Yang Tersirat dari Waktu-waktu Sholat (Part 1)

Sholat -seperti yang telah kita ketahui bersama- merupakan salah satu dari rukun Islam lima yang juga merupakan ‘bingkisan hadiah’ terindah untuk Nabi Muhammad Saw dan umatnya dalam peristiwa Isra’ mikraj. Dengan diperintahkannya shalat lima waktu bagi Nabi Muhammad saw dan umatnya pada malam Isra’ mikraj tersebut, dirasakan betapa pentingnya ibadah shalat harus ditegakkan oleh setiap pribadi Muslim.

Sholat sangatlah terikat dengan waktu. Hal tersebut sesuai dengan Firman-Nya dalam surah an-Nisa’: 103:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا {١٠٣}

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

Dengan ditentukannya waktu, sholat menjadi ibadah yang membutuhkan kedislipinan. Sholat dilakukan pada rentan waktu yang teratur sepanjang hari. Waktu pelaksanaannya sudah ditentukan menurut peredaran matahari. Waktu disini memiliki ketentuan khusus sehingga akan memunculkan beragam pertanyaan. Mengapa kelima waktu itu menjadi pilihan? apakah rahasia dibalik itu?.

Menurut mayoritas ulama, penentuan lima waktu dan jumlah rakaat adalah ta’abudiy (dogmatis). Namun, menurut sebagian ulama yang lain, ada beberapa pesan tersirat atau filosofi (hikmah) dalam penentuan waktu tersebut.

Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairomy, dalam kitabnya yang berjudul Hasyiah al-Bujairomy ‘ala al-Khotib, berusaha menguak makna tersirat dari waktu sholat. Menurut beliau, waktu-waktu sholat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt memiliki keistimewaan tersendiri. Waktu-waktu tersebut mengingatkan kita pada fase-fase kehidupan yang pasti dilalui oleh manusia.

1). Terbitnya fajar yang menjadi pertanda awal terbitnya matahari sebagai simbol waktu dilahirkan. Demikian ini diwajibkan sholat subuh.

2). Waktu naiknya matahari menggambarkan fase tumbuh kembangnya manusia.

3). Tahap berikutnya adalah bertenggernya matahari dipuncak cakrawala, ini menggambarkan kondisi manusia dikala muda, dimana ia dapat memuaskan segala hasratnya, seperti matahari yang terpuaskan karena dapat membagi secara sempurna pancaran sinarnya.

4). Waktu bergesernya matahari dari puncak langit adalah gambaran dimana setiap manusia pasti akan berubah menjadi tua dan lemah. Demikian ini adalah waktu asar.

5). Waktu matahari bergerak menuju ufuk barat. Demikian adalah waktu maghrib yang mengingatkan kita terhadap waktu kematian. Hancur dan musnahnya jasad dalam kubur adalah puncak dari hancurnya segala sesuatu yang bercirikan materi.

6). Demikian pula waktu hilangnya mega merah dari ufuk barat (waktu Isya). Ia menjadi perlambang bagi keberadaan matahari. Ketika matahari kehilangan sinarnya, berarti ia telah kehilangan eksistensinya. Karena pengakuan terhadap eksistensi matahari sangat tergantung pada sinarnya.

Matahari dikenal karena sinarnya, bukan karena materialnya yang berada jauh diluar angkasa. Begitu juga manusia, ketika jasadnya telah binasa, maka lambat laun ia akan dilupakan juga, apakah ia pernah ada atau tidak?.

Ketika waktu-waktu tersebut memiliki makna-makna yang tersirat, maka dibutuhkan sesuatu yang dapat mengingatkan makna-makna tersebut. Untuk mengingat dengan mudah, seseorang membutuhkan sebuah fenomena nyata. Suatu momen yang penuh makna tidak akan segera sirna jika dilihat dalam seremonial tertentu. Oleh karena itu, untuk mengingat makna tersirat waktu-waktu diatas, pengerjaan sholat diharapkan dapat menjadi pengingat siklus kehidupan manusia sehingga setiap manusia diharapkan sadar diri bahwa besok ia akan mengikuti ketentuan waktu.

(Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairomy, Hasyiah al-Bujairomy ala al-Khotib [Dar al-Hadits, 1437 H] Juz 2, Halaman 8-9)

Oleh karena itu, untuk mengingat makna tersirat waktu-waktu diatas, pengerjaan sholat diharapkan dapat menjadi pengingat siklus kehidupan manusia sehingga setiap manusia diharapkan sadar diri bahwa besok ia akan mengikuti ketentuan waktu.

Demikianlah salahsatu dari berbagai pesan tersirat dalam penentuan waktu-waktu sholat yang dapat kami hidangkan, tentunya masih banyak pesan tersirat yang tidak dapat dihidangkan pada kesempatan kali ini.

Akhir kata,

و إن تَجِد عَيْبًا فَسُدَّ الخَلَلَا ※ فَجَلَّ مَنْ لاَ عَيْبَ فِيْهِ وَ عَلَا

Wallahu a’lamu bishshowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *