Para Mufassir”. Nantikan seri kajian-kajian tafsir berikutnya, jangan sampai ketinggalan. Semoga bermanfaat, salam literasi santri!.

(Syekh Manna’ al-Qothon, Mabahits fi Ulum al-Qur’an [Dar al-Ilmi wa al-Iman, tanpa tahun terbit] Hal. 335-337, dengan sedikit perubahan)

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *