Yang Dirindukan, Direnungkan, dan Diimpikan tanpa Tepian

Al-Quran yang secara harfiah berarti ‘bacaan sempurna’ merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal baca-tulis lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi al-Quran, bacaan sempurna lagi mulia itu.

Tiada bacaan seperti al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya.

Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kecenderungan mereka, namun semua mengandung kebenaran.

(Wawasan al-Qur’an, Prof. Dr. Quraish Shihab, hal. 5)

al-Qur’an layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Ia ibarat samudra yang tak dapat dijangkau kedalamannya yang menjadikan mutiara-mutiara yang ada didalamnya juga takkan pernah habis. Kekaguman orang terhadapnya takkan pernah berakhir, sehingga setiap kali seseorang membacanya dan mentadaburinya, maka akan bertambah pula kerinduan akannya.

(Dr. Afifuddin Dimyathy, Ilm at-Tafsir Ushuluhu wa Manahijuhu [Kairo: Dar ash-Sholih, 1439 H] Hal. Muqaddimah)

Imam Ghozali dalam karyanya ‘Jawahir al-Qur’an’ memperingatkan betapa sering kita membaca al-Qur’an bahkan menyelami maknanya tanpa berhasil meraih keindahan permata dan mutiara al-Qur’an. Berikut adalah perkataan beliau, “Wahai orang yang merutinkan dari membaca al-Qur’an, yang menjadikan studi al-Qur’an sekedar pekerjaan, yang menelan makna al-Qur’an dari teks dan kalimat saja, hingga kapan engkau akan tetap berputar-putar ditepi samudra sambil menutup mata dari melihat barang-barang mulia dan langka didalamnya?

Tidakkah engkau menaiki kapal untuk mengamati keajaiban-keajaibannya? Tidakkah engkau pergi kepulau-pulaunya untuk menikmati keindahan-keindahannya? Tidakkah engkau menyelam kesamudra terdalam agar kau tak hanya puas dengan keindahan-keindahan luarnya saja?

Sampai kapan engkau terus membiarkan diri tetap terhalang melihat permata dan mutiara samudra karena puas melihat keindahan pantai dan tepinya saja? Tidakkah sampai kepadamu bahwa al-Qur’an adalah samudra yang sangat luas nan dalam?.

Dari samudra itulah ilmu generasi awal dan akhir digali, sebagaimana digalinya hari-hari dan waktu-waktunya dari perputaran pantainya. Tidakkah engkau merasa iri melihat orang-orang yang menghadang gelombangnya sehingga mendapatkan belerang merah? Tidakkah engkau melihat orang-orang yang menyelam kedalamnya untuk mengeluarkan batu yaqut merah, permata berkilau, dan zabarjad hijau, kemudian engkau berenang menyusuri pantai-pantainya mendapatkan minyak ambar, material-material terbaik, bersandar dipulau-pulaunya, memanggil hewan-hewan langka didalamnya, dan memenangkan barang-barang mulia lain seperti anti toksin dan misik adzfar.

Inilah aku membimbingmu seraya memenuhi hak persaudaraanmu, dan berharap kesediaanmu mengajak orang lain berwisata, menyelam, dan berenang ditengah samudra al-Qur’an”.

(Imam Abu Hamid al-Ghazaly at-Thusy, Jawahir al-Qur’an [Beirut: Dar al-Ihya’ al-Ulum, 1411 H] Halaman: 21-22)

Demikianlah, betapapun, perkataan beliau diatas dapat menjadi bahan introspeksi bagi kita yang seringkali membaca al-Qur’an dengan tanpa berhasil meraih keindahan permata dan mutiara al-Qur’an agar kedepannya kita dapat semakin merindui, merenungi, dan memimpikan al-Qur’an.

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *