Yang Tersirat dari Waktu-waktu Shalat (Part 2)

Shalat -seperti yang telah kita ketahui bersama- merupakan salah satu dari rukun Islam lima yang juga merupakan pilar paling penting dalam agama Islam. Shalat fardhu yang harus dikerjakan oleh seorang muslim dalam sehari semalam berjumlah lima waktu, yakni shalat Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.

Dalam artikel “Yang Tersirat dari Waktu-waktu Shalat, Part 1”, sudah dipaparkan pesan tersirat dalam penentuan waktu-waktu shalat. Pada kesempatan kali ini, kami akan mencoba membahas asal-usul waktu shalat. Untuk lebih detailnya, kita simak paparan berikut.

من ينصحك بالصلاة، هو أشدّهم حباً لك

“Orang yang paling mencintaimu ialah Ia yang menasihatimu tentang perkara shalat”

(Syekh Mutawalli asy-Sya’rawy)

Asal-usul Waktu Shalat

Syekh Nawawi al-Bantany dalam kitabnya yang berjudul Sullam al-Munajah Syarh Safinah ash-Shalah menjelaskan bahwasannya menurut sebagian ahli hikmah, ketentuan waktu dan bilangan rakaat shalat fardhu lima waktu didasari oleh shalat yang dikhususkan kepada Nabi-nabi terdahulu.

1). Shalat Subuh

Orang yang pertama kali melaksanakan shalat Subuh adalah Nabi Adam As. Ketika Nabi Adam As keluar dari surga, beliau melihat keadaan begitu gelap sehingga menjadikannya merasa ketakutan. Lalu ketika fajar telah terbit, beliau pun melaksanakan shalat dua rakaat. Satu rakaat dalam rangka bersyukur atas terbebasnya beliau dari kegelapan, sedangkan rakaat satunya lagi dalam rangka bersyukur atas nikmat kembalinya terang pada siang hari.

2). Shalat Dzuhur

Orang yang pertama kali melaksanakan shalat Dzuhur adalah Nabi Ibrahim As. Yaitu pada saat Allah Swt memerintahkan beliau untuk menyembelih putranya, yakni Nabi Ismail As, kemudian dijadikanlah hewan sembelihan sebagai tebusannya. Peristiwa tersebut terjadi pada saat tergelincirnya matahari.

Setelah Nabi Ibrahim As menyembelih pengganti dari Nabi Ismail As yang berupa kibas dari surga, beliau shalat empat rakaat. Satu rakaat dalam rangka bersyukur atas tebusannya; satu rakaat berikutnya dalam rangka bersyukur atas hilangnya kekhawatirannya akan Nabi Ismail As; satu rakaat berikutnya dalam rangka mencari ridha Allah Swt; dan satu rakaat yang terakhir dalam rangka bersyukur atas nikmat yang beliau peroleh, yaitu biri-biri yang diturunkan dari surga. Adapun biri-biri tersebut adalah biri-biri Habil, putra Nabi Adam As.

3). Shalat Ashar

Orang yang pertama kali melaksanakan shalat Ashar adalah Nabi Yunus As. Yaitu pada saat Allah Swt mengeluarkan beliau dari dalam perut ikan paus. Pada saat Nabi Yunus keluar dari dalam perut ikan paus tersebut, beliau bagaikan anak burung yang baru menetas dan belum berbulu.

Ketika berada didalam perut ikan paus tersebut, Nabi Yunus As berada dalam empat macam kegelapan: Pertama, gelapnya jeroan (isi perut) paus; Kedua, gelapnya air laut; Ketiga, gelapnya malam; Keempat, gelapnya perut paus tersebut. Nabi Yunus As keluar dari dalam perut paus pada waktu ashar. Oleh karena itu, beliaupun kemudian melaksanakan shalat empat rakaat dalam rangka bersyukur atas keselamatannya dari empat macam kegelapan tersebut.

4). Shalat Maghrib

Orang yang pertama kali melaksanakan shalat Maghrib adalah Nabi Isa As. Yaitu pada saat beliau keluar dari kalangan kaumnya. Beliau As keluar menjauh dari mereka pada saat terbenamnya matahari.

Nabi Isa As melaksanakan shalat sebanyak tiga rakaat. Satu rakaat dalam rangka menafikan (meniadakan) sifat ketuhanan dari selain Allah Swt; satu rakaat berikutnya dalam rangka menafikan (meniadakan) tuduhan perzinaan yang dilemparkan oleh kaumnya terhadap ibunya; satu rakaat yang terakhir dalam rangka menetapkan kausalitas (ta’tsir) dan sifat ketuhanan hanya bagi Allah Swt semata.

Oleh sebab itu, karena ada dua rakaat yang dilaksanakan Nabi Isa As atas dasar alasan yang berkaitan dengan Allah Swt, maka dua rakaat shalat maghrib digabungkan dan dipisah dengan satu tasyahud.

Sedangkan karena satu rakaat lainnya dilaksanakan beliau atas dasar alasan yang berkaitan dengan ibunya, maka satu rakaat terakhir shalat maghrib disendirikan.

5). Shalat Isya

Orang yang pertama kali melaksanakan shalat Isya adalah Nabi Musa As. Yaitu pada saat beliau tersesat dari jalan ketika keluar dari kota Madyan.

Saat beliau keluar dari sana, beliau mengalami empat macam kesedihan: Pertama, kesedihan karena istrinya; Kedua, kesedihan karena saudara laki-lakinya, yakni Nabi Harun As; Ketiga, kesedihan karena anak-anaknya; Keempat, kesedihan karena kesewenang-wenangan Fir’aun. Kemudian Allah Swt membebaskan beliau dari berbagai macam kesedihan tersebut bertepatan dengan waktu shalat Isya.

Oleh karena itulah Nabi Musa As melaksanakan shalat empat rakaat dalam rangka bersyukur kepada Allah Swt atas hilangnya keempat macam kesedihan tersebut.

Dalam riwayat lain ada juga yang menyebutkan bahwasannya shalat Subuh dilaksanakan oleh Nabi Adam As, shalat Dzuhur oleh Nabi Daud As, shalat Ashar oleh Nabi Sulaiman As, shalat Maghrib oleh Nabi Ya’qub As. Dan shalat Isya oleh Nabi Yunus As. Hal tersebut telah dinadzomkan oleh sebagian Ulama dengan bahar thawil, sebagai berikut:

لِأَدَمَ صُـــبْحٌ وَالعِشَــاءُ لِــيـُوْنُسَ * وَظُهْرٌ لِدَاوُدَ وَعَصْرٌ سُلَيْمَانَا
وَمَغْرِبٌ يَعْقُوْبَ وَقَدْ جُمِعَتْ لَهُ * عَلَيْهِ صَلاَةُ اللَّهِ سِرًّا وَإعْلاَنَا

“Untuk Nabi Adam As adalah shalat Subuh, Isya adalah untuk Nabi Yunus As. Dzuhur adalah untuk Nabi Daud As, Ashar adalah untuk Nabi Sulaiman As.

Maghrib adalah untuk Nabi Ya’qub As. Dan semua shalat tersebut terkumpulkan untuk Nabi Muhammad Saw. semoga rahmat Allah Swt selalu tercurahkan baginya, baik secara rahasia maupun terang-terangan”.

(Syekh Nawawi al-Bantany, Sullam al-Munajah Syarh Safinah ash-Sholah, [Dar Ibn Hazm, 1425 H] Hal. 87-89).

Demikianlah, salahsatu dari berbagai asal-usul waktu-waktu shalat, tentunya masih banyak asal-usul yang tidak dapat dihidangkan pada kesempatan kali ini.

Akhir kata,

وإن تجــد عيبـا فسـدّ الخـللا ¤ فــجلّ من لا عيب فيه وعــلا

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *