Yang Tersirat dari Waktu-waktu Shalat (Part 3)

Shalat -seperti yang telah kita ketahui bersama- adalah tiang agama. Begitu pentingnya posisi shalat dalam Islam, sehingga pemaknaan atasnya tidak pernah habis.

Dalam artikel “Yang Tersirat dari Waktu-waktu Shalat, Part 2”, sudah dipaparkan tentang asal-usul waktu shalat. Pada kesempatan kali ini, kami akan mencoba membahas pesan tersirat dibalik bilangan raka’at shalat yang berbeda-beda. Untuk lebih detailnya, kita simak paparan berikut.

Pesan Tersirat dibalik Bilangan Rakaat Shalat yang Berbeda-beda

Syekh Ibrahim al-Bajury dalam kitabnya yang berjudul Hasyiah al-Bajury ‘ala Ibn Qasim memaparkan hikmah dibalik bilangan rakaat shalat lima waktu yang berbeda-beda tersebut. Berikut adalah penjelasan beliau:

1). Shalat Subuh

Shalat Subuh hanya berjumlah dua rakaat karena rasa kantuk masih membekas dan tubuh masih lemas akibat bangun tidur. Oleh karena itulah, Allah Swt memberikan keringanan dengan adanya jumlah rakaat shalat Subuh yang hanya berjumlah dua rakaat.

2). Shalat Dzuhur dan Ashar

Shalat Dzuhur dan Ashar berjumlah empat rakaat karena pada waktu tersebut manusia sedang aktif-aktifnya. Hal tersebutlah yang menjadikan Allah Swt menetapkan jumlah rakaat Dzuhur dan Ashar menjadi empat rakaat.

3). Shalat Maghrib

Shalat Maghrib berjumlah tiga rakaat. Hal tersebut menjadi sebuah isyarat bahwa shalat maghrib tersebut merupakan witir-nya waktu siang.

4). Shalat Isya

Shalat Isya berjumlah empat rakaat. Hal tersebut karena shalat Isya menjadi penebus akan kekurangan shalat malam dari shalat yang dikerjakan pada siang hari. Mengingat pada malam hari shalat yang dilaksanakan hanya ada dua, sementara pada siang hari ada tiga.

Jika dilihat, jumlah rakaat shalat fardhu memiliki susunan dua (Subuh), tiga (Maghrib), dan empat (Dzuhur, Ashar dan Isya). Hal ini sesuai dengan jumlah sayap malaikat yakni dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat. Allah Swt berfirman dalam Surah al-Fathir: 1, yang berbunyi:

الحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَوَت وَالأَرْضِ جَاعِلِ المَلَئِكَة رُسُلاً أُولِىْ أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَثَ وَرُبَعَ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan), yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat.” (QS. al-Fathir: 1).

Adapun hikmah dibalik jumlah shalat fardhu ada lima rakaat adalah karena penyangga (pasak) dunia itu ada lima, diantaranya adalah Ka’bah. Sehingga Allah Swt menjadikan shalat fardhu menjadi lima sebagai penyangga (pasak) agama, sebagaimana kelima penyangga (pasak) tersebut yang menjadi penyanggga dunia.

Disamping itu, terkumpulnya shalat fardhu yang jumlahnya ada lima juga merupakan keistimewaan umat Nabi Muhammad Saw agar pahalanya lebih besar, dimana kelima shalat tersebut tidak terkumpul menjadi satu pada umat sebelumnya.

Mengingat ada suatu riwayat yang mengatakan bahwasannya shalat Subuh (hanya) teruntuk bagi Nabi Adam As, shalat Dzuhur untuk Nabi Daud As, shalat Ashar untuk Nabi Sulaiman As, shalat Maghrib untuk Nabi Ya’qub As, dan terakhir shalat Isya untuk Nabi Yunus As.

(Syekh Ibrahim al-Bajury, Hasyiah al-Bajury, [Dar al-Hadits, 2013 M], Juz. 1, Hal. 279).

Demikianlah, salahsatu dari berbagai pesan tersirat dibalik bilangan rakaat shalat yang berbeda-beda, tentunya masih banyak pesan tersirat yang tidak dapat dihidangkan pada kesempatan kali ini.

Akhir kata,

وإن تجــد عيبـا فسـدّ الخـللا ¤ فــجلّ من لا عيب فيه وعــلا

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *